JawaPos.com - Peran orang tua yang tidak berselingkuh juga sangat penting dalam menjaga kestabilan emosi anak dan meminimalkan dampak psikis yang terjadi. Ortu perlu menjadi contoh dalam mengelola emosi secara sehat, bukan hanya lewat nasihat, tapi lewat tindakan nyata. Kehadiran rutin dan konsisten dari orang tua akan menciptakan ruang aman bagi anak untuk tetap tumbuh stabil.
"Jangan hilangkan rutinitas, tetap hadir, dan kalau memang tidak sanggup sendirian, tak ada salahnya membangun support system dari luar. Bisa dari keluarga, atau tenaga profesional,” sambung founder Ertamentari Psikolog Ratna Sari SPsi MPsi Psikolog CH CHt CPHt.
Hal itu bertujuan agar anak tidak merasa sendirian dalam situasi yang emosional dan rumit. Orang tua juga perlu waspada terhadap tanda-tanda anak memerlukan bantuan profesional, seperti perubahan perilaku drastis, penurunan prestasi akademis, kecenderungan menarik diri, atau bahkan perilaku melukai diri (self-harm).
“Jika sudah menunjukkan gejala depresi, cemas berlebihan, dan tidak mau melakukan aktivitas apa pun, segera cari pertolongan profesional,” ujarnya.
Perselingkuhan memang keputusan pribadi orang dewasa. Namun, ketika anak ikut terdampak, maka cara orang tua menyikapi dan mengelola konflik rumah tangga menjadi sangat menentukan kesehatan mental anak di masa depan. Validasi, kejujuran yang bijak, dan kasih sayang yang konsisten bisa menjadi penawar bagi luka emosional yang terbentuk.