← Beranda
Bukan Sekadar Tantrum! Ini 6 Masalah Perilaku Anak yang Wajib Diwaspadai
Ryandi ZahdomoSenin, 24 Agustus 2026 | 14.48 WIB
Ilustrasi seorang anak tantrum. (Freepik)

 

JawaPos.com - Perilaku buruk pada anak sering kali dianggap sebagai fase tumbuh kembang yang wajar akibat luapan stres sementara.

Namun, tindakan anak yang terlalu agresif, bermusuhan, mengganggu, serta berlangsung lebih dari enam bulan dapat menjadi indikator adanya gangguan psikologis atau neurobiologis yang serius.

Mengamati perubahan dinamika perilaku yang tidak sesuai dengan usia perkembangan anak sangat penting untuk membantu orang tua menentukan waktu yang tepat dalam berkonsultasi ke tenaga profesional.

Intervensi sejak dini terbukti ampuh mencegah dampak buruk pada kesehatan mental dan harga diri anak di masa depan.

Memahami akar psikologis di balik tindakan anak menjadi kunci utama untuk membedakan antara kenakalan wajar dan sinyal bahaya yang membutuhkan penanganan medis.

Dikutip dari Your Tango, berikut adalah enam masalah perilaku pada anak yang tidak boleh diabaikan oleh para orang tua.

1. Lemahnya Kontrol Impuls dan Ledakan Amarah

Balita memang memiliki keterbatasan alami dalam mengendalikan emosi dan tindakan mereka. Namun, jika ketidakmampuan mengendalikan amarah dan perilaku impulsif terus bertahan saat anak bertambah besar, kondisi ini dapat mengindikasikan Oppositional Defiant Disorder (ODD).

Data dari National Library of Medicine mencatat bahwa gangguan perilaku menentang ini dialami oleh sekitar satu dari sepuluh anak di dunia.

Karakteristik utamanya meliputi rasa marah yang ekstrem, mudah tersinggung, tantrum berulang, hingga ketidakpatuhan kronis terhadap figur otoritas.

Penyebab ODD berakar dari faktor psikologis hingga neurobiologis yang kompleks. Jika anak Anda menunjukkan gejala-gejala tersebut secara konsisten, segera jadwalkan konsultasi dengan dokter spesialis anak atau terapis tumbuh kembang.

2. Sulit Fokus dan Tingkat Hiperaktivitas Tinggi

Masalah perhatian yang nyata dan ketidakmampuan untuk duduk tenang sering kali menjadi pertanda utama dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Menurut data CDC, kondisi neurologis ini diperkirakan memengaruhi sekitar lima persen anak-anak di seluruh dunia.

Anak dengan ADHD umumnya mengalami kesulitan mempertahankan fokus pada satu tugas, berjuang mengendalikan impulsif, serta kerap menghadapi tantangan dalam interaksi sosial. Tanpa penanganan yang tepat, mereka rentan mengalami penurunan rasa percaya diri.

Penanganan dini melalui kombinasi terapi perilaku dan medikasi medis dapat membantu anak mengelola respons otaknya. Dukungan ini memungkinkan mereka untuk lebih fokus dan mengembangkan potensi dirinya secara optimal.

3. Sikap Tidak Hormat yang Menjadi Kebiasaan

Perilaku tidak sopan, membantah, atau melawan orang dewasa sering kali digunakan anak sebagai cara untuk menguji batasan dan menegaskan kemandirian mereka.

Walaupun dinamika ini tergolong umum, membiarkan sikap kasar tanpa batas tegas dapat membentuk karakter buruk yang membekas.

Orang tua dapat merespons situasi ini secara bijak dengan memberi batasan yang konsisten atau sengaja mengabaikan rengekan yang bertujuan mencari perhatian.

Yang terpenting, orang dewasa harus tetap memberikan teladan sikap hormat dalam kehidupan sehari-hari.

Proses belajar anak yang paling efektif datang dari mengamati tindakan orang tuanya secara langsung. Konsistensi Anda dalam menunjukkan kesopanan akan menjadi panduan utama bagi pembentukan karakter mereka.

4. Kebiasaan Mengeluh dan Merengek Berlebihan

Merengek atau menangis saat merasa frustrasi adalah hal yang biasa terjadi pada anak usia prasekolah.

Namun, jika luapan emosi ini terus-menerus digunakan sebagai alat manipulasi untuk mendapatkan keinginan mereka, hal itu menandakan adanya pengkondisian perilaku yang salah.

Anak-anak menyadari secara cepat bahwa mereka mendulang perhatian paling besar dari orang tua saat sedang merasa kesal.

Pakar kesehatan anak, Dr. Laurel Schultz, menyarankan agar orang tua mulai memberikan perhatian ekstra saat anak sedang dalam kondisi tenang dan bahagia.

Kecenderungan terus merengek sering kali menjadi sinyal bahwa anak merasa kurang diperhatikan di rumah. Memberikan apresiasi pada momen-momen positif anak dapat memutus siklus mengeluh secara bertahap.

5. Sering Tantrum Tanpa Alasan yang Jelas

Tantrum yang terjadi secara berkala pada anak-anak umumnya dipicu oleh rasa cemas atau kebutuhan dasar yang belum terpenuhi.

Namun, ledakan emosi yang frekuensinya terlalu sering tanpa pemicu yang jelas bisa menjadi tanda adanya pergumulan emosional yang lebih dalam.

Pada anak dengan spektrum autisme, tantrum kerap terjadi saat aturan atau rutinitas kaku mereka terganggu secara mendadak.

Sementara itu, tantrum pada anak usia sekolah dapat menjadi gejala awal dari kesulitan belajar, gangguan kecemasan, atau depresi.

Jika frekuensi dan intensitas tantrum anak terasa sudah melebihi batas kewajaran, bantuan profesional sangat dibutuhkan. Pemeriksaan komprehensif dapat mengungkap akar masalah tersembunyi yang dialami oleh sang buah hati.

6. Penurunan Prestasi Akademis Secara Mendadak

Setiap orang tua tentu menghendaki anaknya berprestasi di sekolah, namun hambatan belajar yang tak terdeteksi dapat memicu stres berat dan merusak harga diri anak.

Penurunan nilai yang drastis harus disikapi sebagai indikator adanya gangguan kesejahteraan emosional.

Perubahan prestasi akademis yang merosot secara tiba-tiba sering kali menandakan bahwa anak sedang mengalami tekanan mental, depresi, atau masalah di lingkungan sosialnya seperti perundungan.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Sagitarius 24 Agustus 2026: Mulai dari Cinta, Karier, Kesehatan, dan Keuangan

Sikap menarik diri dan perubahan kepribadian menjadi sinyal penting yang wajib dicermati.

Mengatasi stres pada anak sama pentingnya dengan mengasah kemampuan akademis mereka. Berkonsultasi dengan psikolog sekolah atau konselor anak dapat membantu memulihkan kembali semangat belajar serta rasa aman mereka.

 

EDITOR: Kuswandi