← Beranda
Lanskap Ancaman Siber Indonesia Semakin Kompleks: Gerakan Hacktivisme Semakin Matang
Nanda PrayogaKamis, 24 Juli 2025 | 06.33 WIB
Head of Consulting, PT Ensign InfoSecurity Indonesia, Adithya Nugraputra. (Istimewa)

JawaPos.com - Ensign InfoSecurity (Ensign), penyedia layanan keamanan siber murni terbesar di Asia, merilis Laporan Lanskap Ancaman Siber (Cyber Threat Landscape Report) 2025. Laporan ini mengungkap tumbuhnya gerakan ekonomi siber bawah tanah yang pesat dan meningkatnya faktor kerentanan pada rantai pasok sistem keamanan siber pada berbagai sektor industri di kawasan Asia Pasifik sepanjang 2024.

Khusus untuk Indonesia, laporan ini menyoroti bagaimana kelompok “hacktivist” berevolusi, dari segi skala maupun kemampuan, yang dipicu oleh meningkatnya kolaborasi antar pelaku di gerakan ekonomi siber bawah tanah. 

Laporan ini juga menyoroti bagaimana para pelaku serangan siber mulai berkomplot bersama kelompok hacktivist dan pelaku kejahatan terorganisir guna meningkatkan kemampuan mereka dalam mendanani kampanye serangan siber yang berbasis ideologi.

Laporan Lanskap Ancaman Siber 2025 disusun berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Ensign dari seluruh kawasan Asia Pasifik sepanjang tahun 2024, termasuk Indonesia. Laporan ini memberikan gambaran komprehensif tentang lanskap ancaman siber yang terus berkembang, termasuk temuan tentang bentuk kolaborasi antara para pelaku ancaman siber.

"Perubahan bentuk gerakan hacktivisme menandai pergeseran serangan siber yang awalnya murni didorong oleh ideologi, menjadi sebuah kejahatan yang termotivasi oleh keinginan untuk memperoleh imbalan finansial. Gerakan siber bawah tanah kini semakin memicu adanya persaingan sekaligus kolaborasi antar pelaku, sehingga meningkatkan efektivitas serta tingkat keberhasilan serangan mereka," kata Head of Consulting, PT Ensign InfoSecurity Indonesia, Adithya Nugraputra di Jakarta, Rabu (23/7).

"Kelompok-kelompok gabungan ini, ditambah dengan meluasnya tingkat kerentanan dalam rantai pasok sistem keamanan siber, menjadikan para pelaku kejahatan siber, seperti hacktivist, menjadi lebih kuat, gigih, dan sulit untuk dilumpuhkan," imbuhnya.

Sementara itu, sepanjang 2024, industri yang paling ditarget serangan siber di Indonesia masih relatif sama dengan tahun sebelumnya yaitu sektor teknologi, media dan telekomunikasi (TMT), sektor keuangan, perbankan dan asuransi, serta layanan publik. Di sisi lain, sektor perhotelan (hospitality) muncul sebagai sasaran baru bagi para pelaku serangan siber.

Terkait bentuk serangan siber yang terjadi selama periode tersebut, ternyata hampir setengahnya berupa denial-of-service, diikuti pula dengan kebocoran data yang berkontribusi sekitar 25 persen dari jenis serangan.

Adithya menekankan bahwa pihaknya melihat banyaknya organisasi di Indonesia yang mengalami peretasan tanpa sepengetahuan perusahaan, seiring dengan percepatan transformasi digital, pelaku kejahatan siber menjadi semakin canggih, ditambah lagi dengan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang memperkuat kemampuan mereka.

"Organisasi tidak lagi bisa beranggapan bahwa sistem keamanan mereka sudah memadai. Mereka perlu memeriksa ulang sistem keamanan mereka secara berkala, menambal kerentanan yang ada dalam sistem, dan memastikan sistem keamanan siber mereka tetap relevan dalam menghadapi ancaman siber saat ini. Ensign berkomitmen untuk mendukung berbagai organisasi untuk membangun pertahanan siber yang lebih kuat dan tangguh," tukas Adithya.

Laporan dari Ensign InfoSecurity tersebut juga mencatat beberapa temuan lain terkait keamanan siber di kawasan Asia Pasifik dengan rincian antara lain:

1. Ekonomi Siber Bawah Tanah Berkembang Menjadi Ancaman Berkepanjangan

Ekosistem ekonomi ilegal di dunia maya kini berkembang pesat dan semakin terorganisir. Aktor-aktor kejahatan siber seperti kelompok ransomware, Initial Access Brokers (IABs), dan hacktivist mulai menjalin kolaborasi untuk melancarkan serangan dengan peran yang terstruktur sesuai spesialisasi masing-masing, demi meraih keuntungan finansial dari berbagai arah.

Contohnya, IABs menggunakan pendekatan “satu akses untuk banyak pembeli”, di mana mereka memperjualbelikan akses login (seperti kata sandi) kepada berbagai pihak. Selain itu, kelompok peretas yang didukung negara sering kali memanfaatkan jaringan kejahatan siber lain sebagai perantara serangan, sehingga menyulitkan identifikasi terhadap aktor utama di balik aksi tersebut. Kompleksitas kolaborasi ini membuat proses pelacakan menjadi lebih rumit.

2. Rantai Pasok Keamanan Siber Jadi Sasaran Utama

Serangan terhadap rantai pasok dalam sistem keamanan siber kini makin canggih, dengan fokus utama pada perusahaan penyedia perangkat keras, perangkat lunak, hingga penyedia layanan. Perusahaan jasa profesional seperti firma hukum, akuntansi, dan konsultan menjadi incaran karena tingginya tingkat kepercayaan yang diberikan oleh klien, yang kerap menitipkan data sensitif dalam jumlah besar.

Sayangnya, perusahaan di sektor ini umumnya masih memiliki sistem pertahanan digital yang lemah, sehingga kerap dijadikan titik awal penyusupan sebelum penyerang menargetkan jaringan yang lebih besar.

3. Aksi Peretasan yang Disponsori Negara Kian Mengemuka di Asia Pasifik

Di kawasan Asia Pasifik, kelompok-kelompok peretas yang memiliki dukungan dari negara semakin aktif dan mendalangi banyak serangan sepanjang 2024. Mereka biasanya memiliki sumber daya besar serta kemampuan teknis tingkat tinggi.

Ciri khas dari cara kerja mereka antara lain: kemampuan menyamarkan diri, ketekunan, dan pendekatan jangka panjang yang penuh perhitungan. Hal ini menjadikan mereka sangat efektif dalam merancang dan melancarkan serangan di masa mendatang.

4. Durasi Serangan Siber Meningkat Tajam, Deteksi Kian Sulit

Durasi rata-rata pelaku siber berada di dalam sistem tanpa terdeteksi (disebut dwell time) mengalami peningkatan signifikan pada 2024. Di seluruh sektor industri di Asia Pasifik, dwell time maksimum melonjak empat kali lipat dari 40 hari menjadi 201 hari. Bahkan durasi minimum pun naik lebih dari dua kali lipat menjadi tujuh hari.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa pelaku kejahatan digital kini memiliki lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi sistem korban, mencuri data, atau melakukan sabotase sebelum aksi mereka teridentifikasi.

EDITOR: Estu Suryowati