← Beranda
Alarm Bahaya Championship: Kerugian Fantastis Ancam Masa Depan Klub-Klub Inggris
Andre Rizal HanafiSenin, 6 April 2026 | 16.10 WIB
Ilustrasi neraca keuangan. Klub kasta kedua Inggris EFL Championship menghadapi tekanan besar dari sisi finansial. (Istimewa)

 

JawaPos.com–Kompetisi kasta kedua Inggris EFL Championship menghadapi tekanan besar dari sisi finansial. Dalam 10 tahun terakhir, total kerugian klub-klub di liga ini telah menembus angka £3 miliar atau sekitar Rp 60 triliun.

Angka tersebut mencerminkan kondisi yang tidak sehat, terutama karena sebagian besar klub terus bergantung pada suntikan dana dari pemilik. Tanpa dukungan tersebut, banyak klub diperkirakan tidak akan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Ketua Portsmouth FC Michael Eisner menyebut situasi ini sebagai ancaman serius bagi masa depan kompetisi. ”Tidak ada klub yang bisa bertahan lama dalam sistem seperti ini. Jika terus berlanjut, bencana bisa terjadi,” ujar dia dikutip dari bbc.com.

Baca Juga: Italia Terpuruk dari Juara Eropa ke Gagal Piala Dunia, Ini 7 Masalah yang Menghantui Gli Azzurri

Data terbaru menunjukkan hanya segelintir klub yang mampu mencatat keuntungan musim lalu. Stoke City menjadi salah satunya, itu pun setelah pemilik klub menghapus utang besar untuk menyeimbangkan laporan keuangan.

Masalah utama Championship terletak pada pengeluaran yang jauh melampaui pemasukan. Gaji pemain menjadi komponen terbesar, yang dalam banyak kasus bahkan sudah melebihi total pendapatan klub. Kondisi ini membuat klub berada dalam posisi rugi bahkan sebelum biaya operasional lain dihitung.

Pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire menilai fenomena ini sebagai budaya overspending yang sudah berlangsung lama. Keberlangsungan klub saat ini sangat bergantung pada pemilik kaya yang bersedia terus menyuntikkan dana.

Baca Juga: 10 Top Skor Piala Dunia Sepanjang Masa, Messi dan Mbappe Punya Peluang Cetak Sejarah

”Pada dasarnya mereka menyubsidi klub, dan itu tidak bisa berlangsung selamanya,” jelas Kieran Maguire.

Ambisi untuk promosi ke Premier League menjadi faktor utama di balik kondisi ini. Perbedaan pendapatan yang sangat besar membuat klub berlomba-lomba mengeluarkan dana besar demi peluang naik kasta.

Namun, strategi tersebut tidak selalu berbuah hasil. Leicester City menjadi contoh nyata, dengan kerugian mencapai lebih dari £300 juta dalam lima tahun terakhir. Alih-alih stabil, mereka justru menghadapi sanksi dan ancaman degradasi.

Situasi semakin rumit ketika beberapa klub mulai mengalami krisis serius. Sheffield Wednesday bahkan harus masuk masa administrasi setelah mengalami kerugian besar dalam waktu lama.

Jika tren ini terus berlanjut, banyak pihak khawatir Championship bisa menghadapi krisis sistemik. Ketika pemilik berhenti menyuntikkan dana, sebagian besar klub diperkirakan hanya mampu bertahan dalam waktu singkat.

Championship selama ini dikenal sebagai salah satu liga paling kompetitif di dunia. Namun di balik ketatnya persaingan, terdapat masalah finansial yang terus membesar dan belum menemukan solusi pasti. Tanpa perubahan regulasi atau pengelolaan keuangan yang lebih disiplin, ancaman kolaps bukan lagi sekadar wacana, melainkan risiko nyata yang bisa terjadi kapan saja.

Baca Juga: Jelang Lawan Persik, Persijap Percaya Diri usai Tren Positif di Empat Laga Terakhir

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah