← Beranda
Siswa Indonesia Raih Juara 1 e-ICON World Contest 2026 lewat Aplikasi Hugrow
Nanda PrayogaRabu, 12 Agustus 2026 | 16.08 WIB
Ravakatya Anadra atau Andra dan Nicholas Emmanuel atau Nicho berhasil meraih Juara 1 dalam 16th e-ICON World. (Istimewa)

JawaPos.com - Perubahan teknologi yang cepat serta berbagai persoalan sosial menuntut generasi muda memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, bekerja sama, dan menciptakan solusi.

Kemampuan tersebut tidak cukup dibangun dengan sekadar mencari jawaban atas sebuah persoalan. Generasi muda juga dituntut mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, berkolaborasi dengan orang lain, menghasilkan inovasi, serta bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.

Semangat tersebut dibuktikan dua siswa kelas 12 EcoSocioTech School (EST), TB Simatupang, yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah HighScope Indonesia. Ravakatya Anadra atau Andra dan Nicholas Emmanuel atau Nicho berhasil meraih Juara 1 dalam 16th e-ICON World Contest melalui aplikasi bernama Hugrow.

Dalam kompetisi tersebut, Andra dan Nicho tidak bekerja sendiri. Mereka berkolaborasi dengan dua pelajar asal Korea Selatan, Kim Siwoo dan Kim Mirae, untuk mengembangkan solusi berbasis teknologi yang menjawab persoalan sosial.

Hugrow Angkat Isu Kesehatan Mental Keluarga

e-ICON World Contest merupakan kompetisi internasional yang diselenggarakan di bawah Kementerian Pendidikan Korea Selatan. Ajang tersebut mempertemukan pelajar dari berbagai negara untuk mengembangkan solusi teknologi yang berkaitan dengan persoalan sosial dan sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Tim Hugrow memilih fokus pada SDG 3: Good Health and Well-Being. Mereka melihat keluarga sebagai bagian penting dalam membangun kesehatan mental sekaligus kesejahteraan seseorang.

"Saat merancang kontribusi untuk SDG No. 3, kami memilih untuk mengintegrasikan faktor yang sudah ada menjadi sebuah solusi. Kami melihat keluarga sebagai esensi masyarakat sekaligus peluang utama untuk mengatasi masalah kesehatan mental dan kesejahteraan." Ujar Andra.

Menurut tim, persoalan komunikasi dalam keluarga dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi psikologis dan kesejahteraan anggotanya. Karena itu, Hugrow dikembangkan sebagai aplikasi yang membantu keluarga membangun komunikasi, kebiasaan positif, dan hubungan yang lebih sehat melalui pendekatan yang terstruktur.

Fitur Hugrow Dibuat untuk Membangun Kebiasaan Positif

Hugrow memiliki sejumlah fitur yang dirancang untuk membantu keluarga mengenali kondisi hubungan dan membangun kebiasaan yang lebih baik. Prosesnya dimulai dengan pemetaan kondisi komunikasi dan dilanjutkan dengan target perbaikan yang lebih terarah.

Fitur Initial Assessment & SMART Goals digunakan untuk mengetahui kondisi awal komunikasi dalam keluarga. Dari hasil tersebut, pengguna dapat menyusun target perbaikan yang spesifik dan terukur.

Selanjutnya, terdapat fitur Daily Check-In & Rekomendasi Fitur. Fitur ini memungkinkan anggota keluarga memantau suasana hati secara berkala sekaligus memperoleh rekomendasi aktivitas harian yang sesuai.

Hugrow juga menyediakan Habit Building & Voucher Shop. Melalui fitur tersebut, pengguna mendapatkan tantangan harian yang dipersonalisasi untuk membangun kebiasaan positif, sementara voucher diberikan sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi pengguna.

Fitur lainnya adalah Regular Assessment & Global Ripple Map. Pengguna dapat melakukan evaluasi secara berkala untuk melihat perkembangan hubungan, sementara pemetaan pola masalah secara anonim memungkinkan pengguna berbagi pengalaman dan tips dengan pengguna lain.

Diuji Panel Juri dari Akademisi dan Industri

Kemenangan Hugrow menjadi semakin berarti karena proses penjurian melibatkan panel yang memiliki pengalaman di bidang akademik, teknologi pendidikan, dan industri. Para juri tidak hanya menilai ide, tetapi juga melihat dasar pemikiran, relevansi, implementasi, serta potensi dampak solusi yang ditawarkan.

Panel juri di antaranya terdiri atas Prof. Soonsik Suh dari Chuncheon National University of Education, Kihyun Park selaku CEO Tekville Education Co., Ltd., serta Prof. Inseong Jeon dari Gwangju National University of Education.

Selain itu, terdapat Youjin Hwang, Senior Professional di Samsung Electronics, Miae Choi, Chief of Korea Education and Research Information Service, serta Ilkyu Yoon, Director of Korea Foundation for Science and Creativity.

Situasi tersebut membuat Andra dan Nicho harus mempersiapkan Hugrow secara serius. Mereka dituntut mampu menjelaskan gagasan dan mempertahankannya ketika berhadapan dengan para juri yang memiliki pengalaman panjang di bidang masing-masing.

Nicho mengaku sempat merasakan tekanan ketika harus menghadapi babak final. Namun, pengalaman tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi mereka untuk menguji kemampuan dalam menyampaikan gagasan di hadapan para ahli.

“Perasaan kami campur aduk antara bahagia karena lolos ke grand final dan gugup saat naik ke panggung untuk melakukan presentasi terakhir yang menentukan para juara. Tetapi dengan melakukan hal tersebut, kami mampu mengomunikasikan ide apps yang diterima oleh para juri yang sudah lama berpengalaman dalam bidang kompetisi ini.”

Belajar Lebih dari Sekadar Teknologi

Proses pengembangan Hugrow memberikan pengalaman yang lebih luas bagi Andra dan Nicho. Mereka tidak hanya mempelajari teknologi dan cara membuat sebuah aplikasi, tetapi juga belajar menghadapi tekanan, mengatur waktu, serta bekerja dalam lingkungan dengan latar belakang budaya berbeda.

Kolaborasi dengan pelajar Korea Selatan membuat keduanya harus terbiasa dengan perbedaan sudut pandang. Mereka juga belajar menerima kritik, menyempurnakan gagasan, dan mempertahankan ide berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Kompetisi internasional tidak hanya menjadi tempat untuk menunjukkan hasil karya, tetapi juga ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah.

Dukungan Guru dan Sekolah

Pencapaian Hugrow tidak hanya lahir dari kemampuan Andra dan Nicho dalam menciptakan aplikasi. Di balik keberhasilan tersebut terdapat proses belajar, kerja keras, pendampingan guru, dukungan orang tua, serta lingkungan sekolah yang memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang.

Dalam prosesnya, guru tidak hanya menjalankan fungsi sebagai pengajar. Guru juga menjadi mentor yang membantu siswa melihat sebuah persoalan dari berbagai perspektif, menguji gagasan melalui observasi dan penelitian, sekaligus memberikan tantangan agar siswa berani mengambil keputusan.

Pendampingan tersebut menjadi semakin penting ketika siswa harus bekerja dalam tim internasional. Mereka harus mengejar tenggat waktu, memperbaiki produk, menerima kritik, serta mempresentasikan hasil kerja di hadapan panel juri dengan latar belakang akademik dan profesional.

Sekolah juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan pengalaman tersebut berlangsung. Sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang bagi siswa untuk mencoba, bereksperimen, bertanya, melakukan observasi, menghadapi kegagalan, melakukan perbaikan, dan berkolaborasi.

Dari proses tersebut, kemampuan seperti critical thinking, creativity, communication, collaboration, dan problem-solving berkembang melalui pengalaman nyata. Kemampuan tersebut tidak hanya diperoleh melalui teori yang disampaikan di dalam kelas.

Karena itu, kemenangan Hugrow di Seoul bukan sekadar pencapaian sebuah gelar juara. Prestasi tersebut menunjukkan bagaimana kesempatan, pendampingan, kerja keras, dan lingkungan yang mendukung dapat membantu siswa mengembangkan potensi yang mungkin belum terlihat melalui proses pembelajaran konvensional.

“Dalam kompetisi ini, siswa belajar bahwa gagasan lahir dari memahami persoalan, ditempa oleh disiplin, kepedulian, serta kemampuan berpikir dan mencipta. Namun, pencapaian terbesar kami sebagai pendidik adalah ketika siswa percaya bahwa gagasan mereka berarti, kemampuan mereka mampu menciptakan perubahan, dan mereka berani mewujudkannya.” Ujar Dermawan Intiardy, guru yang mendampingi Andra dan Nicho.

Dari Jakarta untuk Panggung Dunia

Prestasi Andra dan Nicho menunjukkan bahwa pelajar Indonesia memiliki kesempatan untuk bersaing dengan generasi muda dari berbagai negara. Dengan dukungan yang tepat, gagasan yang lahir dari lingkungan sekolah dapat berkembang menjadi karya yang mampu diuji di panggung internasional.

Potensi siswa juga tidak selalu dapat dilihat dari nilai rapor atau hasil ujian. Sebagian kemampuan justru muncul ketika siswa memperoleh tantangan, ruang untuk mencoba, kesempatan untuk berkolaborasi, dan kepercayaan untuk mengambil keputusan.

Pengalaman Andra dan Nicho menjadi gambaran bahwa pendidikan dapat memberikan dampak lebih luas ketika siswa diberi kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata. Hugrow tidak hanya menjadi aplikasi yang membawa mereka meraih gelar juara, tetapi juga menjadi sarana belajar tentang empati, teknologi, kerja sama, dan keberanian menyampaikan gagasan.

Dari Jakarta hingga Seoul, Andra dan Nicho membawa karya mereka ke panggung global. Kemenangan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa pelajar Indonesia mampu menghasilkan gagasan yang relevan dengan persoalan dunia ketika didukung ekosistem pendidikan yang mendorong kreativitas, kolaborasi, disiplin, dan keberanian untuk berinovasi.

EDITOR: Edy Pramana