← Beranda
Penjulan Mobkas Mesin Diesel Melambat Efek Pertamina Dex Tembus Rp27.900 per Liter
Nanda PrayogaSelasa, 5 Mei 2026 | 21.36 WIB
Mesin Diesel 4N15 yang digunakan Pajero Sport. (Istimewa)

JawaPos.com - Kabar kurang menyenangkan datang bagi pengguna kendaraan bermesin diesel dan BBM non-subsidi. Pasalnya Pertamina kembali menaikkan harga sejumlah produk bahan bakar minyak (BBM), termasuk Pertamax Turbo, Dexlite, hingga Pertamina Dex yang kini tembus Rp27.900 per liter.

Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah yang terus membayangi pasar energi nasional.

Sejumlah BBM non-subsidi tercatat naik, meski ada juga yang tidak berubah seperti Pertamax.

Setelah sebelumnya mengalami kenaikan pada 18 April 2026, kini beberapa produk BBM kembali mengalami penyesuaian harga. Kenaikan terjadi pada Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Saat ini, harga Pertamax Turbo mencapai Rp 19.900 per liter, naik Rp 500 dari sebelumnya Rp 19.400 per liter. Untuk Dexlite, harganya menjadi Rp 26.000 per liter atau meningkat Rp 2.400 dari harga sebelumnya Rp 23.600 per liter.

Sementara Pertamina Dex mengalami kenaikan paling tinggi, dari Rp 23.900 menjadi Rp 27.900 per liter, atau naik Rp 4.000.

Di sisi lain, harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dibanderol Rp 10.000 per liter dan Solar berada di harga Rp 6.800 per liter.

Beberapa BBM non-subsidi lainnya juga masih stabil, seperti Pertamax yang bertahan di Rp 12.300 per liter serta Pertamax Green di Rp 12.900 per liter.

Melihat hal ini, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga ini merupakan bagian dari evaluasi rutin yang mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi, termasuk harga minyak mentah global, harga produk olahan di pasar internasional, serta nilai tukar rupiah.

"Produk nonsubsidi pada prinsipnya mengikuti harga keekonomian dan mengacu pada ketentuan dan peraturan yang berlaku. Namun sebagai BUMN yang menjalankan mandat strategis negara, Pertamina tidak hanya mempertimbangkan aspek bisnis semata, tetapi juga memperhatikan kondisi terkini di masyarakat, daya beli pelanggan golongan pengguna BBM nonsubsidi, serta stabilitas nasional," kata Roberth dalam keterangan tertulis, seperti dikutip Selasa (5/5).

Walaupun ada kenaikan, harga BBM Pertamina masih lebih rendah dibandingkan dengan yang dijual di SPBU swasta. Sebagai gambaran, BP menetapkan harga BP Ultimate Diesel di Rp 30.890 per liter, sementara BP 92 berada di Rp 12.390 per liter. VIVO juga mematok harga Diesel Primus di Rp 30.890 per liter dan Revvo 92 di Rp 12.390 per liter.

Roberth menegaskan bahwa Pertamina berupaya menjaga harga BBM non-subsidi tetap lebih kompetitif dibandingkan kompetitor, sekaligus menyeimbangkan kepentingan bisnis dan kebutuhan masyarakat.

Penjualan Mobkas Mesin Diesel Melambat

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai berdampak pada pasar mobil diesel bekas di Indonesia. Salah satu yang paling terasa adalah menurunnya minat konsumen terhadap SUV diesel modern seperti Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport atau Ford Rangr keluaran tahun muda.

Menurut Zulmaizar, pedagang mobil bekas di kawasan Depok, saat ini dampaknya memang belum terlihat terkait kenaikan BBM jenis Solar berkualitas dengan CN tinggi (Pertamina Dex memiliki Cetane Number tertinggi di kelasnya, yaitu CN 53). Namun merut dia kenaikan ini akan menggiring ketakutan masyarakat untuk membeli mobkas dengan mesin diesel tahun muda.

"Untuk Pajero, Fortuner, Ford Ranger yang tahun tua sih masih aman ya, mereka masih menggunakan solar biasa, walaupun tidak dianjurkan. Namun dilapangan kenyataannya seperti itu. Mobil seperti itu masih banyak yang nyari, biasanya kirim ke daerah," ujarnya.

Namun sebaliknya untuk stok mobil dengan tahun muda menurut Zulmaizar pergerakannya cenderung melambat. Ini karena efek kenaikan, meskipun hal ini masih belum lama.

"Stok saya masih ada yang tahun muda, biasanya permintaan lumayan agresif namun belakangan ini melambat. Pembeli mobil bekas kan pasarnya didominasi orang yang masih baru mapan kondisi ekonominya. Jadi harus berhati-hati menentukan keputusan untuk membeli. Harga yang kita tawarkan masih sama tidak ada penurunan," ujar Zumaizar.

Selain itu dirinya menambahkan tak sedikit konsumen kini mulai mempertimbangkan biaya operasional jangka panjang, terutama setelah harga solar berkualitas mengalami kenaikan signifikan. Apalagi mesin diesel modern saat ini sudah menggunakan teknologi common rail yang lebih sensitif terhadap kualitas bahan bakar dibanding mesin diesel generasi lama.

Kondisi tersebut membuat sebagian calon pembeli berpikir ulang karena khawatir biaya penggunaan harian menjadi lebih mahal jika harus terus menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra