JawaPos.com - Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) menyatakan bahwa udara di Kalimantan dan Sumatera Selatan (Sumsel) belakangan ini masuk kategori tidak sehat dan berbahaya. Itu terjadi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karo Humas dan Datin Kemenko Polkam Brigjen TNI Honi Havana menyampaikan bahwa asap karhutla menyebabkan dampak kesehatan. Menurut dia, itu terjadi karena udara di beberapa daerah terdampak karhutla terkontaminasi asap yang pekat.
”Dampak kesehatan sebagai dampak dari polusi udara yang saat ini memang bisa dikategorikan, terutama di kalimantan dan sumsel ini, dalam kategori tidak sehat sampai dengan berbahaya,” terang dia dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa (22/9).
Untuk menangani dampak tersebut, Honi menegaskan bahwa Kemenko Polkam terus bekerja keras dan sangat serius dalam penanggulangan karhutla. Semua unsur dikerahkan untuk memadamkan api.
Baca Juga: PNM Peduli Hadirkan Trauma Healing untuk Dukung Nasabah Flores NTT Bangkit dan Kembali Berusaha
”Sebagai dampak dari terbakarnya lahan, terbakarnya pohon-pohonan sebagai produsen dari oksigen, kebakaran sendiri juga mengurangi jumlah oksigen, kemudian juga ada partikel-partikel yang mungkin sekiranya membahayakan, inilah yang menjadi perhatian serius dari pemerintah,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sudah terjadi 174.694 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla. Data tersebut dihimpun melalui sistem surveilans kesehatan Kemenkes sejak Agustus hingga 21 September 2026.
”Untuk hari ini, ada 4.533 (kasus ISPA). Jadi, yang sisanya sudah sembuh atau sehat kembali,” ucap Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti.
Kemenkes menyebut 40.363 kasus ISPA terjadi pada balita. Data tersebut berasal dari pemantauan di 63 kabupaten dan kota yang terdampak karhutla beberapa pekan belakangan. Hingga saat ini penanggulangan karhutla dilakukan oleh lintas instansi.