← Beranda
DPR Sebut Perang Timur Tengah Ancam Perekonomian: Getarannya Sampai ke Dapur Rumah
Muhammad RidwanKamis, 9 April 2026 | 18.53 WIB
Tim penyelamat Israel mencari orang hilang di tengah reruntuhan bangunan perumahan sehari setelah dihantam rudal Iran di Haifa, Israel, Senin, 6 April 2026. (Foto AP/Ariel Schalit)

JawaPos.com - Konflik di Timur Tengah kini semakin menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk parlemen Indonesia.

Anggota Komisi II DPR Azis Subekti menilai dampak perang tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah menjalar ke seluruh dunia.

Ia menegaskan, kondisi global saat ini berada dalam situasi yang rapuh akibat eskalasi konflik yang terus meluas.

“Dunia hari ini seperti berjalan di tepi jurang yang tidak terlihat. Dentuman rudal, ledakan drone penyerang mungkin hanya terdengar di Timur Tengah, tetapi getarannya sampai ke dapur-dapur rumah tangga di seluruh dunia,” kata Azis kepada wartawan, Kamis (9/4).

Baca Juga: Gara-gara Serangan Israel ke Lebanon, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

“Kita hidup di zaman ketika satu keputusan militer di satu kawasan bisa mengubah harga beras, ongkos transportasi, bahkan harapan hidup seseorang di tempat yang jauh,“ lanjutnya.

Ia mengatakan, masyarakat global kini dipaksa menerima realitas yang seharusnya tidak pernah dianggap normal, yakni perang yang terus berulang.

Menurutnya, pendekatan emosional harus digantikan dengan analisis berbasis data agar publik memahami betapa besar dampak ekonomi yang ditimbulkan.

“Dan di tengah semua itu, kita dipaksa menerima sesuatu yang seharusnya tidak pernah menjadi normal, perang," tegasnya.

Legislator Fraksi Partai Gerindra itu memaparkan, dalam konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia, biaya perang meningkat secara drastis dalam waktu singkat.

Baca Juga: Gencatan Senjata Baru Hitungan Jam, Israel sudah Bombardir Lebanon: Ratusan Tewas, Perdamaian Terancam

Ia menyebutkan, hanya dalam beberapa hari pertama, pengeluaran militer telah mencapai angka yang sangat besar dan berpotensi terus membengkak.

Dia mencontohkan konflik antara Amerika–Israel melawan Iran yang kini telah melebar secara regional. Biaya perang tersebut bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal. 

“Dalam 6 hari pertama saja, Amerika telah menghabiskan lebih dari USD 11–12 miliar. Itu berarti hampir USD 1,8 miliar per hari, atau sekitar USD 1,3 juta per menit. Dan itu baru permulaan,” jelasnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa jika konflik berkepanjangan, total biaya bisa mencapai angka yang sulit diterima secara moral.

Menurut Azis, dana sebesar itu seharusnya bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan global, bukan justru memperparah krisis kemanusiaan.

Baca Juga: AS Tegaskan Serangan ke Lebanon Tidak Termasuk Kesepakatan Gencatan Senjata dengan Iran

“Beberapa estimasi menunjukkan total biaya bisa menembus USD 1 triliun jika perang berkepanjangan. Angka yang tidak lagi sekadar besar, tetapi absurd secara moral,” tegas Azis.

Ia pun menguraikan bagaimana angka-angka tersebut seharusnya dapat dialokasikan untuk kepentingan yang lebih produktif, seperti layanan kesehatan dan pengentasan kemiskinan. Namun kenyataannya, dana tersebut justru habis untuk kebutuhan militer yang destruktif.

“USD 12 miliar bisa membiayai layanan kesehatan bagi lebih dari 1,3 juta orang selama setahun, ratusan miliar dolar bisa menghapus kemiskinan ekstrem di banyak negara, triliunan dolar bisa membangun peradaban, bukan menghancurkannya. Tetapi hari ini dibakar secara harfiah,” ungkapnya.

Selain kerugian finansial, Azis juga menyoroti dampak jangka panjang terhadap ekonomi global, termasuk potensi hilangnya output ekonomi dan meningkatnya angka kemiskinan akibat terganggunya stabilitas kawasan.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan konflik ini dapat menghapus USD 194 miliar output ekonomi di kawasan dan mendorong jutaan orang ke dalam kemiskinan, dengan jutaan pekerjaan hilang,” tuturnya.

Baca Juga: Iran ke AS: Gencatan Senjata, Atau Perang Berkelanjutan Melalui Israel!

Menurutnya, ancaman terhadap jalur distribusi energi dunia juga menjadi faktor utama yang memperburuk situasi.

Ketegangan di jalur strategis seperti Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga energi dan inflasi global.

“Selat Hormuz, urat nadi energi dunia terancam. Hampir 20 persen pasokan minyak global terganggu. Harga energi melonjak. Inflasi menjalar. Negara-negara jauh dari medan perang ikut membayar harga yang tidak mereka pilih,” jelas Azis.

Ia menegaskan bahwa perang modern tidak lagi terbatas pada wilayah konflik, melainkan berdampak luas terhadap kehidupan manusia secara global, termasuk masyarakat sipil yang tidak terlibat langsung.

Azis juga mengingatkan bahwa dunia harus mulai mempertanyakan arah yang diambil dalam menyelesaikan konflik.

Baca Juga: Gencatan Senjata AS dan Iran, Rusia: Siapa yang Menang? Akal Sehat

Ia menilai penghentian perang bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan rasional demi masa depan bersama.

“Perang harus dihentikan. Bukan karena kita lemah, tetapi karena kita cukup sadar untuk tahu bahwa tidak ada kemenangan sejati di atas penderitaan yang terus diperluas,” pungkasnya.

 

EDITOR: Bayu Putra