JawaPos.com - Separuh abad lebih telah dilewati pelukis Antaresa Hendita dalam menjalani kehidupan. Selama 58 tahun, berbagai fase telah dillalui: kebahagiaan, kehilangan, pencarian, hingga pergulatan batin yang diam-diam membentuk dirinya menjadi pribadi seperti hari ini.
Namun, di tengah perjalanan panjang tersebut, Hendita menemukan sebuah kesadaran baru. Sebuah pemahaman tentang dirinya, tentang luka-luka yang selama ini tersimpan, dan tentang bagaimana Tuhan bekerja dalam proses pemulihan hidupnya.
Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan pameran tunggal ketiganya bertajuk "Epiphany: A Testimony of Healing and Restoration" yang digelar di Art1 Space, Jakarta beberapa waktu lalu.
Dalam pameran tersebut, Hendita menghadirkan 58 karya lukis yang dikurasi Anna Sungkar. Jumlah yang bukan tanpa alasan. Angka tersebut merepresentasikan usia yang telah dijalaninya, sekaligus menjadi penanda perjalanan hidup yang penuh refleksi.
Dialog dengan Tuhan
Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, seluruh lukisan dalam pameran ini lahir dari proses yang sangat personal. Setiap sapuan kuas menjadi ruang dialog antara dirinya dengan masa lalu, dirinya dengan dirinya sendiri, dan dirinya dengan Tuhan.
"Ada banyak hal yang saya rasakan dan lalui dalam menyelesaikan seluruh lukisan ini. Saya banyak berbicara kepada diri sendiri dan juga Tuhan," ujar Hendita.
Melalui proses tersebut, Hendita menyadari bahwa ada bagian-bagian dalam dirinya yang selama ini belum benar-benar sembuh. Luka yang tidak selalu terlihat, tetapi tetap hadir dan memengaruhi perjalanan hidupnya.
Salah satu penemuan terbesar dalam proses refleksi itu adalah kerinduannya terhadap sosok ibu. Bagi Hendita, rumah bukan sekadar bangunan atau tempat untuk kembali. Rumah adalah sosok ibu. Sebuah ruang aman yang selalu ingin ia datangi kembali, bahkan ketika waktu telah berjalan begitu jauh.
"Saya sadar ada hal-hal yang perlu saya sembuhkan dalam diri, dan itu ada di ibu saya. Rumah bagi saya adalah ibu," ungkapnya.
Kesadaran tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk visual yang memenuhi ruang pamer. Warna-warna yang lembut maupun kontras, komposisi yang dinamis, hingga struktur visual yang kompleks menjadi representasi dari perjalanan batin yang tidak selalu mudah untuk dijalani.
Baca Juga: Agitasi Sebelum Invasi: 'Pluto' dan Alegori Politik di Balik Propaganda Perang
Perjalanan Pemulihan
Setiap karya dalam Epiphany bukan hanya sebuah lukisan, setiap kanvas merupakan catatan perjalanan menuju pemulihan. Sebuah kesaksian tentang bagaimana seseorang berdamai dengan masa lalu, menerima luka yang pernah ada, dan perlahan menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.
Tidak hanya menghadirkan karya seni rupa, Hendita juga meluncurkan sebuah buku berjudul Epiphany. Buku tersebut berisi kumpulan narasi dan refleksi personal yang menjadi pelengkap bagi karya-karya yang dipamerkan.
Melalui buku dan pameran ini, Hendita membagikan karya seni yang juga membuka ruang bagi publik untuk melihat proses penyembuhan yang dialami. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa pemulihan bukanlah tentang melupakan luka, melainkan memahami keberadaannya dan menerima peran Tuhan dalam setiap prosesnya.
Pada akhirnya, Epiphany menjadi dokumentasi perjalanan hidup seorang perempuan yang, setelah puluhan tahun berjalan, akhirnya menemukan makna baru tentang rumah, tentang dirinya sendiri, dan tentang bagaimana Tuhan selalu hadir dalam proses pembenahan kembali hidup manusia.