← Beranda
Rekam Jejak Airlangga Pribadi, Pengamat Politik Unair yang Wafat di RSPAD
Ryandi ZahdomoRabu, 9 September 2026 | 23.48 WIB
Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Airlangga Pribadi Kusman.

JawaPos.com - Keluarga besar Universitas Airlangga (Unair) berduka atas wafatnya salah satu ilmuwan terbaiknya, Airlangga Pribadi Kusman.

Semasa hidupnya, Airlangga dikenal sebagai akademisi yang konsisten memperjuangkan nilai demokrasi dan keadilan sosial.

Ketua Program Studi S2 Ilmu Politik FISIP Unair tersebut meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, pada Kamis (9/9).

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi civitas akademika, keluarga, serta para koleganya.

Baca Juga: Dosen dan Pakar Politik Unair Airlangga Pribadi Kusman Berpulang di Jakarta

Rektor UNAIR, Prof. Dr. Muhammad Madyan menyampaikan rasa belasungkawa mendalam atas berpulangnya almarhum yang akrab disapa Angga tersebut.

Ia mengenang sosok almarhum sebagai pendidik yang memiliki komitmen tinggi terhadap tugas-tugas akademiknya di kampus.

"Angga adalah termasuk dosen yang berdedisikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas sebagai dosen di Universitas Airlangga," ujar Madyan dalam keterangannya, Rabu (9/9).

Rekam Jejak dan Dedikasi Akademik

Lahir di Jombang pada 23 November 1976, Airlangga meniti perjalanan akademik di bidang sosial-politik hingga meraih gelar Doctor of Philosophy in Politics dari Murdoch University, Australia, pada 2016.

Saat pulang ke Indonesia, ia mengabdikan kepakarannya di Departemen Politik FISIP Unair. Selain mengajar, almarhum aktif membedah dinamika politik nasional.

Baca Juga: Profesor Italia Dikukuhkan Jadi Adjunct Professor FK Unair, Perkuat Riset Radiologi dan Osteoporosis

Pemikiran dan pandangannya kerap menjadi rujukan di media massa nasional, forum ilmiah, hingga diskusi publik sebagai kontribusi nyata bagi keberlangsungan demokrasi Indonesia.

Kepergian Airlangga Pribadi Kusman menjadi kehilangan besar bagi dunia intelektual Indonesia.

Rekam jejak pemikiran, karya ilmiah, serta keberanian kritisnya menjadi warisan berharga bagi generasi penerus.

 

EDITOR: Bayu Putra