JawaPos.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkap tantangan serius yang kini dihadapi industri media di tengah pesatnya perubahan teknologi digital.
Salah satu tantangan utamanya adalah hadirnya fitur AI Overview pada mesin pencari yang mengubah perilaku masyarakat dalam mengakses informasi dan berpotensi berdampak negatif terhadap industri media, terutama media online.
Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Komdigi, Molly Prabawaty, mengatakan perubahan lanskap informasi yang berlangsung sangat cepat memengaruhi cara masyarakat dalam mengonsumsi berita.
Kondisi tersebut menuntut industri media harus terus beradaptasi agar tetap relevan sekaligus mampu mempertahankan keberlanjutan bisnis.
Baca Juga: Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Menurut Molly, kehadiran teknologi AI Overview membuat pengguna cukup membaca ringkasan yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan di mesin pencari tanpa harus membuka berita dari sumber aslinya. Padahal, media telah menginvestasikan sumber daya besar untuk proses peliputan hingga berita disajikan ke publik.
"Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan industri media yang selama ini berinvestasi besar dalam proses peliputan, verifikasi, dan penyajian informasi yang kredibel," ujar Molly saat memberikan keynote speech di acara JawaPos.com Digital Excellece Awards 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (30/7).
Selain tantangan tersebut, Komdigi juga mencatat perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin didominasi oleh konten berbasis video. Secara global, konsumsi berita video meningkat dari 52 persen pada 2020 menjadi 65 persen pada 2025.
"Fenomena ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat telah berubah secara signifikan. Audiens kini lebih banyak mengakses informasi melalui format visual yang cepat, interaktif, dan mudah dipahami," kata Molly.
Tren serupa juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkan Molly Prabawaty, WhatsApp menjadi platform yang paling banyak digunakan masyarakat untuk memperoleh berita dengan tingkat penggunaan mencapai 43 persen.
Posisi berikutnya ditempati oleh YouTube sebesar 41 persen, dan disusul Facebook 39 persen. Sedangkan TikTok menjadi platform dengan pertumbuhan tercepat sebagai sumber informasi digital.
Baca Juga: Laporkan Malik Bawazier, Suami Endah Fitrianingsih Jadikan CCTV Bukti Perzinaan
Tak hanya itu, sekitar 30 persen masyarakat Indonesia juga aktif membagikan berita melalui media sosial maupun aplikasi percakapan. Kebiasaan tersebut membuat penyebaran informasi berlangsung sangat cepat, bahkan hanya dalam hitungan detik.
Perkembangan platform digital membuka peluang lebih luas bagi penyebaran informasi. Namun di sisi lain, kecepatan distribusi berita juga menuntut media untuk semakin menjaga akurasi, kredibilitas, serta mampu menghadirkan konten yang memiliki nilai tambah.