← Beranda
Kebiasaan Umbi Keladi
Tjak S. ParlantMinggu, 9 Juli 2023 | 17.28 WIB
ILUSTRASI

Kebiasaan Umbi Keladi

Kepada dingin tangan-tangan perempuan,

ladang berawa ini telah dipertaruhkan

–sepetak onaja dengan semak gulma,

juga samar-samar bahaya malaria. Maka

tak ada jentik yang akan hidup lebih lama

 

di udik, sebab tunas-tunas telah ditanam dan nasib

telah diserahkan kepada kebaikan tanah becek:

takdir yang menyempurnakan kelahiran umbi gettek

–umbi keladi padat-berisi dan menguarkan

aroma musim panen di dusun jauh.

 

Tapi ini Mapaddegat, beberapa kilometer

ke bandar kecil Tuapeijat, tempat para pengepul

menunggu jadwal keberangkatan dengan masygul:

 

’’Kami takut bila kapal tak melaut. Umur umbi

hanya beberapa hari, sebelum terangkut ke seberang

dan nasib diteruskan ke timbang para pedagang.”

 

Tapi perihal sial tak akan selamanya. Dan kepada

perempuanlah keberuntungan bisa dipasrahkan:

ke tangan hangat mereka segala umbi akan kembali,

setelah periuk bertemu panas api, setelah tanak

bertemu tumbuk dan baki, setelah kelapa diparut

 

dan gurih-manisnya lengket pada kepal-kepal subbett

–menu makan sehari-hari, kebiasaan lampau

sebelum padi dicanangkan di sekujur pulau.

 

Ampenan, 12 Maret 2023

---

Sagu Panggang Menjelang Petang

Sebatang bambu telah dirambah dari ladang,

lalu sepasang tangan dengan lekas

menebas seruas demi seruas.

 

Maka demi lembut sagu yang ditampung ibu

dan demi jarak lapar yang membentang

ke rembang petang, tabung-tabung bambu

mesti lekas terisi. Ruas-ruas bumbung menampung

tepung dan siap digantang pada panas diang.

 

Maka demi sagu panggang yang matang sempurna,

telah dipetik daun-daun singkong muda,

udang-udang telah lama ditangguk dari ceruk sungai

–udang-udang bungkuk yang lekas berwarna

jingga dalam kuah gulai di pelosok Ugai.

 

Maka demi terapi lidah yang kerap terpapar

bahan pengawet dan penyedap rasa, ruas-ruas bambu

telah dibelah dan gumpal-gumpal obuk sagu

terasa lumer di lidah sasareu, seseorang

yang kemudian terus bertanya-tanya:

 

’’Rasa apa yang paling gampang dikenang sebelum nasi?

 

Sebelum beras datang dari seberang, sebelum

karung-karung beras menggantikan tappri

–wadah dari jalinan daun-daun sagu

yang tabah menjaga sari pati?”

 

Ampenan, 8 Maret 2023

---

Semadi Kumbang Sagu

Sebatang sagu telah ditebang,

dan sepotong yang paling muda

disisihkan untuk pekerjaan selanjutnya:

 

sarang bagi kumbang warna terakota

–hama penunggu paling setia, penghuni

paling makmur liang-liang empulur batang

yang membusuk di lembap ladang.

 

Kelak sebelum ulat bertumbuh sayap dan tanah

mengambil kembali apa-apa yang telah mati,

akan ada yang datang sekali lagi

dengan kegembiraan musim panen,

 

dengan kegembiraan musim berburu.

 

Dan kapak pun segera membelah batang,

akhir semadi para kumbang, inang batra sagu

–ulat gemuk warna krem susu

yang menebalkan rasa lemak basah

 

gurih-asam di lidah.

 

Ampenan, 14 Maret 2023

---

Tjak S. Parlan

Lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Buku kumpulan puisinya, Cinta Tak Pernah Fanatik (Rua Aksara, 2021), masuk 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021. Saat ini bermukim di Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

EDITOR: Ilham Safutra