JawaPos.com – Kepergian Dosen FISIP Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi Kusman di usia 49 tahun, berlangsung begitu mendadak.
Saat tumbang menjelang wafat, Angga, sapaan akrabnya, tengah menulis artikel riset tentang Soekarno di kedai kopi di Jalan Sabang, Jakarta.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria melalui tulisannya.
Ia menuturkan, Angga tiba di Jakarta dari Surabaya menggunakan kereta api dan turun di Stasiun Gambir. Karena hari masih pagi, ia beranjak menuju kedai kopi tersebut.
Baca Juga: Airlangga Pribadi Wafat, Unair Kehilangan Akademisi Berdedikasi
Di situ, Angga memesan kopi dan kudapan untuk sarapan. Sembari menunggu sang istri, Lia, yang sedang mengantarkan anak mereka sekolah di Pamulang, Angga membuka laptop.
Ia melanjutkan menulis makalah tentang Soekarno. Tulisan tersebut merupakan artikel riset yang dikerjakannya bersama Vijay Prashad, sejarawan dan intelektual asal India.
Saat sedang menulis, Angga tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. Tubuhnya terlihat sempoyongan sebelum akhirnya terjatuh.
“Laptopnya masih terbuka ketika Angga bangun dari tempat duduknya di kedai itu, dan lalu berdiri sempoyongan, dan akhirnya jatuh,” ujar Didik, sahabat Angga di Penerbit GDN, seperti dikutip dari tulisan Nezar.
Angga kemudian ditemukan penjaga kedai dalam kondisi tergeletak di lantai. Penjaga kedai juga menghubungi pihak keluarga setelah mengetahui kondisi Angga.
Baca Juga: Rekam Jejak Airlangga Pribadi, Pengamat Politik Unair yang Wafat di RSPAD
Ambulans kemudian datang dan membawa Angga ke unit gawat darurat RSPAD Gatot Subroto.
Menurut Didik, kondisi Angga saat berada di ambulans sudah sangat kritis. Tekanan darahnya mencapai 240 dan terus meningkat ketika berada di ruang emergensi. Sementara gula darahnya mencapai 400.
“Angga dalam keadaan koma sejak dia dibawa ke RS,” kata Didik.
Sekitar pukul 13.35, Angga mengalami henti jantung. Tim dokter kemudian berupaya mengembalikan detak jantungnya. Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Angga dinyatakan meninggal dunia.
Jejak Intelektual Airlangga Pribadi Kusman
Kepergian Angga menjadi kehilangan bagi dunia akademik, khususnya Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Baca Juga: Profil Airlangga Pribadi Kusman, Pembedah Dinamika Demokrasi Indonesia
Ia dikenal sebagai akademisi yang konsisten mengkaji persoalan politik, demokrasi, dan ekonomi politik Indonesia.
Angga menempuh pendidikan doktoral di Murdoch University, Australia, sekitar 2010. Ia berada di bawah bimbingan Prof Vedi Hadiz dan Richard Robison.
Pendekatan ekonomi politik yang berkembang di Murdoch University turut membentuk pemikiran Angga.
Ia kemudian menghasilkan sejumlah karya akademik yang membahas dinamika politik dan kekuasaan di Indonesia.
Salah satu karya pentingnya adalah The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia’s Post-Authoritarian Era, yang diterbitkan Palgrave Macmillan pada 2019.
Baca Juga: Dosen dan Pakar Politik Unair Airlangga Pribadi Kusman Berpulang di Jakarta
Buku tersebut merupakan pengembangan dari riset doktoralnya mengenai jejaring kekuasaan yang tumbuh di Jawa Timur setelah era Reformasi.
Angga juga menulis Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia pada 2022.
Dalam perjalanan intelektualnya, ia dikenal semakin tekun mengkaji pemikiran Soekarno dan Marhaenisme.
Karya terbarunya adalah Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z, yang ditulis bersama Rocky Gerung.
Buku tersebut sedianya akan dibahas dalam sebuah diskusi di Tangerang Selatan pada Kamis (10/9), sehari setelah Angga meninggal dunia.
Baca Juga: Profesor Italia Dikukuhkan Jadi Adjunct Professor FK Unair, Perkuat Riset Radiologi dan Osteoporosis
Kepergian Angga menyisakan duka sekaligus jejak panjang pemikiran. Ia meninggalkan karya-karya yang lahir dari ketekunannya membaca, meneliti, dan menulis tentang politik serta gagasan Soekarno.
Ironisnya, tulis Nezar, di hari terakhirnya, Angga masih berada di tengah aktivitas intelektualnya.
Laptop yang digunakannya masih terbuka, dengan tulisan tentang Soekarno yang hampir selesai. Ia pergi ketika sedang berkarya.
Bagi keluarga, sahabat, kolega, dan dunia akademik, pemikiran serta karya Airlangga Pribadi Kusman akan terus dikenang dan menjadi bagian dari perdebatan intelektual tentang politik, demokrasi, dan Indonesia.
Baca Juga: Tim Garda Unair Tangani Korban Gempa NTT, Empat Pasien Jalani Operasi Tulang