JawaPos.com — Kondisi terbaru Firman Nugraha menjadi sorotan setelah insiden tendangan horor Muhammad Hilmi dalam laga Liga 4 PSSI Jawa Timur. Pemain Perseta 1970 Tulungagung itu kini dinyatakan sehat, meski masih merasakan nyeri dan memperlihatkan luka robek di dada akibat insiden brutal tersebut.
Firman sudah kembali bergabung bersama rekan setimnya usai mendapatkan perawatan medis intensif. Keadaan ini sedikit melegakan publik sepak bola Jawa Timur yang sempat dibuat cemas oleh tayangan keras di lapangan.
Insiden itu terjadi dalam pertandingan babak 32 besar Grup C Liga 4 PSSI Jatim antara Putra Jaya Kabupaten Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung.
Laga yang berlangsung di Stadion Bangkalan tersebut diwarnai momen mengerikan yang langsung menyedot perhatian penonton.
Dalam pertandingan itu, Putra Jaya tampil dengan jersei kuning, sedangkan Perseta mengenakan jersei hijau. Situasi berjalan normal hingga momen ketika Firman Nugraha berusaha merebut bola dari lawan.
Dari tayangan live streaming di kanal YouTube PSSI Jawa Timur, terlihat Muhammad Hilmi tiba-tiba melayangkan tendangan keras.
Tendangan tersebut secara jelas mengenai dada Firman dan membuat sang pemain terkapar di lapangan.
Benturan keras itu membuat Firman Nugraha langsung kesakitan dan tak mampu melanjutkan pertandingan. Tim medis segera masuk ke lapangan untuk memberikan pertolongan pertama.
Firman kemudian ditandu keluar lapangan dan dibawa menuju ambulans yang sudah disiagakan di sisi stadion. Proses evakuasi berlangsung cepat karena kondisi Firman sempat membuat semua pihak khawatir.
Beberapa saat setelah mendapatkan penanganan medis, Firman menunjukkan kondisi dadanya. Terlihat bekas pul sepatu bola yang meninggalkan luka robek kecil seperti tersayat di bagian dada.
Firman pun akhirnya memberikan komentar terkait kondisinya usai insiden tersebut.
“Sampai sekarang dada saya masih sakit, nyeri. Sudah (minta maaf) tapi agak tidak ada etikanya,” ujar Firman dikutip dari kanal media fanbase @emosijiwaku.com sembari menunjukkan dadanya yang robek-robek kecil seperti tersayat efek pul dari sepatu.
Pernyataan itu menggambarkan rasa sakit fisik sekaligus kekecewaan yang dirasakan Firman atas kejadian di lapangan. Meski begitu, ia memastikan kondisinya cukup stabil untuk kembali bersama tim.
Keputusan wasit dalam laga tersebut juga menjadi perhatian setelah insiden tendangan horor itu terjadi. Muhammad Hilmi dinilai layak mendapatkan kartu merah sesuai dengan sikap tegas wasit di lapangan.
Kartu merah tersebut dianggap sebagai langkah tepat untuk menjaga sportivitas dan keselamatan pemain. Banyak pihak menilai tindakan keras seperti itu tak memiliki tempat dalam sepak bola.
Insiden ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya fair play dalam setiap pertandingan. Kompetisi Liga 4 PSSI Jatim seharusnya menjadi ajang pembinaan, bukan panggung kekerasan.
Bagi Firman Nugraha, kejadian ini meninggalkan bekas fisik dan mental yang tidak ringan. Namun, semangatnya untuk kembali membela Perseta 1970 Tulungagung tetap terjaga.
Kondisi terbaru Firman Nugraha yang kini berangsur pulih memberi kabar baik bagi tim dan pendukungnya.
Luka robek di dada menjadi saksi kerasnya insiden, sekaligus pengingat agar sepak bola tetap menjunjung nilai kemanusiaan dan sportivitas.