JawaPos.com - Tesla kembali menarik perhatian lewat demonstrasi Roadster generasi terbaru yang memperlihatkan kemampuan mobil bergerak dalam posisi terbalik, terlepas dari landasan, berputar di udara, hingga mendarat menggunakan pendorong gas terkompresi.
Aksi yang digelar di fasilitas pengujian SpaceX di dekat Waco, Texas, Amerika Serikat, tersebut menjadi sorotan di tengah penantian panjang terhadap mobil sport listrik yang pertama kali diperkenalkan pada 2017.
Tesla menggunakan alat hisap untuk menggerakkan Roadster terbalik di sepanjang tanjakan. Mobil kemudian terlepas, berputar di udara, dan mendarat sendiri menggunakan pendorong internal.
Kepala teknik kendaraan, Lars Moravy, mengatakan kipas di bawahnya dapat menghasilkan gaya tekan ke bawah hingga 2 g, dan Tesla menggunakan sistem multi-mode yang sama untuk uji coba terbalik di lintasan.
CEO Tesla Elon Musk berucap sebelum aksi tersebut dimulai, kepada kerumunan bahwa keberhasilannya tidak dijamin: "mungkin akan berhasil," katanya. Setelah berhasil, ia semakin menunjukkan kehebatannya, mengklaim bahwa Roadster generasi berikutnya "pada dasarnya dapat terbang seperti roket" dan melakukan putaran serta manuver akrobatik lainnya sesuai perintah.
Baca Juga: Tesla Mendapat Gugatan dari Pengguna Model X di AS
Acara ini juga menyusul penundaan selama bertahun-tahun. Tesla pertama kali mempratinjau Roadster generasi kedua ini pada tahun 2017 untuk peluncuran awal tahun 2020.
Jadwal tersebut berulang kali tertunda, dan bahkan tanggal pengungkapan yang dikonfirmasi pun ditunda karena cuaca pada awal Oktober 2026.
Tesla Roadster terbaru disiapkan menjadi mobil sport listrik dengan performa ekstrem sekaligus pengecualian di tengah ambisi Tesla mengembangkan teknologi berkendara otonom.
Elon Musk menyebut Roadster bakal menjadi satu-satunya model Tesla dalam jangka panjang yang dirancang untuk dikemudikan manusia, dengan teknologi yang diklaim mampu membawa performa mobil ke level berbeda.
Mobil sport listrik ini diproyeksikan menjadi salah satu model paling ambisius perusahaan, dengan sejumlah teknologi yang diklaim mampu melampaui kemampuan mobil sport konvensional.
Salah satu klaim yang paling mencuri perhatian adalah kemampuan akselerasi dari 0 hingga 60 mil per jam atau sekitar 96 km/jam dalam waktu kurang dari satu detik.
Melansir dari laman motor1 dikatakan bahwa Tesla juga mengembangkan sistem kipas di bagian bawah kendaraan yang dirancang untuk menghasilkan gaya tekan tambahan ke permukaan jalan.
Teknologi ini diklaim mampu menciptakan gaya menikung hingga 2 g, sehingga meningkatkan cengkeraman ketika mobil melaju di tikungan.
Sistem tersebut menjadi salah satu pendekatan yang membedakan Roadster dari mobil sport listrik pada umumnya.
Ada Teknologi dari SpaceX, Roadster Diklaim Bisa Terbang
Ambisi Tesla terhadap Roadster tidak berhenti pada akselerasi dan kemampuan menikung. Mobil ini juga dikaitkan dengan teknologi pendorong yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan SpaceX, perusahaan antariksa yang juga dipimpin Elon Musk.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari konsep ekstrem yang ingin dihadirkan Tesla pada Roadster generasi terbaru. Musk bahkan menyampaikan klaim bahwa mobil tersebut dapat terbang.
Meski demikian, kemampuan ini perlu dipahami sebagai klaim yang masih membutuhkan penjelasan teknis lebih lanjut, termasuk mengenai mekanisme kerja, keselamatan, dan penerapannya pada kendaraan produksi.
Tesla belum dapat dianggap telah membuktikan seluruh kemampuan tersebut hanya berdasarkan pernyataan saat peluncuran.
Jika berbagai teknologi itu benar-benar diterapkan, Roadster berpotensi menjadi demonstrasi kemampuan rekayasa Tesla yang menggabungkan performa kendaraan listrik dengan teknologi yang terinspirasi dari industri kedirgantaraan.
Roadster Jadi Pengecualian di Tengah Ambisi Mobil Otonom Tesla
Di tengah pengembangan teknologi berkendara otonom, Tesla justru menempatkan Roadster sebagai mobil yang tetap mengutamakan kendali manusia.
Musk mengatakan Roadster akan menjadi satu-satunya mobil Tesla dalam jangka panjang yang dirancang untuk dikemudikan secara manual.
"Ini akan menjadi satu-satunya mobil dengan kemudi manual yang diproduksi Tesla dalam jangka panjang," ujar Musk.
Ia juga menegaskan bahwa Roadster harus memiliki kemampuan yang berbeda dibandingkan model lainnya.
"Jadi, jika ini akan menjadi satu-satunya mobil dengan kemudi manual, mari kita uji kemampuannya hingga batas maksimal dan bahkan melampaui batas tersebut," katanya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan posisi Roadster sebagai model yang tidak hanya mengandalkan teknologi elektrifikasi, tetapi juga menawarkan pengalaman berkendara yang berorientasi pada pengemudi.
Di sisi lain, rencana penghentian produksi Model S dan Model X turut menjadi latar belakang perubahan arah jajaran produk Tesla. Namun, Roadster tetap memiliki karakter berbeda karena dikembangkan sebagai mobil sport berperforma tinggi.
Tesla menjadwalkan produksi Roadster generasi terbaru dimulai sekitar 2028. Jadwal tersebut masih menjadi target yang perlu ditunggu realisasinya, mengingat model ini telah lama dinantikan sejak prototipe awalnya diperkenalkan.
Jika spesifikasi dan teknologi yang dijanjikan dapat diwujudkan, Roadster berpotensi menjadi salah satu mobil sport listrik paling menarik untuk diperhatikan.
Tesla juga menyatakan ambisinya untuk membawa Roadster memecahkan berbagai rekor performa. Meski demikian, pencapaian tersebut baru dapat dinilai setelah kendaraan menjalani pengujian dan spesifikasi produksinya diumumkan secara lengkap.
Bagi Tesla, Roadster bukan sekadar mobil sport listrik baru. Model ini menjadi ajang pembuktian seberapa jauh teknologi kendaraan listrik dapat dikembangkan, sekaligus mempertahankan pengalaman mengemudi manusia di tengah pergeseran industri menuju otomatisasi.