← Beranda
Kemenperin Yakin Mobnas dan Molinas Tak Berakhir seperti Esemka, Ini Alasannya
Nanda PrayogaKamis, 10 September 2026 | 23.18 WIB
Direktur Jenderal ILMATE Kementerian Perindustrian Republik Indonesia Setia Diarta. (Dok/JawaPos.com)

 

 

JawaPos.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yakin program pemerintah seperti mobnas dan molinas tak akan berakhir seperti proyek Esemka.

Keyakinan itu disampaikan Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin Setia Diarta, dalam rapat Panja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9).

"Jadi memang butuh proses tapi menurut kami ketika ini sudah dimulai, mudah-mudahan tidak ada kejadian seperti beberapa tahun yang lalu, yang inisiasi mobil nasional pernah ada tapi hilang," tutur Setia.

Ia memberi contoh negara tetangga Malaysia yang merintis mobil nasional Proton pada 1991 dengan sistem Completely Knocked Down (CKD).

"Itu sifatnya baru CKD (Completely Knocked Down) saja dengan merek Mitsubishi. Itu bawa bulat-bulat, ganti emblem. Mereka butuh waktu 20 tahun untuk melakukan desain sendiri sampai itu full manufaktur sendiri di Proton," jelasnya.

Begitu pula dengan Perodua generasi awal pada 1996 yang memakai merek Daihatsu. "Baru di 10 tahun kemudian mereka baru berhasil mendesain. Jadi bagi kami, kalau pemerintah sudah menargetkan untuk menyiapkan mobil nasional atau motor listrik nasional sudah seyogyanya kami harus mendukung itu sepenuhnya, baik dari sisi regulasi maupun insentif yang akan diberikan untuk mobil dan motor listrik nasional," tegasnya.

Pemerintah resmi menunjuk dua BUMN strategis untuk proyek mobnas dan molinas, yaitu PT Pindad dan PT Len Industri.

Menurut Setia, keputusan menunjuk Pindad dan Len bukan hanya karena keduanya milik negara. Lebih dari itu, pemerintah melihat keseriusan kedua perusahaan menjalankan tanggung jawab yang diberikan.

Setelah mendapat mandat, Pindad dan Len langsung menunjukan kesanggupan memenuhi ketentuan pemerintah. Salah satunya soal Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang jadi fokus utama.

"Ketika diberi tanggung jawab, mereka juga berkomitmen penuh untuk menyampaikan dan mengikuti kebijakan yang sudah ada. Malah menyambut baik, terutama untuk pencapaian TKDN, mereka sangat berkomitmen penuh," ujar Setia.

Setia menegaskan, keseriusan Pindad dan Len tidak berhenti pada pernyataan saja. Keduanya juga mempersiapkan ekosistem untuk program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV).

Baca Juga: Mobil Listrik Nasional Mulai Dirumuskan, Kemenperin Ungkap Perkembangan Proyek i2C

Program LCEV ini adalah bagian kebijakan pemerintah mendorong pengembangan kendaraan rendah emisi di Indonesia. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan