← Beranda
NEV Tembus 26,1 Persen, Mobil Listrik Rp200 Jutaan Mulai Goyang Pasar LCGC
Dony Lesmana Eko PutraRabu, 9 September 2026 | 20.12 WIB
Ilustrasi mobil LCGC makin terpojok dengan hadirnya mobil elektrivikasi Rp200 jutaan.

JawaPos.com - Peta pasar otomotif Indonesia mulai mengalami perubahan. Kendaraan berteknologi elektrifikasi seperti mobil listrik, hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan range extender electric vehicle (REEV) kini semakin mendapat tempat di pasar kendaraan baru.

Data hingga Agustus menunjukkan, New Energy Vehicle (NEV) telah menguasai sekitar 26,1 persen market share nasional. Kategori NEV tersebut mencakup mobil listrik berbasis baterai atau BEV, hybrid, PHEV, hingga kendaraan dengan teknologi range extender.

Artinya menurut Kukuh Kumara, Sekertaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), kendaraan konvensional dengan mesin pembakaran internal atau ICE kini berada di kisaran 70 persen lebih dari total pasar.

"Mobil listrik Rp200 jutaan mulai menarik konsumen, ini jadi salah satu pendorong pertumbuhan elektrifikasi adalah semakin banyaknya mobil listrik dengan harga yang lebih terjangkau. Mobil listrik di kisaran Rp200 jutaan mulai menarik perhatian konsumen, terutama masyarakat perkotaan," ujar Kukuh Kumara saat di temui di acara GIIAS di Bandung (9/9) kepada JawaPos.com.

Kukuh menambahkan kalau biaya operasional menjadi salah satu pertimbangan. Untuk penggunaan harian di dalam kota, mobil listrik dinilai menawarkan efisiensi karena tidak membutuhkan bensin dan memiliki kebutuhan perawatan yang berbeda dibandingkan kendaraan bermesin konvensional.

"Perubahan perilaku konsumen ini menjadi tantangan baru bagi segmen LCGC. Mobil tipe LCGC menghadapi tantangan teknologi
Segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang selama lebih dari satu dekade menjadi pilihan masyarakat untuk mendapatkan mobil dengan harga terjangkau kini menghadapi kompetisi dari teknologi baru," ungkap Kukuh.

Tekanan tersebut bukan semata karena harga, tetapi juga karena konsumen mendapatkan pilihan kendaraan dengan teknologi elektrifikasi yang menawarkan efisiensi dan biaya operasional berbeda.

Kondisi ini membuka pertanyaan mengenai masa depan LCGC di Indonesia. Apakah kendaraan murah ke depan tetap menggunakan mesin bensin konvensional atau mulai mengadopsi teknologi hybrid maupun elektrifikasi?

Kondisi ini menurut Kukuh bukan soal subsidi, tetapi inovasi. Persaingan kendaraan masa depan dinilai tidak seharusnya hanya bertumpu pada subsidi.

Ketika mobil dengan teknologi baru semakin terjangkau dan menawarkan biaya operasional yang kompetitif, industri otomotif dituntut menghadirkan inovasi yang benar-benar sesuai kebutuhan konsumen.

Dengan pangsa NEV yang sudah mencapai 26,1 persen, perubahan tersebut menjadi sinyal bahwa elektrifikasi bukan lagi sekadar tren, tetapi mulai menjadi bagian penting dari pasar otomotif Indonesia.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra