← Beranda
Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan Minta Maaf soal Tuduhan "Layanan Seksual" ke Wasit Asing
Moch. Rizky Pratama PutraSenin, 10 Agustus 2026 | 15.12 WIB
KFA Korea Selatan minta maaf soal dugaan layanan seksual kepada wasit asing di 2011-2012. Kasus lama ini kembali jadi sorotan di sepak bola dunia. (Dok. Korea Times)

JawaPos.com — Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) meminta maaf setelah muncul laporan soal dugaan pemberian “layanan seksual” kepada wasit asing yang bertugas dalam pertandingan internasional pada 2011 dan 2012.

Dugaan tersebut mencuat setelah laporan JTBC mengungkap hasil investigasi Kementerian Olahraga Korea Selatan terkait agenda kualifikasi Piala Dunia 2014 dan Olimpiade London 2012.

Permintaan maaf KFA disampaikan pada Sabtu setelah berbagai persoalan lama kembali menjadi sorotan publik.

Selain laporan mengenai dugaan hiburan tidak pantas untuk wasit asing, KFA juga tengah menghadapi penyelidikan terpisah terkait proses penunjukan Hong Myung-bo sebagai pelatih tim nasional Korea Selatan.

Apa Dugaan Layanan Seksual yang Dilakukan KFA?

Laporan JTBC menyebut KFA memberikan hiburan tidak pantas kepada wasit asing dalam tujuh kesempatan antara Maret 2011 hingga Maret 2012.

Berdasarkan investigasi Kementerian Olahraga Korea Selatan pada 2016, agenda tersebut termasuk kunjungan ke panti pijat dengan biaya yang mencakup layanan seksual.

Dugaan itu terjadi ketika para wasit asing berada di Korea Selatan untuk menjalankan tugas pada pertandingan internasional.

Beberapa agenda bahkan berlangsung dalam periode kualifikasi Piala Dunia 2014 dan Olimpiade London 2012, sehingga kembali menjadi perhatian lebih dari satu dekade setelah peristiwa tersebut.

JTBC melaporkan temuan tersebut berdasarkan investigasi Kementerian Olahraga Korea Selatan yang dilakukan pada 2016.

Laporan itu menjadi dasar munculnya kembali tuduhan terhadap organisasi sepak bola Korea Selatan, meski banyak orang di internal KFA disebut tidak mengetahui kejadian tersebut.

KFA Minta Maaf atas Kasus yang Terjadi Lebih dari Satu Dekade Lalu

KFA menyampaikan permintaan maaf setelah laporan tersebut kembali mencuat bersamaan dengan sejumlah persoalan lain yang sedang menimpa organisasi.

Dalam pernyataan pada Sabtu (8/8/2026), KFA mengakui munculnya kekhawatiran publik terkait berbagai persoalan yang terungkap melalui sidang parlemen, penggeledahan dan penyitaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta laporan mengenai kejadian lama.

“Kami menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya karena telah menimbulkan kekhawatiran terkait berbagai isu yang melibatkan asosiasi, yang muncul dari sidang parlemen dan penggeledahan serta penyitaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan dari laporan tentang peristiwa lebih dari satu dekade lalu, yang bahkan banyak orang di dalam organisasi pun tidak mengetahuinya,” kata KFA dalam pernyataannya.

KFA juga menegaskan praktik semacam itu tidak sedang berlangsung di organisasi saat ini.

“Asosiasi tersebut menegaskan bahwa perilaku tidak pantas semacam ini, atau penggunaan kartu perusahaan untuk tujuan tersebut, sama sekali tidak terjadi saat ini,” tegas KFA.

Baca Juga: Main 489 Menit! Risto Mitrevski "Karyawan Tetap" Persebaya Surabaya di Piala Presiden 2026

Dugaan Lama Muncul Bersamaan dengan Penyelidikan Hong Myung-bo

Sorotan terhadap KFA tidak hanya berkaitan dengan dugaan layanan seksual kepada wasit asing pada 2011 dan 2012.

Organisasi tersebut juga menghadapi persoalan terpisah terkait proses penunjukan Hong Myung-bo sebagai pelatih tim nasional Korea Selatan.

Polisi Seoul menggeledah kantor KFA pada Kamis sebagai bagian dari penyelidikan terkait penunjukan Hong.

Pelatih tersebut kembali menangani tim nasional Korea Selatan pada 2024 setelah sebelumnya menjabat pada periode 2013 hingga 2014.

Penunjukan Hong Myung-bo sebelumnya sudah menuai sorotan karena KFA membatalkan proses pencarian pelatih asing yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Setelah proses tersebut dihentikan, KFA memilih Hong hanya melalui sebuah pertemuan singkat.

Kontroversi itu kembali mengemuka setelah perjalanan Korea Selatan di Piala Dunia berakhir mengecewakan.

Korea Selatan tersingkir pada fase grup, sehingga proses penunjukan pelatih serta tata kelola KFA kembali mendapat perhatian publik.

KFA kini menghadapi sorotan dari berbagai arah, mulai dari dugaan praktik tidak pantas yang terjadi lebih dari satu dekade lalu hingga penyelidikan terkait keputusan manajemen dalam memilih pelatih tim nasional.

KFA memang menyatakan praktik pemberian hiburan semacam itu tidak terjadi saat ini, tetapi laporan mengenai tujuh kejadian pada periode Maret 2011 hingga Maret 2012 membuat persoalan lama kembali menjadi perhatian.

Kasus tersebut juga memperlihatkan bagaimana keputusan dan tindakan organisasi sepak bola pada masa lalu masih dapat memengaruhi reputasi federasi bertahun-tahun kemudian.

Apalagi, dugaan itu berkaitan dengan pertandingan internasional dan melibatkan wasit asing yang datang ke Korea Selatan untuk menjalankan tugas profesional.

KFA belum memberikan tanggapan tambahan terkait detail tuduhan tersebut setelah laporan JTBC dipublikasikan.

Di sisi lain, penyelidikan polisi Seoul mengenai penunjukan Hong Myung-bo menunjukkan persoalan yang dihadapi federasi Korea Selatan saat ini tidak hanya berkaitan dengan kejadian masa lalu.

EDITOR: Hendra