JawaPos.com - Penyanderaan 9 orang oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah menjadi atensi DPR. Komisi XIII DPR meminta agar pemerintah bergerak lebih cepat menangani peristiwa yang melibatkan anak-anak sebagai korban tersebut.
Anggota Komisi XIII DPR Mafirion mendesak pemerintah dan aparat keamanan dari TNI maupun Polri bergerak cepat menyelamatkan 9 perempuan yang disandera oleh kelompok bersenjata di Papua. Menurut dia, aksi tersebut sudah masuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat. Sehingga tidak bisa ditoleransi.
Menurut Mafirion, kondisi psikologis dan keselamatan fisik para korban kini berpacu dengan waktu. Apalagi para korban adalah kelompok rentan, termasuk anak-anak. Mereka kerap diposisikan dalam kerentanan berlapis yang membahayakan masa depan.
”Ini bukan sekadar persoalan keamanan, melainkan keselamatan dan masa depan anak-anak. Mereka seharusnya berada di lingkungan aman, mendapatkan pendidikan, dan tumbuh tanpa rasa takut,” kata dia di Jakarta pada Kamis (20/8).
Legislator PKB tersebut mengingatkan agar operasi pembebasan dilakukan secara presisi dan terukur. Langkah penanganan tidak boleh spekulatif demi menyelamatkan nyawa para sandera. Dia ingin mereka dibebaskan dalam keadaan baik-baik saja.
”Aparat dan pihak terkait harus bekerja secara terpadu dengan perhitungan matang, tetapi tetap bergerak cepat,” ujarnya.
Sebelumnya, Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak mengkonfirmasi informasi tersebut. Dia mengakui telah menerima laporan penyanderaan tersebut. Dari laporan yang dia terima, ada 11 orang yang menjadi sasaran KKB. Namun 2 orang menolak dibawa ke dalam hutan.
”Informasinya, ibunya tewas ditembak, sedangkan anaknya dibuang ke jurang. Sementara 9 perempuan lainnya dibawa ke hutan,” kata Alredo pada Rabu (19/8).
Laporan yang diterima oleh pihak kepolisian menyebutkan bahwa 9 orang perempuan yang disandera masing-masing bernama Nemerina Wamanf (17) yang dilaporkan sedang hamil muda, Alin Mesawarol (pelajar kelas VI SD), Nopi Aim (pelajar kelas IV SD), Opinte Mesawaro (pelajar kelas III SD), Yotina Senawatme (18), Meria Nibilingame (15), Wena Katagame (18), Ilimin Onawame (18), dan Miante Nibilingame (13).
”Untuk identitas korban meninggal dunia akibat ditembak Neregingget Magai (48) dan anak yang dilempar ke jurang Inkolung Aim, dengan kondisi luka patah kaki,” terang dia.
Atas tindakan KKB tersebut, pihak kepolisian sudah mengambil langkah. Saat ini petugas menindaklanjuti laporan, melakukan pengecekan dan olah tempat kejadian perkara (TKP), dan memperkuat pengamanan di wilayah Jila. Polres Mimika juga sudah meminta perkuatan personel dari Brimob Polri.
Namun demikian, kondisi geografis menjadi kendala dalam pengiriman personel ke Distrik Jila. Menurut Alredo, akses menuju distrik tersebut hanya dapat ditempuh melalui jalur udara. Karena itu, pengerahan personel dalam jumlah besar membutuhkan dukungan transportasi udara.
”Kemungkinan kami akan mengirim personel menggunakan helikopter, 1 regu dari Batalyon B Brimob Mimika,” kata dia.
Meski belum tertangkap, KKB yang menyandera 9 orang perempuan diperkirakan berjumlah 15 orang. Polisi menyebut, kelompok itu masih sama dengan dalang di balik penyerangan Pos Satgas Pam Obvit Yonif 133/YS milik PT Freeport Indonesia di Jila pada 17 Agustus 2026. Dalam serangan tersebut, seorang prajurit TNI gugur dan 2 lainnya mengalami luka tembak.
”Kemungkinan masih kelompok KKB yang melakukan penembakan terhadap Pos Satgas 133/YS di Jila. Setelah melakukan penembakan, kemudian terjadi aksi penyanderaan,” tandasnya.