← Beranda
Ironi Piala Dunia 2026: Timnas Belanda Disingkirkan Maroko oleh Tiga Pemain yang Dibesarkan di Negri Kincir Angin
Andre Rizal HanafiRabu, 1 Juli 2026 | 05.12 WIB
Timnas Maroko melaju ke bebek 16 besar piala dunia usai menyingkirkan timnas Belanda. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Kekalahan timnas Belanda dari Maroko pada babak perempat final Piala Dunia 2026 menyisakan cerita yang lebih besar daripada sekadar hasil adu penalti. Tim Oranje harus mengakhiri perjalanan mereka setelah kalah dalam drama tos-tosan.

Sorotan publik justru tertuju pada sejumlah pemain Maroko yang punya hubungan erat dengan Belanda. Di balik keberhasilan Singa Atlas melangkah ke semifinal, terdapat tiga nama yang lahir dan tumbuh besar di Negeri Kincir Angin, yakni Noussair Mazraoui, Sofyan Amrabat, dan Anass Salah-Eddine.

Ketiganya menjadi bagian penting dalam skuad Maroko yang sukses menyingkirkan negara tempat mereka dibesarkan. Fenomena ini kembali memunculkan perbincangan mengenai sistem pembinaan pemain di Belanda.

Baca Juga: Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion

Negeri tersebut dikenal sebagai salah satu penghasil talenta terbaik di Eropa. Namun tidak sedikit pemain berdarah imigran yang pada akhirnya memilih membela negara asal keluarga mereka di level internasional.

Noussair Mazraoui merupakan produk akademi Belanda yang berkembang hingga menjadi salah satu bek terbaik. Sofyan Amrabat juga menghabiskan masa kecil dan pendidikan sepak bolanya di Belanda sebelum memilih memperkuat Maroko. Sementara itu, Anass Salah-Eddine memiliki kisah yang lebih menarik.

Bek muda tersebut pernah menjadi langganan tim nasional Belanda kelompok umur, mulai dari U-15 hingga U-21. Namun ketika kesempatan membela tim senior datang, dia memutuskan berganti federasi dan menerima panggilan Maroko.

Baca Juga: Prediksi Susunan Pemain Timnas Inggris vs RD Kongo di 32 Besar Piala Dunia 2026: Noni Madueke Siap Beri yang Terbaik

Keputusan itu kini terasa sangat berarti setelah ia ikut membawa Singa Atlas menyingkirkan Belanda di panggung terbesar sepak bola dunia. roni semakin terasa karena mantan bintang Belanda Ibrahim Afellay juga memberikan dukungan kepada Maroko.

Afellay yang memiliki darah Maroko memang sejak lama tidak menutupi kedekatan dengan negara asal keluarganya. Sikap tersebut kembali menjadi bahan pembicaraan setelah kemenangan Maroko atas Belanda.

Situasi ini menunjukkan betapa besar pengaruh diaspora dalam perkembangan sepak bola modern. Banyak pemain tumbuh di satu negara dengan fasilitas pembinaan yang baik, tetapi tetap memiliki ikatan emosional dengan tanah kelahiran orang tua mereka.

Ketika aturan FIFA memberikan kebebasan memilih tim nasional, keputusan tersebut menjadi hak setiap pemain. Bagi Belanda, kekalahan ini menghadirkan ironi yang sulit diabaikan. Mereka bukan hanya gagal melangkah ke semifinal, tetapi juga disingkirkan oleh pemain-pemain yang lahir dari sistem pembinaan sepak bola mereka sendiri.

Maroko pun kembali membuktikan kekuatan generasi emasnya. Perpaduan pemain lokal dan diaspora membuat mereka semakin kompetitif di level dunia. Kisah ini menjadi bukti bahwa investasi pada pembinaan pemain dapat memberi dampak besar, meski hasil akhirnya tidak selalu dinikmati oleh negara yang membesarkan mereka.

Pada akhirnya, laga Belanda kontra Maroko bukan sekadar pertandingan perempat final. Duel tersebut menjadi gambaran bagaimana globalisasi dan diaspora telah mengubah wajah sepak bola internasional, menghadirkan ironi ketika sebuah negara harus tersingkir oleh talenta yang pernah tumbuh di lingkungannya sendiri.

Baca Juga: Yan Diomande Buka Suara soal Transfer meski Ditahan RB Leipzig: Saya Berharap untuk Pergi

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah