← Beranda
Honda Ikut Berebut Peluang AI, Baterai Kendaraan Listrik Kini Dialihkan ke Pusat Data
Mellyna Putri DiniarSabtu, 4 Juli 2026 | 04.30 WIB
Pabrik baterai kendaraan listrik Honda dan LG Energy Solution di Ohio (TechCrunch)

JawaPos.com - Pergeseran besar dalam industri otomotif global kini semakin jelas: baterai tidak lagi sekadar komponen kendaraan listrik, tetapi menjadi infrastruktur kunci bagi ekonomi digital yang ditopang pusat data dan kecerdasan buatan. 

Di tengah melemahnya pasar kendaraan listrik di Amerika Serikat, Honda mengambil langkah strategis dengan mengalihkan produksi baterai dari kendaraan listrik ke sistem penyimpanan energi untuk pusat data.

Perubahan ini mencerminkan transformasi mendasar dalam struktur bisnis otomotif global. Permintaan listrik yang melonjak akibat ekspansi pusat data berbasis AI mendorong baterai menjadi aset strategis baru, tidak hanya untuk mobil, tetapi juga untuk stabilisasi jaringan listrik dan infrastruktur digital berskala besar.

Baca Juga: Masayoshi Son Tolak Ide Elon Musk Bangun Pusat Data di Orbit, Sebut Komputasi Bumi Lebih Menentukan Masa Depan AI

Dilansir dari TechCrunch, Jumat (3/7/2026), Honda mulai memproduksi baterai untuk sistem penyimpanan energi. Sel baterai yang sebelumnya dirancang untuk kendaraan listrik di Amerika Serikat kini dialihkan untuk kebutuhan pusat data. Laporan tersebut menegaskan, "sel-sel baterai tersebut kini menuju pusat data, bukan lagi ke garasi rumah," sebagai ilustrasi perubahan fungsi yang signifikan dalam strategi perusahaan.

Langkah ini diambil sekitar tiga bulan setelah Honda menghentikan sebagian program kendaraan listriknya di pasar Amerika Serikat. Produksi baterai tersebut dilakukan di fasilitas Ohio melalui kemitraan dengan LG Energy Solution. Meski strategi EV mengalami penyesuaian besar, Honda tetap mempertahankan kerja sama tersebut dan mengalihkannya ke pasar penyimpanan energi yang dinilai lebih stabil dan berkembang cepat.

Tekanan terhadap bisnis kendaraan listrik Honda dipicu oleh melemahnya permintaan di Amerika Serikat setelah penghapusan insentif pajak yang sebelumnya mendorong adopsi EV. Penjualan kendaraan listrik juga menurun dibandingkan tahun sebelumnya karena sebagian konsumen telah mempercepat pembelian sebelum insentif berakhir.

Ketidakpastian tersebut membuat Honda membatalkan tiga model EV untuk pasar Amerika Serikat. Perusahaan juga mencatat penurunan nilai aset sebesar USD 15,7 miliar atau sekitar Rp281,34 triliun (kurs Rp17.920 per dolar AS), yang mencerminkan restrukturisasi besar dalam strategi elektrifikasi. Di saat yang sama, pelemahan bisnis Honda di Tiongkok turut memperburuk tekanan keuangan perusahaan.

Di sisi lain, perubahan arah bisnis ini menempatkan baterai Honda dalam pasar yang lebih luas, yakni penyimpanan energi stasioner—sistem baterai yang digunakan untuk kebutuhan tetap seperti pusat data dan jaringan listrik, bukan kendaraan. Laporan Solar Energy Industries Association (SEIA) mencatat sektor ini tumbuh 32 persen secara tahunan. 

SEIA menyatakan, "Penyimpanan energi terus menjadi teknologi penting untuk meningkatkan keandalan jaringan listrik sekaligus mendukung integrasi energi terbarukan." Data tersebut memperkuat posisi baterai sebagai infrastruktur energi, bukan lagi sekadar komponen otomotif.

Pada kuartal pertama tahun ini, kapasitas instalasi penyimpanan energi mencapai 9,7 gigawatt-jam, setara dengan baterai untuk sekitar 120.000 kendaraan listrik. Proyeksi hingga akhir dekade menunjukkan kapasitas tahunan dapat meningkat hingga 110 gigawatt-jam, hampir tiga kali lipat dari level saat ini.

Dari sisi industri, Tesla menjadi salah satu pemain utama dengan margin laba kotor sekitar 30 persen pada produk penyimpanan energi seperti Megapack dan Powerwall, hampir dua kali lipat dibandingkan bisnis kendaraan listriknya. Kondisi ini memperkuat pergeseran global bahwa nilai baterai tidak lagi ditentukan oleh mobil, melainkan oleh perannya dalam menopang pusat data, jaringan listrik, dan transisi energi bersih.

Dengan dinamika tersebut, langkah Honda menandai realitas baru industri otomotif: kompetisi tidak lagi hanya terjadi di jalan raya, tetapi juga di balik layar ekonomi digital yang ditopang pusat data dan kecerdasan buatan.

Baca Juga: Pusat Data AI Hadapi Ancaman Iklim Global, Studi Ungkap Mayoritas Infrastruktur Digital Dunia Berada di Zona Risiko

EDITOR: Candra Mega Sari