JawaPos.com - Piala Dunia 2026 telah resmi berakhir dengan menampilkan timnas Spanyol sebagai raja sepak bola dunia yang tak terkalahkan dengan tujuh kemenangan dan satu kali hasil imbang. Ajang ini selalu menyajikan hal-hal tak terlupakan.
Di lapangan, para penggemar disuguhi penampilan kelas dunia dari pemain-pemain seperti Kylian Mbappe, Erling Haaland, Jude Bellingham, dan Lionel Messi yang tampil gemilang. Tersaji pula gol-gol yang tak terlupakan, pertandingan-pertandingan dramatis, serta kisah inspiratif dari tim-tim kuda hitam, negara-negara seperti Tanjung Verde dan Republik Demokratik Kongo berhasil memikat perhatian di panggung sepak bola terbesar ini.
Aksi di lapangan sungguh luar biasa, dan para penggemar dari seluruh penjuru dunia tak diragukan lagi turut berperan besar dalam menjadikan ajang ini begitu berkesan di luar lapangan hijau serta di tribun. Mulai dari lautan pendukung berbaju oranye yang membanjiri jalanan kota hingga perayaan khas Meksiko yang menyemarakkan berbagai kawasan, serta atmosfer stadion yang gemuruh, tarian ikonik, dan tradisi dari para pendukung yang telah memainkan peran besar dalam membentuk karakter Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Akuisisi Reggina Rampung, Claudio Lotito Bicara Target Besar dan Nasib Lazio
Setiap kelompok pendukung membawa warna tersendiri bagi turnamen ini, namun ada beberapa yang tampil lebih atraktif dibandingkan yang lain. Baik melalui semangat yang membara, kreativitas, keriuhan, maupun jumlah massa yang massif.
Para supporter setiap negara ini meninggalkan jejak yang tak terlupakan, tidak hanya pada turnamen musim panas ini, tetapi juga dalam sejarah Piala Dunia. Melansir dari Sports Illustrated, berikut adalah lima fans paling ikonik di Piala Dunia 2026
5. Argentina
Berbeda dengan beberapa negara lain dalam daftar ini, yang terkenal dengan pesta besar-besaran, perayaan yang terkonsep, dan pendukung yang mengubah kota menjadi arena festival, para penggemar Argentina mendapatkan tempat terutama karena semangat yang membara.
Baca Juga: Kericuhan Final Piala Dunia 2026, Roberto Ayala Terekam Diduga Memukul Dani Olmo di Tengah Lapangan
Entah karena beban sebagai juara bertahan, bermain di negara tetangga, kemungkinan bahwa ini bisa menjadi Piala Dunia terakhir bagi Lionel Messi, ataupun drama yang menyelimuti perjalanan di fase gugur, para supporter telah menciptakan beberapa momen paling emosional di turnamen ini.
Saat La Albiceleste berulang kali meraih kemenangan tipis di tengah tekanan sebagai juara bertahan, setiap gol terasa seperti pelepasan emosi yang telah tertahan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Ketika bola bersarang di gawang, terutama di saat-saat akhir pertandingan, batas antara tim dan penggemar seolah sirna. Para pemain berlari kencang ke arah sudut lapangan, pendukung merangsek maju, syal diayunkan di atas kepala, seruan "Vamos!" menggema di seluruh stadion.
Dan perayaan pun meledak dalam luapan kegembiraan yang luar biasa. Ucapan “Vamos!” selalu bertebaran di mana-mana memperlihatkan jajaran pendukung sang juara bertahan terus memberikan dukungan dengan semangat membara ala Amerika Selatan.
4. Meksiko
Dalam dunia sepak bola, batas antara semangat yang membara dan sikap berlebihan terkadang bisa menjadi samar, dan para pendukung Meksiko berada tepat di garis batas tersebut sepanjang Piala Dunia 2026 sebagai tuan rumah.
Saat bermain di kandang, para penggemar El Tri menciptakan salah satu atmosfer paling intens. Gemuruh suara di dalam stadion tak henti-hentinya terdengar, para pendukung mengubah jalannya pertandingan menjadi gelombang suara membuat Estadio Azteca tak sekadar terasa sebagai arena pertandingan.
Baca Juga: Kalah Dramatis dari Timnas Spanyol, Gestur Pemain Argentina di Podium Piala Dunia 2026 Picu Kritik
Di luar lapangan, perayaan yang terjadi pun tak kalah spektakuler. Kota-kota tuan rumah dipenuhi dengan nuansa warna khas Meksiko, pesta jalanan, hidangan tradisional, tarian, kembang api, dan perayaan yang berlangsung hingga larut malam.
Terutama saat tim Meksiko mengawali turnamen dengan empat kemenangan beruntun dan para penggemar mulai memimpikan kiprah bersejarah tim kesayangan mereka di ajang paling bergengsi antarnagara ini.
Dalam penampilan terbaik mereka, para penggemar Meksiko benar-benar menghadirkan elemen-elemen yang menjadikan Piala Dunia begitu Istimewa, warna-warni meriah, gemuruh suara, luapan emosi, serta semangat yang menunjukkan bahwa seluruh negeri berada di belakang tim asuhan Javier Aguirre.
3. Belanda
Suporter Belanda terkenal karena membawa warna, energi, dan keriuhan ke mana pun mereka pergi dan Piala Dunia 2026 pun tidak terkecuali sebagai ajang tampil jajaran penggemar pasukan Oranje.
Pada hari pertandingan, kota-kota tuan rumah berubah menjadi lautan warna oranye saat basis penggemar Belanda yang penuh semangat hadir dalam jumlah besar. Jalanan berubah menjadi arena perayaan terbuka, ribuan pendukung berkumpul berjam-jam sebelum kick-off untuk bernyanyi dan menari.
Suasana semakin meriah berkat penampilan DJ papan atas, termasuk Oliver Heldens yang tampil di atas bus tingkat di Kansas City, sementara para penggemar turut menyanyikan lagu kebangsaan tidak resmi tim tersebut, "Links Rechts" karya Snollebollekes.
Baca Juga: Usai Ujicoba Melawan Persebaya, Fariz Julinar Maurisal Berikan Motivasi untuk Skuad PSIS Semarang
Dengan tarian gerakan sederhana namun memikat itu, di mana para penggemar melompat dan bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti aba-aba dengan cepat dari lagu Links Rechts menjadi salah satu ritual suporter paling ikonik dalam turnamen ini.
Menganai warna yang di bawah, ke mana pun mata memandang, warna oranye mendominasi pemandangan, jalanan, alun-alun, area sekitar stadion, hingga tribun yang dipenuhi pendukung yang dengan bangga mengenakan warna khas Belanda tersebut.
Suasananya riuh, unik, dan sangat mencolok dari "Oranje Army" sekali lagi membuktikan mengapa mereka merupakan salah satu kelompok suporter sepak bola terbaik yang gemar bepergian mendukung timnya.
2. Skotlandia
Skotlandia mungkin tidak meninggalkan jejak prestasi yang signifikan di lapangan pada Piala Dunia 2026, karena tersingkir di babak fase grup. Namun "Tartan Army" memastikan kehadiran mereka tetap terasa lama setelahnya.
Baca Juga: 5 Alasan Argentina Layak Kalah dari Spanyol di Final Piala Dunia 2026
Selama kunjungan singkat mereka di Amerika Utara, para pendukung Skotlandia melakukan "pengambilalihan" suasana secara total, namun tetap dalam nuansa yang bersahabat dengan masyarakat tuan rumah.
Jalan-jalan dipenuhi dengan suara bagpipe serta pemandangan orang-orang yang mengenakan kilt, kaus kaki setinggi lutut, dan baret tradisional, para penggemar dengan bangga memamerkan warisan budaya mereka di turnamen ini dengan antusiasme yang menular.
Hal yang membuatnya semakin istimewa adalah sikap mereka. Dengan ekspektasi yang realistis mengenai peluang Skotlandia untuk melaju ke babak berikutnya, para pendukung datang tanpa beban atau tuntutan berlebih.
Baca Juga: Idap Kanker Stadium Empat, Eks Kapten Timnas Inggris Kevin Keegan Tutup Usia
Mereka hanya bertekad untuk menikmati setiap momen, mendukung Andrew Robertson dkk, dan mewakili negara mereka dengan cara terbaik. Lalu tak tertinggal pula kemeriahan pesta para suppoerternya.
Meskipun konsumsi alkohol berlebihan tentu bukan tujuan utama dari sebuah turnamen, skala perayaan yang dilakukan pendukung Skotlandia sungguh mencolok dan tak mungkin diabaikan di Amerika Serikat.
Beberapa tempat di Boston, kota basis Tartan Army untuk pertandingan-pertandingan awal fase grup, bahkan sampai ada laporan kota yang berada di wilayah timur Amerika ini kehabisan stok bir karena para penggemar memadati bar dan berpesta hingga larut malam.
Baca Juga: Klasemen Akhir Piala Dunia FIFA 2026: Peringkat Lengkap 48 Tim Peserta
Suasananya memang riuh, namun tetap penuh dengan keramahan dan keceriaan, sebuah cerminan sempurna dari semangat Skotlandia yang penuh warna dan terbuka dalam menyemarakkan turnamen ini
1. Norwegia
Norwegia mungkin menjadi salah satu kejutan terbesar turnamen ini di lapangan. Mereka melaju hingga perempat final berkat ketajaman Erling Haaland dalam mencetak gol serta gaya bermain tanpa rasa takut khas pelatih Ståle Solbakken.
Namun, para pendukungnyalah yang bisa dibilang sebagai bintang sesungguhnya. Aksi ikonik "Viking Row" (gerakan mendayung ala Viking) menjadi salah satu pemandangan paling khas di Piala Dunia ini.
Berbalut khas warna merah, putih, dan biru, lengkap dengan banyaknya topi Viking yang dikenakan, para penggemar Norwegia mengubah stadion menjadi lautan gerakan yang serempak.
Baca Juga: Konsistensi Jadi Kunci Stanford Menangi Dua Trofi dalam Dandim Padel Tournament
Mereka duduk bersama dan menirukan gerakan mendayung perahu panjang sembari meneriakkan kata "ro", yang dalam bahasa Norwegia berarti "mendayung" dengan penuh gairah.
Terinspirasi oleh warisan budaya Viking Norwegia, selebrasi ini dengan cepat menjadi fenomena global, muncul di berbagai penjuru Amerika Utara, termasuk di Times Square hingga di tanah air mereka sendiri.
Para pemain pun turut serta dalam aksi ini. Kapten Martin Odegaard dan Haaland memimpin ritual tersebut usai pertandingan, mereka berdiri di dekat drum raksasa sementara gerakan mendayung dan sorakan penonton kian mengeras mengikuti setiap dentuman drum.
Baca Juga: Ranking FIFA Terbaru: Timnas Spanyol Kembali ke Puncak Setelah Piala Dunia 2026
Hal ini tentu memunculkan perbandingan dengan aksi "Viking Thunder Clap" yang terkenal dari Islandia pada Euro 2016 dan Piala Dunia 2018, namun versi Norwegia ini menghadirkan perpaduan unik antara sejarah, humor, dan daya tarik para pemain bintangnya.