← Beranda
Mengenal Diplomasi Spiritual ala Ary Ginanjar Agustian
Ilham Safutra• Rabu, 23 September 2026 | 04.58 WIB
Ary Ginanjar Agustian bersama Wakil PM Malaysia Dato' Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi di Menara 165, Jakarta, Minggu (20/9). (Istimewa)

 

JawaPos.com - Pendiri ESQ Ary Ginanjar Agustian mengenalkan istilah diplomasi spiritual. Yaitu, membangun jembatan persaudaraan melalui hubungan hati dan nilai-nilai yang melampaui kepentingan politik.

Istilah itu diungkap Pendiri ESQ Corp dan Universitas itu saat menerima lawatan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi ke Menara 165, Jakarta, pada Minggu (20/9).

"Persahabatan kami tidak melihat jabatan, tetapi persahabatan hati. Dalam keadaan suka maupun duka, hubungan itu tetap terjaga," ujar Ary kepada media di Jakarta, Selasa (22/9).

Pertemuan Ary Ginanjar dengan Dato' Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi bukan sekadar reuni dua sahabat yang telah mengenal lebih dari dua dekade. Pertemuan itu menjadi pengingat bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia sebagai negara serumpun juga dapat dirawat melalui nilai budaya, spiritualitas, dan kemanusiaan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Mereda, Pasar Soroti Diplomasi AS-Iran di Sidang PBB

Dia menuturkan, ketika hubungan antarnegara kerap dibangun melalui meja diplomasi, ada jalur lain yang tidak kalah penting, yakni hubungan antarmanusia. 

Hubungan Ary Ginanjar dengan Ahmad Zahid Hamidi terjalin sejak wakil perdana menteri itu menjabat sebagai Menteri Agama Malaysia. Ketika itu ada kesamaan perhatian terhadap pembangunan manusia melalui keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Semua itu menjadi salah satu fondasi hubungan kedua tokoh tersebut.

Persahabatan terus berlangsung melewati perjalanan Ahmad Zahid di sejumlah posisi penting, mulai dari Menteri Pertahanan, Menteri Dalam Negeri, hingga menjadi Wakil Perdana Menteri Malaysia.

Salah satu kenangan yang paling membekas bagi Ary Ginanjar terjadi ketika hubungan Indonesia dan Malaysia sempat memanas akibat persoalan Ambalat. Pada periode tersebut, Ahmad Zahid yang menjabat Menteri Pertahanan Malaysia tetap datang ke Menara 165. 

Menurut tokoh yang mengenalkan istilah 165 itu, pertemuan tersebut bahkan mempertemukan sejumlah tokoh pertahanan dari kedua negara dalam suasana dialog. Kehadiran tersebut menunjukkan bahwa hubungan personal dapat tetap menjadi ruang komunikasi ketika hubungan formal kedua negara sedang menghadapi tantangan.

Baca Juga: Amerika Serikat Pilih Jalur Diplomasi dan Tidak Membantu Arab Saudi Hadapi Serangan Yaman

"Beliau menyebutnya diplomasi spiritual. Hubungan Indonesia-Malaysia tidak cukup didekatkan melalui politik saja, tetapi juga melalui hubungan kultural dan spiritual," jelasnya.

Pengalaman itu bagi Ary menjadi salah satu gambaran bahwa hubungan antarmanusia dapat membuka ruang dialog dan membangun kepercayaan di tengah situasi yang sensitif. Apalagi di Malaysia dan Indonesia terdapat 2,5 juta alumni ESQ. Jumlah itu menjadi jembatan hubungan masyarakat Indonesia dan Malaysia.

"Ketika rakyat Indonesia datang ke Malaysia, mereka disambut oleh alumni ESQ. Begitu pula ketika rakyat Malaysia datang ke sini, Menara 165 menjadi rumah persaudaraan," katanya.

Ary menilai ada persoalan yang lebih mendasar yang perlu mendapat perhatian bersama, yakni pembangunan manusia. Perkembangan kecerdasan buatan, teknologi, dan perubahan ekonomi global yang semakin cepat harus diimbangi dengan pembangunan karakter dan nilai spiritual.

"Hari ini teknologi berkembang sangat cepat. Justru karena itu, nilai spiritual harus menjadi fondasi untuk membangun manusia seutuhnya, menggabungkan IQ, EQ, dan SQ," tuturnya.

EDITOR: Ilham Safutra