Ada Api di Punggungnya
Engkau menggendong waktu dengan senyum
merah dan hitam tak bisa mengusikmu
duka ada di punggungmu
api ada di panggungmu
anak kecil yang menangis
kemudian terdiam karena hangat sarangmu
rambut berbalut kain lusuh
doamu bertabur cemas gemuruh
Entah esok mendung atau cerah
tetaplah tersenyum merekah
esok adalah pergulatan doa dan waktu
sepasang mata anakmu itu
adalah harapan yang sabar menunggu
2024
Baca Juga: Sajak: Kehangatan-Kehangatan yang Berlayar dari Pelabuhan Tanjung Priok
Memunguti Rumput Kemarau
Orang-orang memunguti harapan hidup
Alang-alang dan rumput diam terasingkan
ketika senja hampir terbenam
tiga orang bercengkerama
membicarakan matahari yang ditelan waktu
Pohon-pohon menyisakan bayangan
kicau burung mengabarkan kekeringan
tak ada hujan yang singgah
tak ada sungai dan impian
jauh dari kesombongan kota
Mereka berdoa agar langit berbaik hati
hidup sederhana
makan sehari sekali
tak pernah mengutuki nasibnya sendiri
bergembira walau menimang sepi.
2024
Perawan Penunggu Hujan
Ia perempuan yang melipat waktu
di kepalanya ada kain putih
dalam jiwanya ada kain merah
Kerudung pemberian lelakinya
yang pernah singgah menitipkan jiwa
ia masih membawa loyang berisi hujan
memasak untuk dia yang akan datang
membawa separuh bara api hidupnya
Hari ini sudah sore
yang ditunggu belum juga datang
perempuan yang masih melipat waktu
duduk termenung di bangku yang sama
ketika malam perpisahan tiba
Ia memegang tangannya
tak membiarkan lelaki lain mencumbunya
tatapan matanya meminjam masa depan
dari doa dan harapan
meski dari belakangnya diintai malam
2024
BIODATA
Fileski Tanjung Walidha adalah penulis, musikus, penyair, dan pendidik di bidang seni budaya yang tinggal di Madiun.