JawaPos.com - Kenaikan drastis harga BBM nonsubsidi Pertamax langsung memicu reaksi nyata di lapangan. Terutama pada jenis Pertamax, yang sekarang naik menjadi Rp 16.500 per liter. Hal itu membuat jalur pengisian Pertalite di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kini mendadak diserbu pengendara.
Fenomena antrean panjang ini terjadi lantaran selisih harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi kian melebar jauh. Pengguna kendaraan roda dua yang biasanya memilih praktis dengan membeli Pertamax, kini rela ikut mengular demi menghemat pengeluaran harian mereka.
Berpaling ke Pertalite demi Keamanan Dompet
Salah satu lonjakan antrean yang cukup mencolok terlihat di SPBU kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Berdasarkan pantauan pada Rabu (10/6) siang, antrean panjang terlihat lebih dari 10 motor yang antre di jalur Pertalite.
Saking mengularnya, antrean kendaraan tersebut bahkan sampai ke area jalan raya di depan SPBU. Pemandangan itu kontras dengan jalur Pertamax yang sepi.
Di jalur Pertamax, hanya ada beberapa kendaraan saja yang terlihat mengisi bahan bakar. Sementara itu, untuk moda transportasi mobil tidak terlihat adanya antrean panjang yang berarti.
Bukan tanpa alasan para pemotor ini rela menghabiskan waktu dan tenaga di bawah terik matahari. Mereka mengaku rela antre panjang demi bisa mengisi Pertalite lantaran harga Pertamax yang saat ini naik menjadi Rp 16.250 per liter.
Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, selisih harga yang mencapai ribuan rupiah per liter tersebut sangat sensitif terhadap pengeluaran bulanan mereka. Alhasil, beralih ke BBM subsidi menjadi pilihan paling rasional saat ini.
Kekecewaan Konsumen: Naik Drastis Tanpa Ancang-ancang
Keputusan menaikkan harga Pertamax secara signifikan ini memicu gelombang kekecewaan dari para pengguna setia yang terpaksa "turun kelas" ke Pertalite. Salah seorang pengendara motor, Ningrum, 45, mengungkapkan kejengkelannya saat ditemui di lokasi antrean.
"Biasanya kan isi Pertamax buat hindari antre panjang di (jalur pengisian) Pertalite. Sekarang mah gapapa dah antre panjang, soalnya ga sanggup kalau buat beli Pertamax," ujar Ningrum, Rabu (10/6).
Ia mengaku kaget sekaligus kecewa dengan kenaikan Pertamax yang sangat drastis dari angka Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 perliternya. Rasa frustrasi warga semakin menjadi karena kebijakan ini dirasa mendadak dan minim sosialisasi ke publik. "Pas tadi pagi bangun lihat hape isinya orang pada update status soal harga Pertamax naik. Ya kesel aja masa naikinnya tengah malam tanpa ada pemberitahuan sebelumnya," kata dia.
Keluhan serupa juga datang dari pengendara lain yang merasa nominal kenaikan kali ini sudah di luar batas kewajaran. Wahyu, pemotor lainnya, menilai seharusnya kenaikan tak sampai seperti saat ini. "Kalau naiknya Rp 1.000 mungkin wajar. Lah ini naiknya berarti sampai Rp 4.000, tega bener dah," ucapnya.
Spekulasi Kelangkaan BBM Subsidi
Dampak domino dari migrasi massal konsumen Pertamax ke Pertalite ini mulai memicu kekhawatiran baru di tengah masyarakat. Banyak warga berspekulasi bahwa lonjakan permintaan yang tidak seimbang ini bisa berujung pada kelangkaan pasokan BBM bersubsidi dalam waktu dekat.
Wahyu mengutarakan kekhawatirannya bahwa meroketnya harga Pertamax akan berdampak pada kelangkaan Pertalite. Jika kuota harian SPBU habis lebih cepat karena diserbu konsumen, warga tidak akan memiliki pilihan lain selain membeli produk yang mahal.
"Nanti orang pada pindah semua ke Pertalite, akhirnya Pertalite kosong dan mau enggak mau mesti beli Pertamax. Yang ada makin susah rakyat. Ini aja siang-siang tumben antreannya panjang, biasanya kan seimbang antara yang isi Pertalite sama Pertamax, tapi sekarang Pertalite semua," ujarnya.
Rincian Terbaru Harga BBM Pertamina
Sebagai informasi, dalam penyesuaian terbaru, harga Pertamax mengalami kenaikan signifikan dari sebelumnya Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Tidak hanya Pertamax murni, varian ramah lingkungan Pertamax Green 95 juga naik dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.
Namun, di tengah lonjakan harga nonsubsidi tersebut, Pertamina memastikan harga BBM subsidi tidak berubah. Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat menengah ke bawah agar tidak semakin terpuruk. Saat ini, Pertalite tetap dijual Rp 10.000 per liter, sedangkan Biosolar masih dipatok Rp 6.800 per liter.
Baca Juga: Pertamax Tembus Rp 16 Ribu Lebih, Cuitan Lama Partai Gerindra soal Kurs dan BBM kembali Viral
Meskipun harga Pertalite tetap stabil, tantangan baru kini berpindah pada antrean mengular yang menguras waktu para produktif di jalanan kota. (*)