JawaPos.com - Fenomena El Nino ekstrem membutuhkan keterlibatan seluruh pihak dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Upaya pencegahan menanggulangi kebakaran tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah dan perusahaan pemegang konsesi semata. Diperlukan semangat gotong royong.
Pakar Hukum Kehutanan Universitas Al-Azhar Indonesia Sadino mengatakan, kondisi El Niño berpotensi membuat dampak kebakaran menjadi lebih besar dengan durasi yang lebih panjang. Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan kesiapan sumber daya, sarana dan biaya yang tidak sedikit.
“Kalau dilihat dari kondisi El Niño memang ada potensi ke sana. Dampaknya lebih besar dengan waktu yang lebih panjang. Tentu memerlukan biaya besar, maka diperlukan kerja sama semua pihak,” ujar Sadino kepada media pada Jumat (4/9).
Menurut dia, kebakaran merupakan musibah sekaligus ujian yang dapat terjadi di berbagai wilayah dan tidak mengenal status penguasaan lahan. Bahkan, kawasan hutan negara seperti taman nasional juga tidak terlepas dari ancaman kebakaran. “Api tidak bisa membedakan penguasaan lahan,” katanya.
Baca Juga: Ancaman Karhutla kembali Meningkat, Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan sepanjang September
Sadino mengingatkan agar penanganan karhutla dilakukan secara hati-hati dan tidak langsung menggeneralisasi bahwa setiap kebakaran disebabkan oleh perusahaan atau kelompok tertentu. Penyebab kebakaran perlu dibuktikan berdasarkan fakta di lapangan.
Sebagian besar pihak tentu tidak menghendaki terjadinya kebakaran. Namun, apabila ditemukan adanya pembakaran yang disengaja dan memiliki motif tertentu, hal tersebut menjadi ranah aparat penegak hukum untuk membuktikannya.
Untuk itu, pentingnya penelusuran fire origin atau asal mula api dalam proses investigasi kebakaran. Penentuan titik awal kebakaran dapat membantu mengetahui dari mana api pertama kali muncul, tetapi belum otomatis menunjukkan siapa yang menyalakan api atau pihak yang harus bertanggung jawab. “Fire origin secara satelit mungkin diketahui, tetapi secara faktual sulit dilacak asal-usul apinya,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan menjadi lebih kompleks karena masih terdapat kawasan hutan dan lahan yang bersifat open access atau tidak terjaga secara optimal. Karena itu, lokasi kebakaran, titik awal api, sumber api dan pihak yang bertanggung jawab harus dibedakan dalam proses investigasi. Pendekatan berbasis fakta tersebut diperlukan agar penanganan karhutla tidak berubah menjadi saling tuding antarpihak.
Dalam menghadapi El Niño ekstrem, Sadino menilai kolaborasi harus menjadi pendekatan utama, terutama dalam upaya pemadaman dan mencegah api meluas.
Baca Juga: Hotspot Karhutla di Kalbar dan Kalteng Kembali Melonjak, Pemerintah Pastikan jadi Prioritas Nasional
Dia berpendapat, sarana dan prasarana yang dimiliki perusahaan dapat dioptimalkan untuk membantu penanganan kebakaran. Pada saat yang sama, pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat mengerahkan sumber daya manusia serta kemampuan yang dimiliki untuk mendukung operasi di lapangan. “Kerja sama pemadaman dan mengurangi meluasnya lahan terbakar diperlukan gotong royong semua pihak,” tegasnya.
Jika diperlukan, teknologi seperti modifikasi cuaca juga dapat digunakan sebagai bagian dari upaya menghadapi kondisi El Niño. Di tingkat masyarakat, kelompok-kelompok peduli api di wilayah rawan kebakaran juga perlu kembali digerakkan dan dilibatkan secara aktif.
Dengan demikian, penanganan karhutla tidak hanya menunggu api membesar untuk kemudian dipadamkan, tetapi membangun sistem bersama sejak tahap pencegahan, deteksi dini hingga penanganan ketika kebakaran terjadi.
Untuk itu, Indonesia perlu realistis bahwa kebakaran hutan tidak selalu dapat dicegah dan ditanggulangi secara total. Bahkan negara maju seperti sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat menghadapi tantangan serupa ketika terjadi kebakaran besar.
Karena itu, strategi yang diperlukan bukan hanya berupaya menghilangkan seluruh risiko kebakaran, tetapi membangun kemampuan untuk beradaptasi terhadap kondisi El Niño dan mengurangi dampaknya.
Baca Juga: Tindak Lanjuti Arahan Kapolri, Polda Jatim Perkuat Patroli dan Pencegahan Karhutla
“Seperti halnya di Eropa juga Amerika, tidak bisa total mencegah dan menanggulangi kebakaran. Agar El Niño tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar, kita mesti adaptif terhadap El Niño,” katanya.
Adaptasi tersebut antara lain dilakukan dengan mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan api. Penggunaan api secara sembarangan maupun kebiasaan membakar harus semakin dikendalikan, terutama ketika kondisi lingkungan sangat kering.
Di tengah ancaman tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya pendekatan spiritual masyarakat. Salah satunya melalui pelaksanaan salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar dan doa memohon hujan kepada Tuhan.