← Beranda
KH Abdul Karim Mahfudz Sebut KH Marsudi Syuhud Kader NU Tulen
AntaraJumat, 24 Juli 2026 | 04.13 WIB
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud. (Dok. MUI)

 

JawaPos.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mempercepat konsolidasi dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di seluruh Indonesia menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 yang tinggal sekitar 40 hari lagi.

”PBNU terus melakukan konsolidasi dengan PWNU dan PCNU se-Indonesia untuk bisa memberikan dorongan cepat agar PWNU dan PCNU se-Indonesia berusaha menjadi peserta Muktamar penuh, sebagai hak dari PWNU dan PCNU,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul seperti dilansir dari Antara di Surabaya.

PWNU dan PCNU yang belum melengkapi dokumen persyaratan agar segera menuntaskan, sehingga dapat memperoleh Surat Keputusan (SK) dari PBNU sebelum pelaksanaan Muktamar. Gus Ipul berharap waktu yang tersisa dapat dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh PWNU dan PCNU yang masih melengkapi persyaratan administrasi.

Baca Juga: Satpam Bundaran HI Dipaksa Sujud Oleh Pengemudi Alphard Berakhir Damai, Polisi Bakal Usut Kalau Ada Laporan Resmi

Selain itu PBNU memberikan kesempatan kepada seluruh PWNU dan PCNU agar seluruh proses administrasi dapat diselesaikan, sehingga dapat menjadi peserta Muktamar. Pendampingan juga diberikan kepada PWNU dan PCNU, termasuk di Papua, melalui tim yang menangani penyelesaian SK.

”Kami berharap kepada seluruh pimpinan PCNU dan PWNU bisa memperoleh, mendapatkan informasi, dan mengakses segala hal yang berkaitan dengan Muktamar berdasarkan media-media resmi atau sumber-sumber resmi yang dimiliki oleh PBNU yang terpercaya. Jangan mudah percaya dengan cerita-cerita yang tidak berdasar, karena di luar sana banyak berita-berita yang bernuansa menyesatkan," ujar Gus Ipul.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud digadang-gadang maju pada kontestasi pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada gelaran Muktamar NU ke-35. Muktamar akan dihelat di Jombang, Jawa Timur, mulai 27 hingga 31 Agustus 2026. 

Baca Juga: Reza Indragiri Amriel Minta Nanik S. Deyang Beber Data Korupto BGN usai Mundur dari Jabatan Kepala BGN

Dukungan kepada KH Marsudi Syuhud untuk menjadi pemimpin tertinggi di NU pun mulai mengalir. Dukungan itu muncul didasari banyak penilaian positif terhadap KH Marsudi Syuhud yang kiprahnya banyak diakui berbagai kalangan, baik regional, nasional, maupun internasional.

Dari Kabupaten Mesuji misalnya, dukungan kepada KH Marsudi Syuhud datang dari Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mesuji Lampung periode 2024–2029, KH Abdul Karim Mahfudz. Dia menilai, KH Marsudi Syuhud memiliki pengalaman dalam dunia ekonomi secara internasional.

KH Marsudi Syuhud juga merupakan tokoh yang mampu merangkul semua pihak yang berselisih. Sosoknya sangat luwes, egaliter dan lekat dengan budaya pesantren.

Dengan jargon Khodimul Ulama atau pelayan ulama, KH Marsudi Syuhud mendedikasikan waktu, tenaga dan pikirannya untuk menjaga NU sebagai warisan para ulama melalui PBNU-nya, agar terus membarikan manfaat bagi bangsa dan negara.

Penilaian serupa juga disampaikan KH Fadli, Rois Syuriah PCNU Musi Rawas Utara Sumatra Selatan Saat berkunjung silaturahmi di pondok KH Marsudi. Kiai Fadli menyatakan kekaguman pada sosok KH Marsudi Syuhud.

Dalam pertemuan itu, keduanya membahas pentingnya NU terus memperkuat jati diri sebagai organisasi keagamaan yang mengayomi umat dan menjadi perekat kebangsaan. Kiai Fadli berharap, NU mampu menjadi  kereta besar yang membawa gerbong-gerbong perdamaian, merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang, serta menjadi teladan dalam membangun ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.

Baca Juga: Ijtima Ulama Sarankan Pembenahan PBNU Jelang Muktamar Ke-35, Cak Imin Tekankan NU Harus Kembali jadi Lokomotif Civil Society

Kedua tokoh Kiai Sumatera itu menyatakan, sejak kelahiran NU tidak bisa dilepaskan dari riyadlah para muassis. Riyadlah erat dengan dunia sufistik dan tarekat. Di tengah era disrupsi yang acapkali menimbulkan ketidakpastian, doa, wirid, riyadlah menjadi keniscayaan dalam perjuangan NU ke depan.

”PBNU harus mengambil alih ketokohan dan keteladanan dalam mempraktikkan tradisi riyadlah. Terlebih dengan makin banyaknya generasi Z Nahdliyin yang memerlukan guidance spiritualitas modern. Sufi perkotaan menjadi bagian niscaya dalam nafas khidmat NU ke depan,” ungkap Kiai Abdul Karim.

Sosok seperti KH Marsudi Syuhud, menurut penuturan Kiai Fadli cocok memimpin NU, karena KH Marsudi punya rutin manakiban di kediamannya, di Pesantren Darul Hikmah Kedoya. ”Inilah cara-cara orang NU melestarikan khas ke-NU-annya. KH Marsudi Syuhud adalah kader NU tulen,” tegas Kiai Abdul Karim.

Baca Juga: Ancam Serang Infrastruktur Sipil Iran, Trump Dibalas Peringatan Keras Teheran

Sementara itu, KH Marsudi Syuhud menegaskan, di tengah berbagai tantangan sosial, politik dan perkembangan global, NU memiliki tanggung jawab moral untuk terus menghadirkan Islam yang rahmatan lil ’alamin. Karena itu, semangat persatuan, moderasi dan dakwah yang menyejukkan harus tetap menjadi pijakan utama organisasi.

Selain membahas peran NU dalam menjaga harmoni bangsa, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya mengembalikan NU kepada khittah, yakni sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang berfokus pada dakwah, pendidikan, pemberdayaan umat, dan pelayanan sosial.

”Dengan kembali berpegang pada nilai-nilai dasar perjuangan para muassis, NU diyakini akan semakin kuat dalam memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa,” papar KH Marsudi Syuhud.

Baca Juga: Sudaryono Tegaskan Tak Ada Lagi "Arahan Si Ini, Si Itu" di BGN, Semua Wajib Ikuti Sistem!

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah