JawaPos.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI memperkuat diplomasi publik dan negosiasi internasional. Hal itu sebagai strategi memperkokoh posisi Indonesia dalam tata kelola kehutanan global dan memimpin diplomasi kehutanan internasional.
Indonesia memiliki hutan tropis yang luas, mangrove terluas di dunia, kekayaan biodiversitas yang luar biasa, serta berbagai praktik baik dalam pengelolaan hutan lestari.
Namun menurut kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi, seluruh capaian tersebut tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak mampu dikomunikasikan secara efektif kepada dunia.
Baca Juga: Bidik Investor Tiongkok-Rusia untuk Wujudkan Kereta Api Trans-Kalimantan
”Produk yang baik harus dikenal, dipercaya, dan direkomendasikan,” papar Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi seperti dilansir dari Antara di Jakarta.
Dia menjelaskan langkah penguatan diplomasi dilakukan sejalan dengan arah kebijakan Menhut Raja Juli Antoni yang mendorong Indonesia tidak hanya menjadi penjaga hutan tropis dunia, tetapi juga tampil sebagai pemimpin dalam diplomasi kehutanan internasional.
Sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, lanjut dia, Indonesia tidak hanya berkepentingan menjaga kelestarian hutan.
Baca Juga: 1.700 Dapur MBG di Wilayah dengan Stunting Tertinggi Segera Beroperasi, BGN: Aktivasi Bertahap
Indonesia juga aktif menawarkan praktik terbaik, inovasi kebijakan, dan kerja sama internasional untuk mendukung pencapaian target iklim global, konservasi keanekaragaman hayati, serta pembangunan berkelanjutan.
Sementara itu, Indonesia dan Korea Selatan memperkuat kerja sama dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal itu dilakukan melalui pembangunan Indonesia Forest and Land Fire Management Center di Daops Manggala Agni Sumatera XVII/OKI, Sumatera Selatan.
Adanya pusat pengendalian ini diharapkan memperkuat kapasitas Indonesia dalam menghadapi ancaman karhutla yang semakin kompleks akibat perubahan iklim.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni sebelumnya telah bertemu dengan Menteri Korea Forest Service (KFS) Park Eun-Sik dalam kunjungan kerja ke Korea Selatan pada April, membicarakan progres kerjasama.
“Banyak inisiatif yang akan kita kerja samakan, tapi salah satunya memfinalisasi Forest and Land Fire Management Center yang baru saja kita lihat ini. Mudah-mudahan Menteri Park datang ke Indonesia memperpanjang kerja sama, sekaligus meresmikan Forest and Land Fire Management Center,” kata ujar Raja Antoni usai melakukan pengecekkan Indonesia Forest and Land Fire Management Center, Kamis (6/8).
Menurut Raja Antoni, kerja sama Indonesia dan Korea di bidang pengendalian karhutla akan terus diperluas. Sebab, dampak kebakaran hutan tidak berhenti pada batas administrasi suatu daerah maupun negara.
Baca Juga: Istana Bantah Isu Pergantian Kapolri, Tegaskan Tak Ada Surpres Pengganti Listyo Sigit
Asap akibat karhutla dapat menyebar ke berbagai wilayah hingga melintasi batas negara (transboundary haze), sehingga membutuhkan kolaborasi internasional dalam upaya pencegahan dan penanganannya.
”Karena asap hasil kebakaran hutan itu tidak mengerti wilayah administratif. Kebakarannya di OKI, tapi bisa dirasakan di daerah lain, bahkan sampai luar negeri. Asap itu bisa melampaui lintas batas negara,” terang Raja Juli Antoni.
Menhut Raja Antoni, pengalaman Indonesia dalam menghadapi karhutla terus menunjukkan perbaikan dari tahun ke tahun.
Baca Juga: Isu Pergantian Kapolri Dinilai Berpotensi Rugikan Presiden Prabowo
Pemerintah menargetkan luas kebakaran hutan dan lahan tetap dapat ditekan meski tahun ini dihadapkan pada ancaman El Nino yang datang lebih cepat akibat perubahan iklim.
”Mudah-mudahan tahun ini kita bisa membuktikan bahwa meskipun El Nino datang lebih cepat, angka karhutla jauh lebih rendah dibandingkan 2023, dengan dampak yang seminimal mungkin bagi masyarakat,” kata Raja Juli Antoni.
Korea Indonesia Forest Center (KIFC) Co-Director Jeong Cheol-Ho mengatakan, pusat pengendalian kebakaran hutan itu merupakan hasil dari kolaborasi yang telah dibangun kedua negara selama lima tahun terakhir.
Baca Juga: Kemendiktisaintek Ungkap Temuan Awal Paper Soal MBG di SSRN yang Catut Nama Prabowo
Menurut dia, Indonesia dan Korea selama ini saling berbagi teknologi, pengalaman, serta praktik terbaik dalam pengendalian kebakaran hutan hingga akhirnya melahirkan Indonesia Forest and Land Fire Management Center.
”Lima tahun lalu kita duduk bersama untuk mencari cara terbaik mengatasi kebakaran hutan di Indonesia. Kita berbagi ide, teknologi, dan pengalaman. Hari ini hasil dari kerja keras kita adalah Pusat Manajemen Kebakaran Hutan ini. Tapi yang lebih berharga dari fasilitas ini adalah semangat, pikiran, dan kerja sama yang ada di dalamnya,” kata Jeong.
Jeong memastikan kerja sama Indonesia dan Korea di bidang pengendalian karhutla tidak berhenti pada proyek yang selesai tahun ini.