← Beranda
Kisah Pilu Gabriel Batistuta: Pernah Ingin Amputasi Kaki hingga Sesali Diego Maradona 
Julio SipahutarKamis, 26 Maret 2026 | 23.12 WIB
Gabriel Batistuta dan Diego Maradona (Dok. X/@AtaqueFutbolero)

JawaPos.com - Gabriel Batistuta baru-baru ini duduk bersama mantan bek tim nasional Inggris, Rio Ferdinand, dalam sebuah wawancara mendalam yang menyentuh sisi kemanusiaan.

Dalam diskusi bertajuk 'Rio Ferdinand Presents' tersebut, pria yang akrab disapa "Batigol" ini tidak hanya mengenang kejayaan masa lalu, tetapi juga membuka luka lama yang belum sepenuhnya pulih, terutama saat nama Diego Maradona mencuat ke permukaan.

Dengan nada bicara yang berubah serius, Batistuta melontarkan kalimat yang menggetarkan.

Baca Juga: Playoff Piala Dunia 2026: Timnas Italia Hindari Hat-trick Gagal, Iraq Terkendala Logistik

"Dia meninggal dalam kesendirian. Tak ada seorang pun di sisinya. Dia wafat layaknya seekor anjing (yang terabaikan)," ungkap pencetak gol ulung tersebut, dikutip melalui laman Marca, Kamis (26/3).

Kesedihan Batistuta bukan tanpa alasan. Ia mengaku ada penyesalan yang ia simpan di dalam batinnya. Ia merasa seharusnya bisa melakukan lebih banyak hal untuk sang maestro.

"Saya pun menyalahkan diri sendiri. Seharusnya saya bisa menjadi salah satu sandarannya. Membantu seseorang saat mereka membutuhkan adalah sebuah pilihan yang seharusnya diambil," tuturnya.

Meski demikian, Batistuta juga menyoroti ekosistem di sekitar Maradona yang dinilainya terlalu permisif sejak sang megabintang masih muda. Menurutnya, kegagalan orang-orang terdekat untuk berkata "tidak" pada Maradona merupakan kesalahan fatal yang membentuk akhir tragis sang legenda.

Komparasi Karisma: Maradona dan Messi

Diskusi tersebut tak terelakkan merambah ke perdebatan abadi di jagat sepak bola Argentina: Lionel Messi atau Diego Maradona. Bagi Batistuta, keduanya berada di spektrum yang berbeda.

Baca Juga: Bek Arsenal Riccardo Calafiori Ungkap Kedekatan dengan Gennaro Gattuso Jelang Laga Krusial Timnas Italia di Piala Dunia 2026

"Messi mencetak seribu gol, sementara Maradona dua ratus. Messi adalah pribadi yang tenang, berbeda dengan Diego," jelasnya.

Namun, ia secara tegas menempatkan Maradona di posisi teratas dalam hal pengaruh di lapangan. Bagi Batistuta, karisma Maradona yang mampu mengendalikan atmosfer pertandingan, wasit, hingga lawan, adalah sesuatu yang belum tertandingi oleh Messi, meski secara teknis Messi mampu melakukan hal yang sama.

Ia juga menekankan bahwa status kehebatan seorang pemain tidak melulu ditentukan oleh trofi Piala Dunia, melainkan oleh konsistensi dan ambisi besar yang terus ditunjukkan, seperti yang kini masih diperlihatkan Messi di senja kariernya.

Harga Sebuah Kejayaan

Selain mengenang rivalitas klasik dengan Inggris yang kerap dibumbui sentimen Perang Malvinas, Batistuta juga berbagi kisah pilu tentang kehidupannya pascapensiun. Cedera pergelangan kaki yang kronis sempat membuatnya berada di titik nadir, hingga ia pernah meminta dokter untuk mengamputasi kakinya demi menghentikan rasa sakit yang tak tertahankan.

"Sepak bola telah memberikan segalanya bagi saya, namun olahraga ini juga telah merenggut banyak hal dari hidup saya," pungkas Batistuta.

Di akhir percakapan, ia memberikan pandangan mengenai deretan penyerang modern seperti Kylian Mbappé, Lautaro Martínez, dan Erling Haaland. Secara khusus, ia mengagumi insting gol alamiah Haaland yang menurutnya tidak bisa diajarkan di akademi mana pun.

Batistuta juga melihat potensi besar pada skuad Inggris untuk berbicara banyak di Piala Dunia mendatang, sebuah prediksi berani dari seorang pengamat yang tak pernah ragu menyuarakan kebenaran, sepahit apa pun itu.

EDITOR: Hendra