← Beranda
BGN Kaji Model Central Kitchen di Jepang untuk Program MBG
Dimas Choirul• Kamis, 24 September 2026 | 19.59 WIB
Audiensi BGN dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia, Rabu (23/9). (Istimewa)

JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mengkaji model central kitchen di Jepang untuk memperkuat penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal itu dilakukan melalui audiensi BGN dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia, Rabu (23/9).

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan, pertemuan dengan JICA bertujuan untuk memperluas pembelajaran dan menggali pengalaman negara lain dalam menyelenggarakan program makan bagi peserta didik.

“Intinya adalah kami ingin belajar dari negara yang salah satu yang terbaik dalam program free meals-nya. Kami sedang mempelajari hal-hal yang bisa kita dapat dari program tersebut, mulai dari cara pelaksanaan, penanganan, hingga peran masing-masing pihak,” ujar Mas Dar, sapaan Sudaryono.

Baca Juga: BGN Setop Operasional SPPG di 4 Daerah, Termasuk di Karo

Menurut dia, pembelajaran tidak hanya mencakup aspek penyelenggaraan makanan, tetapi juga tata kelola dan keterlibatan berbagai pihak dalam ekosistem program.

Dalam praktik di Jepang, BGN mempelajari peran sekolah, guru, kepala sekolah, siswa, hingga orang tua dalam mendukung keberlangsungan program.

“Kami ingin banyak mendengar, banyak belajar, banyak melihat, kemudian banyak mengadopsi yang baik-baik dan yang bagus-bagus dari banyak sumber, sehingga program free meals kita ini bisa berjalan sebaik-baiknya di Indonesia,” jelasnya.

Kerja sama antara Indonesia dan JICA dalam konteks pembelajaran program makan bagi siswa telah terbangun sejak 2024 dan akan terus berlanjut.

Salah satu bentuknya dilakukan melalui pengiriman peserta pelatihan ke Jepang untuk mempelajari secara langsung penyelenggaraan program free meals bagi siswa.

Baca Juga: Bayi 10 Bulan hingga Relawan SPPG Ikut Keracunan MBG di Batang, Korban Tembus 300

Dalam audiensi tersebut, BGN juga memperoleh pembelajaran mengenai variasi model penyediaan makanan di Jepang.

Mas Dar menjelaskan, penyelenggaraan program makan bagi siswa di Jepang tidak seluruhnya dilakukan dengan memasak makanan di sekolah.

Ada Masak di Sekolah, Ada Central Kitchen 

Selain model yang dimasak langsung di sekolah, terdapat pula model Central Kitchen, yakni makanan diproduksi di dapur terpusat, kemudian dibawa ke sekolah untuk didistribusikan kepada siswa.

“Di Jepang sendiri juga mengadopsi adanya Central Kitchen. Jadi ada dua tipe, ada yang dimasak di sekolah, tetapi ada juga yang menggunakan model Central Kitchen, yaitu makanan dibuat di Central Kitchen, kemudian dibawa ke sekolah dan didistribusikan di sekolah,” jelas Sudaryono.

Pembelajaran mengenai model tersebut menjadi salah satu referensi baru bagi BGN untuk melihat kemungkinan penyesuaian praktik yang relevan dengan pelaksanaan MBG di Indonesia.

Baca Juga: Viral Video Guru Tolak Endus MBG: Kami Ngajar, Bukan Tukang Endus

Menurut dia, pengalaman Jepang dapat menjadi bahan pembelajaran untuk terus menyempurnakan model penyelenggaraan MBG sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik Indonesia.

“Ini menjadi satu pelajaran baru. Siapa tahu kita bisa juga meniru dengan langkah-langkah yang barangkali perlu di-adjust terhadap pelaksanaan MBG bagi kita,” tuturnya.

Ia menambahkan, BGN terbuka terhadap pengalaman dan inovasi dari berbagai pihak sebagai bagian dari proses penguatan penyelenggaraan MBG.

Pembelajaran tidak hanya diarahkan kepada satu negara, tetapi juga dapat dilakukan dengan melihat pengalaman berbagai negara yang memiliki program sejenis.

“BGN tidak menutup mata bahwa kita ada persoalan, tetapi kita juga tidak boleh menutup mata terhadap inovasi, pengalaman best practice, atau pengalaman terbaik dari banyak pihak, termasuk dari negara lain. Apakah Jepang, India, Brasil, dan banyak negara lainnya,” ujar Mas Dar.

Baca Juga: Analisa Drone Emprit: Sentimen Negatif MBG Capai 76,6 Persen

Berbagai pengalaman tersebut dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.

Dengan pendekatan tersebut, BGN berupaya memastikan setiap pembelajaran yang diperoleh dapat memberikan nilai tambah bagi penguatan tata kelola dan pelaksanaan MBG.

“Yang kita cari adalah model seperti apa yang kemudian terbaik yang bisa kita lakukan dengan yang sekarang sudah ada. Tinggal kita adopsi sedikit dan kita sesuaikan,” pungkas Sudaryono.

 

EDITOR: Bayu Putra