← Beranda
Bedah Teknis Armada Listrik Pemkot Surabaya: Hitung-Hitungan Biaya, Spesifikasi, dan Tantangan Nyata
AntaraRabu, 15 April 2026 | 20.24 WIB
Pemkot Surabaya melelang puluhan armada lama dan menargetkan peralihan ke kendaraan listrik mulai Mei 2026 demi efisiensi energi. (Antara/Humas Pemkot Surabaya)

 

 

JawaPos.com-Transisi kendaraan dinas dari BBM ke listrik yang digagas Pemkot Surabaya kini masuk fase konkret. Wali Kota Eri Cahyadi menargetkan peralihan penuh armada operasional dimulai Mei 2026, seiring percepatan kebijakan efisiensi energi di lingkungan birokrasi.

“Adanya kebijakan ini, Pemkot Surabaya juga menerapkan opsi work from home (WFH) dan mengimbau aparatur sipil negara (ASN) untuk menggunakan transportasi umum atau kendaraan listrik,” ujar Eri.

Langkah awal dilakukan dengan melepas kendaraan lama. Pemkot melelang unit operasional yang telah berusia lebih dari tujuh tahun pada pekan kedua April 2026. Tidak tanggung-tanggung, tambahan sekitar 80 unit, baik sepeda motor maupun mobil dinas, ikut masuk daftar lelang.

“Hari ini juga punya komitmen, 80 kendaraan juga kita lelang. Yaitu untuk kendaraan sepeda motor dan mobil yang belum dilelang,” katanya.

Seluruh kendaraan tersebut nantinya digantikan armada berbasis listrik. Targetnya jelas: menekan konsumsi BBM sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan.

 

Konsumsi Energi: Selisih Nyata di Lapangan

Dari sudut pandang teknis otomotif, alasan utama peralihan ini ada di efisiensi energi.

Mobil dinas konvensional (1.300–1.500 cc):

Konsumsi: 10–12 km/liter

Biaya per km (BBM Rp 10.000/liter): ± Rp 830–1.000

Kendaraan listrik (EV):

Konsumsi: 6–8 km/kWh

Tarif listrik ± Rp 1.700/kWh

Biaya per km: ± Rp 210–280

Selisihnya signifikan. Dalam operasional harian armada pemerintah, efisiensi bisa mencapai hingga 70 persen lebih hemat dibanding kendaraan BBM.

 

Struktur Mekanis: Lebih Sederhana, Lebih Efisien

Secara engineering, EV unggul karena minim komponen bergerak:

Tidak ada:

Oli mesin

Busi dan sistem pembakaran

Transmisi multi-percepatan

Dampaknya:

Servis lebih jarang

Risiko kerusakan lebih kecil

Biaya perawatan turun 30–50 persen

Namun, ada satu komponen kritis: baterai.

Kapasitas umum: 30–60 kWh

Umur pakai: 8–10 tahun

Biaya penggantian: signifikan

Di titik ini, strategi Pemkot yang tidak membeli unit, melainkan menyewa, menjadi langkah teknis yang rasional. Risiko degradasi baterai tidak dibebankan ke pemerintah.

 

Karakter Performa: Ideal untuk Mobilitas Kota

Untuk kondisi lalu lintas di Surabaya yang padat, EV justru berada di habitat terbaiknya:

Torsi instan sejak 0 rpm hasilnya respons cepat

Tanpa perpindahan gigi, halus di kemacetan

Regenerative braking membuat lebih hemat energi saat stop-and-go

Artinya, secara teknis, kendaraan listrik bukan hanya efisien, tapi juga optimal untuk karakter operasional kendaraan dinas perkotaan.

 

Infrastruktur Charging: Penentu Utama

Efisiensi EV sangat bergantung pada sistem pengisian daya.

AC Charging (kantor):

3,3–7,4 kW

4–8 jam (full charge)

DC Fast Charging:

25–150 kW

30–60 menit (hingga 80 persen)

Tantangan di lapangan:

SPKLU belum merata

Kapasitas listrik gedung perlu ditingkatkan

Manajemen jadwal charging harus rapi

Tanpa dukungan ini, efisiensi yang dihitung di atas kertas bisa tidak tercapai di operasional.

 

Skema Sewa: Pendekatan Fleet Modern

Alih-alih membeli kendaraan, Pemkot memilih skema sewa. Dalam perspektif fleet management, ini punya beberapa keunggulan:

Tanpa depresiasi aset

Upgrade teknologi lebih cepat

Biaya operasional lebih terprediksi

Namun, tetap ada catatan:

Kontrak harus berbasis performa (uptime, efisiensi)

Kontrol biaya jangka panjang wajib ketat

 

Integrasi Kebijakan: Bukan hanya Ganti Kendaraan

Eri menegaskan, kebijakan ini tidak berdiri sendiri. Selain penggantian armada, Pemkot juga:

Menerapkan WFH–WFO

Mendorong ASN naik transportasi umum

Mengurangi intensitas penggunaan kendaraan dinas

Dari sisi teknis, ini berdampak langsung:

Mengurangi siklus charging

Memperpanjang umur baterai

Menekan total konsumsi energi

Baca Juga: Pengamat Dorong Insentif EV Lebih Tepat Sasaran, Bisa Tekan Beban Subsidi BBM

Start Mei 2026: Ujian di Implementasi

Target implementasi dimulai Mei 2026, dengan catatan seluruh proses lelang berjalan tuntas.

“Transisi dari kendaraan BBM ke listrik dimulai Mei 2026 asalkan proses lelang kendaraan tersebut berhasil seluruhnya,” tegas Eri.

Dari sisi teknis otomotif, roadmap ini sudah berada di jalur yang tepat. Namun keberhasilannya akan ditentukan oleh tiga hal:

Kesiapan infrastruktur charging

Manajemen armada berbasis data

Efektivitas skema sewa

Jika ketiganya terpenuhi, maka langkah Surabaya selain sebagai efisiensi anggaran, juga menjadi standar baru pengelolaan armada kendaraan listrik di Indonesia. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan