← Beranda
Cara Orang Tua Ajarkan Anak Terhindar dari Perundungan. Gangguan Mental Jadi Taruhannya
Tazkia Royyan HikmatiarKamis, 23 Juli 2026 | 21.06 WIB
Ilustrasi perundungan. (Hanung Hamabara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kasus perundungan anak tengah menjadi sorotan masyarakat. Perlindungan anak pun perlu diutamakan, salah satunya dengan membangun pondasi yang kuat sejak dari rumah. 

Orang tua perlu membangun komunikasi yang hangat dengan anak agar tanda-tanda perundungan dapat dikenali sejak dini dan segera ditangani. Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp.T.K.P.S.(K), mengungkapkan, perundungan itu kadang bisa dari hal yang kecil sekali.

"Misalnya, teman memanggil kita dengan nama orang tua secara terus-menerus sehingga membuat kita tidak nyaman. Tapi bullying juga bisa dalam bentuk yang lebih besar, seperti diambil uangnya atau dikucilkan," katanya saat menjawab pertanyaan JawaPos.com, Rabu (22/7).

Baca Juga: Aura Keberuntungan Kuat, 6 Weton Ini Diramal Mudah Meraih Kesuksesan

Karena itu, ia menegaskan bahwa orang tua perlu mengajarkan anak mengenali sejak awal perilaku yang termasuk bullying.

"Kita harus ajarkan kepada anak bahwa apa yang membuat kamu tidak nyaman, membuat kamu merasa risih, atau merasa 'kok ini sepertinya tidak seharusnya', nah itu harus mulai dipikirkan bahwa itu adalah suatu perilaku bullying," ujar Dr. Angga.

Ia menyarankan anak untuk terlebih dahulu mencoba menyampaikan keberatan kepada pelaku secara baik-baik.

"Kita ajarkan anak untuk melakukan klarifikasi secara verbal. Misalnya, 'Kok kamu memanggil saya seperti itu? Saya enggak nyaman.' Sampaikan sekali. Kalau besoknya masih begitu, sampaikan lagi untuk kedua kalinya," tuturnya.

Menurut dr. Angga, langkah tersebut penting karena tidak menutup kemungkinan pelaku tidak menyadari bahwa tindakannya sudah termasuk perundungan.

"Bisa jadi pelaku juga enggak mengerti bahwa dia sedang melakukan bullying. Karena itu, sampaikan dulu dua kali," katanya.

Apabila perilaku tersebut tetap berlanjut, dr. Angga meminta anak tidak ragu melaporkannya kepada guru.

"Kalau setelah dua kali masih dilakukan, kita ajarkan anak untuk lapor ke guru. Tentunya guru juga harus memiliki pemahaman tentang bullying, bukan menganggap remeh dengan mengatakan, 'Ah, itu cuma anak-anak saja.' Segala sesuatu yang dilakukan secara verbal, fisik, ataupun mengucilkan, itu termasuk perilaku bullying dan harus diselesaikan," tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam membangun hubungan yang hangat dengan anak agar mereka mau bercerita mengenai pengalaman di sekolah.

"Kalau dari awal keluarganya hangat dan akrab, jangan lupa tanya setiap hari, 'Apa yang bikin kamu senang di sekolah hari ini?' atau 'Apa yang bikin kamu agak enggak nyaman atau sedih di sekolah?' Kalau anaknya sudah akrab, dia pasti cerita," ujarnya.

Jika orang tua mengetahui adanya indikasi bullying, langkah pertama yang dianjurkan adalah berkoordinasi dengan guru, bukan langsung mendatangi atau mengonfrontasi pelaku.

"Kalau anak sudah melakukan langkah-langkah tadi tetapi belum selesai, orang tua bisa koordinasi ke gurunya dulu. Jangan langsung konfrontasi anak yang melakukan bullying, kecuali memang sudah menyebabkan cedera berat, misalnya sampai jatuh, patah tulang, atau luka serius. Kalau masih tahap awal atau belum menyebabkan luka serius, kita bisa lakukan pendekatan terlebih dahulu," pungkas dr. Angga.

Perundungan berujung Gangguan Mental Remaja yang Serius

Anak dan remaja yang menjadi korban perundungan (bullying) berisiko mengalami gangguan kesehatan mental. Salah satu faktor yang dapat memicu gangguan mental pada anak dan remaja adalah perundungan. Bentuknya pun tidak selalu berupa kekerasan fisik.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp.T.K.P.S.(K) mengatakan, persoalan kesehatan mental pada remaja saat ini sudah menjadi masalah yang serius.

Secara global, satu dari tujuh remaja mengalami gangguan mental. Jenis gangguan yang paling banyak ditemukan adalah depresi, kecemasan (anxiety), dan gangguan perilaku. Bahkan, bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor tiga pada kelompok usia muda.

Di Indonesia, situasinya juga mengkhawatirkan. Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey 2022, dari sekitar 46 juta remaja, sebanyak 15,5 juta atau satu dari tiga remaja memiliki masalah kesehatan mental. Keluhan yang paling banyak dialami meliputi kecemasan, hiperaktivitas, depresi, gangguan perilaku, dan stres.

Sementara itu, sekitar 5,5 persen atau satu dari 20 remaja telah mendapat diagnosis gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan perilaku, gangguan stres pascatrauma (PTSD), hingga gangguan hiperaktivitas.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah