← Beranda
Airlangga Pribadi Dimakamkan di Pondok Ranggon Jaktim, Haris Azhar Kenang Pemikirannya
Syahrul YunizarKamis, 10 September 2026 | 20.06 WIB
Pemakaman Airlangga Pribadi Kusman di TPU Pondok Ranggon, Jaktim, pada Kamis (10/9). (Sahrul Yunizar/JawaPos.com)

JawaPos.com - Dosen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi Kusman, dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur (Jaktim), pada Kamis (10/9).

Aktivis HAM Haris Azhar yang hadir di pemakaman Angga, sapaan Airlangga, mengenang sahabatnya itu sebagai pemikir yang sangat antusias terhadap ilmu dan teori politik.

”Airlangga itu orang baik, cenderung polos, maksudnya orangnya apa adanya. Pintar, antusias sama ilmu politik, teori-teori politik, pemikiran-pemikiran politik. Punya concern yang besar terhadap gerakan sipil, gerakan rakyat. Itu satu hal yang kalau saya ketemu (Angga) diskusinya itu,” kata Haris kepada JawaPos.com.

Belakangan ini, Haris mengaku sering berjumpa dengan Angga. Sebab, pria kelahiran Jombang itu kerap datang ke kantornya di Jakarta.

Baca Juga: Dosen Unair Airlangga Pribadi Wafat saat Menulis Riset tentang Soekarno

Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, mereka membahas beberapa hal. Termasuk soal hukum dan berbagai topik lainnya.

”Kedua, beberapa bulan lalu dia sering ke kantor saya, ada urusan perkara hukum yang dia minta tolong pendapat, ngasih masukan. Jadi, ada beberapa kali datang ke kantor, diskusi. Tapi, diskusinya nggak cuma ngomongin kasus, ngomongin macam-macam,” ucap Haris.

Karena itu, pria yang juga dikenal sebagai pengacara itu mengaku kaget ketika mendapat kabar Angga telah meninggal dunia pada Rabu siang (9/9).

Angga mengembuskan napas terakhir di RSUD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat (Jakpus).

Seharusnya, hari ini, dia masih beraktivitas dan dijadwalkan menjadi salah seorang pembicara dalam acara bedah buku di UIN Syarif Hidayatullah.

Baca Juga: Airlangga Pribadi Wafat, Unair Kehilangan Akademisi Berdedikasi

”Kaget ya dengar Angga meninggal. Kaget banget, kemarin yang ngabarin saya Rocky Gerung. Cukup kehilangan, tapi sekaligus bangga. Sudah 2 kali saya bicara ke bapaknya (Angga), bapaknya mesti bangga,” ucap Haris.

Menurut Haris, keluarga Angga patut bangga karena mendiang meninggal dunia dengan mewariskan ilmu pengetahuan.

Pemikiran-pemikiran Angga yang dibagikan dan disampaikan dalam banyak kesempatan adalah warisan yang luar biasa.

Termasuk buku-bukunya yang akan tetap ada dan membersamai masyarakat Indonesia.

Menurut Haris, karya terbaik seorang manusia adalah berpikir, dan Angga menuangkan alam pikirnya itu dalam sebuah tulisan yang baru-baru ini diterbitkan dalam bukunya. 

Baca Juga: Rekam Jejak Airlangga Pribadi, Pengamat Politik Unair yang Wafat di RSPAD

”Di tengah bukunya lagi gencar di-launching dia meninggal, dia kasih pesan buat kita semua. Ini saya bikin catatan dari olah pikiran, dan dia pamit. Saya pikir kita patut bangga mengenal Angga, punya Angga, dan kita akan mengenang Angga,” pungkas Haris.

Karier akademik Angga di Unair dimulai sejak 2004, dengan menjadi dosen ilmu politik di FISIP. 

Selain mengajar di FISIP Unair, Airlangga juga dipercaya memimpin Centre for Governance and Citizenship Studies (CGCS), serta mengemban amanat sebagai Kepala Pascasarjana Departemen Politik FISIP Unair.

Di luar ruang kuliah, Airlangga dikenal luas sebagai pengamat dan analis politik nasional.

Bidang keahlian dan minat risetnya mencakup ekonomi-politik kritis, politik lokal, demokratisasi, gerakan sosial, hingga relasi antara intelektual dan kekuasaan.

Baca Juga: Profil Airlangga Pribadi Kusman, Pembedah Dinamika Demokrasi Indonesia

Dia juga aktif menyumbangkan pemikirannya di tingkat pemerintahan dan lembaga negara.

Airlangga pernah bertugas sebagai Staf Ahli Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

ia juga pernah menjadi anggota Tim Seleksi Calon Anggota KPU dan Bawaslu periode 2022–2027.

Sepanjang perjalanan intelektualnya, Airlangga menulis sejumlah karya penting yang membedah dinamika demokrasi dan pemikiran kebangsaan Indonesia.

Misalnya The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia's Post-Authoritarian Era (2019).

Baca Juga: Dosen dan Pakar Politik Unair Airlangga Pribadi Kusman Berpulang di Jakarta

Buku yang diterbitkan oleh Palgrave Macmillan itu mengulas transformasi struktur kekuasaan pasca Orde Baru serta posisi para intelektual dalam pertarungan politik.

Buku berikutnya berjudul Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia (2022).

Buku ini mengkaji pemikiran Soekarno terkait Marhaenisme, sosio-nasionalisme, dan sosio-demokrasi dalam konteks keadilan sosial.

Buku Angga yang terbaru berjudul Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z (2026). Karya terbaru itu ditulis bersama Rocky Gerung. 

Buku ini mengetengahkan Marhaenisme sebagai pisau analisis kritis untuk membaca tantangan ekonomi digital, kapitalisme platform, dan ketimpangan sosial yang dihadapi generasi muda.

Baca Juga: Usai Lulus Spesialis Anestesi FK UNAIR, Dokter Apolonia Kembali Mengabdi di NTT

EDITOR: Bayu Putra