JawaPos.com - Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menilai agenda transformasi yang digulirkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto perlu dilanjutkan ke tahap yang lebih terintegrasi.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia (SDM) harus berjalan beriringan dengan transformasi ekonomi nasional.
Azis berpandangan sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari penguatan pendidikan, hilirisasi, investasi, ketahanan pangan hingga pengembangan ekonomi desa, telah membangun fondasi untuk menghadapi berbagai tantangan ketenagakerjaan.
Fondasi tersebut, kata dia, perlu diarahkan untuk menciptakan kapasitas produktif baru sekaligus menjawab persoalan pengangguran terdidik yang semakin kompleks akibat perubahan struktur pasar kerja.
“Arah transformasinya sudah terbentuk. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh program tersebut semakin terhubung dan menghasilkan kapasitas produktif baru,” kata Azis kepada wartawan, Selasa (1/9).
Salah satu aspek yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih, yakni keterkaitan antara pendidikan dengan struktur ekonomi yang tengah dikembangkan pemerintah.
Menurutnya, menilai persoalan pengangguran dari kalangan lulusan pendidikan tinggi tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan job matching, yakni mempertemukan lulusan dengan lowongan pekerjaan yang tersedia.
Ia mendorong perubahan pendekatan menuju konsep productive matching, yang tidak sekadar berorientasi pada penempatan tenaga kerja, tetapi juga bagaimana kompetensi manusia dapat dikombinasikan dengan sumber daya, teknologi, modal dan akses pasar.
“Productive matching bukan hanya bertanya pekerjaan apa yang tersedia, tetapi bagaimana kemampuan manusia dipertemukan dengan sumber daya, teknologi, modal dan pasar sehingga menciptakan nilai yang sebelumnya belum ada,” jelasnya.
Menurut Azis, gagasan tersebut semakin penting seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, serta perubahan kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Namun, ia mengingatkan agar tuntutan adaptasi terhadap perubahan teknologi tidak hanya dibebankan kepada para pencari kerja maupun lulusan baru.
“Tidak cukup mengatakan kepada lulusan bahwa mereka harus terus upskill dan reskill. Kita juga harus membangun ekosistem ekonomi yang memungkinkan pengetahuan mereka benar-benar bekerja,” tegasnya.
Hilirisasi harus ciptakan pekerjaan produktif
Azis menilai, kebijakan hilirisasi yang menjadi salah satu agenda pemerintahan Prabowo dapat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang mampu menyerap dan mengembangkan kompetensi masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan hilirisasi tidak seharusnya hanya dilihat dari peningkatan nilai tambah komoditas. Lebih jauh, kebijakan tersebut harus mampu meningkatkan penguasaan teknologi, keterampilan dan penciptaan pekerjaan produktif bagi masyarakat Indonesia.
“Pendidikan dan hilirisasi sesungguhnya merupakan satu agenda. Semakin banyak pengetahuan manusia Indonesia yang bekerja di atas sumber daya Indonesia, semakin besar nilai yang bisa kita ciptakan di dalam negeri,” ujarnya.
Karena itu, Azis mendorong pemerintah memperkuat keterkaitan antara kebijakan investasi dan pembangunan industri dengan perencanaan pendidikan nasional.
Ia mencontohkan, apabila dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang Indonesia menargetkan pengembangan industri pangan modern, baterai, petrokimia, maritim, kecerdasan buatan, bioteknologi hingga energi baru, kebutuhan terhadap insinyur, teknisi, peneliti dan tenaga terampil harus dipetakan sejak dini.
Dengan demikian, dunia pendidikan dapat menyiapkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri sebelum investasi dan proyek tersebut mulai beroperasi.
“Data investasi harus berbicara dengan data pendidikan. Kebutuhan tenaga industri seharusnya masuk ke perencanaan pendidikan sebelum industrinya beroperasi,” jelasnya.
Perguruan tinggi perlu terlibat
Selain sinkronisasi antara pendidikan dan industri, Azis juga mendorong perguruan tinggi mengambil peran yang lebih besar dalam menyelesaikan persoalan ekonomi di daerah.
Ia menilai riset yang dihasilkan kampus perlu didorong agar tidak berhenti pada publikasi akademik. Hasil penelitian diharapkan dapat dikembangkan menjadi teknologi, mesin, aplikasi, proses produksi maupun model bisnis yang memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat.
Menurut Azis, berbagai program pembangunan manusia dan ekonomi yang dijalankan pemerintahan Prabowo pada akhirnya harus ditempatkan dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
“Fondasi transformasi sudah diletakkan. Tahap berikutnya adalah memastikan pendidikan bertemu industri, penelitian bertemu modal, investasi bertemu tenaga terampil, dan seluruhnya menghasilkan kesempatan produktif bagi rakyat,” beber Azis.
Ia menegaskan, peningkatan kualitas SDM harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pembangunan ekonomi agar pengetahuan dan keterampilan masyarakat dapat menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.
“Negara maju pada akhirnya adalah negara yang berhasil membuat pengetahuan rakyatnya bekerja,” pungkasnya. (*)