← Beranda
Kiper Muda Tottenham Antonin Kinsky Bisa Bernasib Sama Seperti Loris Karius
M Shofyan Dwi KurniawanSenin, 16 Maret 2026 | 02.55 WIB
Antonin Kinsky. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Karier Antonin Kinsky di Tottenham kini berada dalam sorotan setelah penampilan buruknya di Liga Champions melawan Atletico Madrid. 

Bagi sebagian pengamat, situasi yang dialami kiper muda asal Republik Ceko itu bahkan mengingatkan pada kisah Loris Karius—penjaga gawang yang kariernya berubah drastis setelah satu pertandingan besar.

Kinsky mendapatkan kesempatan langka ketika pelatih interim Tottenham, Igor Tudor, memutuskan menurunkannya sebagai starter pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Itu adalah kesempatan pertama bagi pemain berusia 22 tahun tersebut untuk tampil sejak Oktober.

Namun, kesempatan tersebut berubah menjadi mimpi buruk.

Pertandingan baru berjalan enam menit ketika Kinsky terpeleset dan memberikan peluang bagi Marcos Llorente untuk membuka keunggulan. Situasi semakin memburuk ketika Atletico mencetak gol kedua pada menit ke-14.

Hanya dua menit kemudian, kesalahan fatal lain terjadi. Tendangan Kinsky yang kurang akurat justru jatuh ke kaki Julian Alvarez, yang dengan mudah menggiring bola ke gawang kosong.

Melihat situasi tersebut, Igor Tudor mengambil keputusan cepat dengan menarik Kinsky keluar hanya 17 menit setelah pertandingan dimulai. Kiper utama Tottenham, Guglielmo Vicario, langsung dimasukkan sebagai pengganti.

Momen itu terasa sangat berat bagi Kinsky. Saat meninggalkan lapangan, ia mendapat pelukan dari Cristian Romero dan Kevin Danso sebelum berjalan langsung menuju terowongan stadion dengan wajah penuh kekecewaan.

Baca Juga: Siap-Siap Betualang di Planet Merah! Film 'Pelangi di Mars' Mengudara di Bioskop Mulai 18 Maret

Bayang-bayang kisah Loris Karius

Melansir Football London, banyak yang kemudian membandingkan situasi Kinsky dengan kisah Loris Karius di Liverpool.

Pada final Liga Champions 2018 melawan Real Madrid, Karius melakukan dua kesalahan fatal yang berujung gol lawan. Salah satunya bahkan datang dari tendangan salto spektakuler Gareth Bale.

Belakangan diketahui bahwa Karius mengalami gegar otak setelah bertabrakan dengan Sergio Ramos sebelum kesalahan-kesalahan tersebut terjadi. Namun kerusakan pada reputasinya sudah terlanjur terjadi.

Padahal sebelum final tersebut, Karius sebenarnya tampil cukup solid sepanjang musim dan mencatatkan 33 penampilan di semua kompetisi.

Setelah pertandingan di Kyiv, situasinya berubah drastis. Liverpool kemudian mendatangkan Alisson Becker, yang secara efektif mengakhiri peluang Karius untuk kembali menjadi kiper utama.

Meskipun sempat tampil dalam beberapa laga pramusim dan mendapat dukungan dari penggemar, Karius tidak pernah lagi bermain dalam pertandingan kompetitif untuk Liverpool. Ia kemudian menjalani masa peminjaman di Besiktas dan Union Berlin sebelum akhirnya meninggalkan klub secara permanen.

Baca Juga: Menang Telak atas Elche, Florentino Perez Puji Arda Guler dan Pemain Akademi Real Madrid

Jalan panjang menuju kebangkitan

Karier Karius sempat berlanjut di Newcastle, meskipun hanya sebagai kiper pilihan ketiga. Namun sebuah momen tak terduga memberinya kesempatan kembali tampil di final piala.

Pada final Piala Carabao 2023 melawan Manchester United, Newcastle terpaksa menurunkan Karius karena Nick Pope cedera dan Martin Dubravka tidak memenuhi syarat untuk bermain. Newcastle kalah 2-0, tetapi Karius tampil cukup baik dan tidak bersalah atas kedua gol tersebut.

Kini, di usia 32 tahun, kariernya perlahan menemukan stabilitas kembali setelah bergabung dengan Schalke pada Januari 2025. Ia bahkan sempat menjadi kiper utama tim yang sedang bersaing di papan atas Bundesliga 2 sebelum mengalami cedera punggung.

Baca Juga: Igor Tudor di Ambang Pemecatan, Laga Kontra Liverpool Jadi Penentu

Masa depan Kinsky masih terbuka

Meski situasi yang dialami Kinsky saat ini terasa berat, karier seorang kiper biasanya berlangsung lebih lama dibandingkan pemain di posisi lain.

Kesalahan di usia muda tidak selalu menjadi akhir dari segalanya. Banyak penjaga gawang yang justru berkembang setelah melewati masa-masa sulit seperti ini.

EDITOR: Banu Adikara