Kebiasaan Umbi Keladi
Kepada dingin tangan-tangan perempuan,
ladang berawa ini telah dipertaruhkan
–sepetak onaja dengan semak gulma,
juga samar-samar bahaya malaria. Maka
tak ada jentik yang akan hidup lebih lama
di udik, sebab tunas-tunas telah ditanam dan nasib
telah diserahkan kepada kebaikan tanah becek:
takdir yang menyempurnakan kelahiran umbi gettek
–umbi keladi padat-berisi dan menguarkan
aroma musim panen di dusun jauh.
Tapi ini Mapaddegat, beberapa kilometer
ke bandar kecil Tuapeijat, tempat para pengepul
menunggu jadwal keberangkatan dengan masygul:
’’Kami takut bila kapal tak melaut. Umur umbi
hanya beberapa hari, sebelum terangkut ke seberang
dan nasib diteruskan ke timbang para pedagang.”
Tapi perihal sial tak akan selamanya. Dan kepada
perempuanlah keberuntungan bisa dipasrahkan:
ke tangan hangat mereka segala umbi akan kembali,
setelah periuk bertemu panas api, setelah tanak
bertemu tumbuk dan baki, setelah kelapa diparut
dan gurih-manisnya lengket pada kepal-kepal subbett
–menu makan sehari-hari, kebiasaan lampau
sebelum padi dicanangkan di sekujur pulau.
Ampenan, 12 Maret 2023
---
Sagu Panggang Menjelang Petang
Sebatang bambu telah dirambah dari ladang,
lalu sepasang tangan dengan lekas
menebas seruas demi seruas.
Maka demi lembut sagu yang ditampung ibu
dan demi jarak lapar yang membentang
ke rembang petang, tabung-tabung bambu
mesti lekas terisi. Ruas-ruas bumbung menampung
tepung dan siap digantang pada panas diang.
Maka demi sagu panggang yang matang sempurna,
telah dipetik daun-daun singkong muda,
udang-udang telah lama ditangguk dari ceruk sungai
–udang-udang bungkuk yang lekas berwarna
jingga dalam kuah gulai di pelosok Ugai.
Maka demi terapi lidah yang kerap terpapar
bahan pengawet dan penyedap rasa, ruas-ruas bambu
telah dibelah dan gumpal-gumpal obuk sagu
terasa lumer di lidah sasareu, seseorang
yang kemudian terus bertanya-tanya:
’’Rasa apa yang paling gampang dikenang sebelum nasi?
Sebelum beras datang dari seberang, sebelum
karung-karung beras menggantikan tappri
–wadah dari jalinan daun-daun sagu
yang tabah menjaga sari pati?”
Ampenan, 8 Maret 2023
---
Semadi Kumbang Sagu
Sebatang sagu telah ditebang,
dan sepotong yang paling muda
disisihkan untuk pekerjaan selanjutnya:
sarang bagi kumbang warna terakota
–hama penunggu paling setia, penghuni
paling makmur liang-liang empulur batang
yang membusuk di lembap ladang.
Kelak sebelum ulat bertumbuh sayap dan tanah
mengambil kembali apa-apa yang telah mati,
akan ada yang datang sekali lagi
dengan kegembiraan musim panen,
dengan kegembiraan musim berburu.
Dan kapak pun segera membelah batang,
akhir semadi para kumbang, inang batra sagu
–ulat gemuk warna krem susu
yang menebalkan rasa lemak basah
gurih-asam di lidah.
Ampenan, 14 Maret 2023
---
Tjak S. Parlan
Lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Buku kumpulan puisinya, Cinta Tak Pernah Fanatik (Rua Aksara, 2021), masuk 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021. Saat ini bermukim di Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.