← Beranda
Luhut Bertemu Menlu Tiongkok Wang Yi, Bahas Kerja Sama AI hingga Pengentasan Kemiskinan
Djati WaluyoMinggu, 23 Agustus 2026 | 16.57 WIB
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan (kanan) dengan Menteri Luar Negeri Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Wang Yi di Jakarta. (Instagram Luhut Binsar Pandjaitan)

 

 

JawaPos.com - Indonesia dan Tiongkok sepakat memperdalam kemitraan strategis yang tidak hanya bertumpu pada proyek infrastruktur berskala besar, tetapi juga mencakup pengembangan teknologi masa depan, pengentasan kemiskinan, hingga transformasi digital.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dengan Menteri Luar Negeri Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Wang Yi dalam pertemuan bilateral di Jakarta, Sabtu (22/8).

Pertemuan tersebut sekaligus menjadi upaya kedua negara untuk memperluas ruang kerja sama di berbagai sektor strategis.

Luhut menegaskan bahwa fondasi dari seluruh kerja sama yang terjalin adalah rasa saling percaya yang dibangun secara konsisten melalui dialog yang berkelanjutan.

"Hubungan kemitraan antara kedua negara ini ibarat jalinan persahabatan. Semakin sering bertemu dan berdialog, semakin kuat rasa saling percaya di antara keduanya. Itulah yang membuat ruang kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok selalu semakin luas dari waktu ke waktu," ujar Luhut dalam keterangan yang diterima, Minggu (23/8).

Luhut mengatakan, Indonesia dan Tiongkok menekankan kemitraan strategis yang telah terjalin harus menghasilkan dampak yang konkret dan dirasakan langsung oleh masyarakat luas, bukan sekadar kesepakatan di atas kertas.

"Kerja sama Indonesia-Tiongkok tidak boleh berhenti sebatas proyek megah semata. Hasilnya harus konkret: membuka lapangan kerja, mentransfer teknologi, dan menaikkan taraf hidup masyarakat kita," ujarnya.

Untuk menindaklanjuti komitmen tersebut, DEN bersama National Development and Reform Commission (NDRC) Tiongkok tengah merumuskan peta jalan strategis jangka panjang yang mencakup sejumlah agenda prioritas.

Luhut menjelaskan, melalui kerangka kerja sama DEN dengan NDRC Tiongkok, kedua pihak berencana menyusun peta jalan sejumlah agenda strategis. Mulai dari keberlanjutan infrastruktur seperti kereta cepat, pengembangan energi hijau di Kalimantan Utara, hingga pembelajaran dari pengalaman Tiongkok dalam pengentasan kemiskinan dan revitalisasi pedesaan.

Di luar agenda infrastruktur dan energi, kedua pihak juga membuka ruang kolaborasi di sektor-sektor berbasis teknologi masa depan, dengan tetap mengutamakan kedaulatan data dan keamanan siber nasional.

“Selain agenda infrastruktur dan energi, peluang besar juga terbuka di sektor AI dan transformasi digital (GovTech), tentunya dengan tetap menjaga kedaulatan data dan keamanan siber nasional. Begitu pula pengembangan TSTH2 untuk riset biodiversitas dan teknologi kesehatan,” ucapnya.

Kolaborasi strategis Indonesia-Tiongkok diharapkan dapat menjadi model percontohan sinergi antarnegara Global South yang menggabungkan keunggulan komparatif masing-masing secara saling melengkapi.

Baca Juga: Menlu Tiongkok Wang Yi akan Datang ke Indonesia, akan Lakukan Pertemuan 2+2

“Tiongkok memiliki kapital, teknologi, dan kapasitas industri. Indonesia memiliki sumber daya, biodiversitas, populasi muda, serta pasar yang besar. Jika kekuatan ini digabungkan atas dasar kepercayaan, kerja sama dua kekuatan Global South ini akan membawa kemakmuran bagi kedua bangsa, sekaligus memberikan manfaat bagi dunia,” ungkapnya. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan