JawaPos.com - Gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8). Bila ditarik ke belakang, lindu yang terjadi di NTT kerap berpusat di kedalaman dangkal. Data sejak 1898 menunjukkan hal itu.
Merujuk data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berkekuatan besar tersebut berpusat di kedalaman dangkal 15 kilometer. Akibat guncangan itu, peringatan dini tsunami sempat menyala.
”Guncangan gempa tersebut sempat memicu gelombang tsunami yang menerjang beberapa kawasan pesisir,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangan resminya.
Baca Juga: Data Terbaru: 47 Korban Meninggal Dunia Akibat Gempa Bumi Magnitudo 7,7 di NTT
Menurut Faisal, gempa bumi tersebut masuk kategori gempa bumi dangkal yang timbul akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau biasa disebut Flores Back Arc Thrust.
Secara histori, struktur Flores Back Arc Thrust menyimpan rekam jejak gempa merusak yang panjang, termasuk gempa M7,8 pada kedalaman 28 kilometer yang melanda kawasan tersebut pada 1992 silam.
”Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal (15 kilometer), sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan infrastruktur serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara,” beber dia.
Data korban meninggal dunia pasca gempa bumi tersebut sudah menyentuh angka 47 orang sampai pukul 18.48 WITA. Selain itu, Tim SAR Gabungan juga mencatat puluhan korban luka-luka, baik luka berat maupun ringan. Mereka dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat.
Gempa bumi di NTT juga pernah terjadi pada 2021. Saat itu guncangan lindu berkekuatan magnitudo 7,4 bersumber dari kedalaman 10 kilometer. Untungnya kerusakan yang terjadi akibat gempa bumi tersebut masih masuk kategori ringan dan sedang. Tidak terdapat catatan laporan korban meninggal dunia.
Pada 1992, gempa bumi juga terjadi di NTT dengan pusat gempa berada pada kedalaman 33 kilometer di Laut Flores. Akibat gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 7,8 tersebut, sebanyak 2.500 korban meninggal dunia. Gempa bumi itu juga menyebabkan tsunami dengan ketinggian puluhan meter.
Catatan lain menyebut gempa bumi di NTT terjadi pada 1977 dengan kekuatan magnitudo 8,3 dan menyebabkan lebih dari 200 orang meninggal dunia. Kemudian pada 1898 terjadi gempa bumi di NTT yang menelan korban jiwa lebih dari 250 orang.
Riwayat kegempaan di NTT tersebut menunjukkan bahwa daerah itu cukup rawan gempa berkekuatan besar yang sumbernya masuk kategori dangkal. Untuk itu, masyarakat harus selalu waspada dan mengikuti setiap anjuran pemerintah terkait dengan mitigasi gempa bumi.