← Beranda
Dokter Magang di RS Sukadana Lampung Timur Meninggal Dunia, Dekan FKUI Ingatkan Pembagian Beban Kerja yang Wajar
Tazkia Royyan HikmatiarKamis, 23 Juli 2026 | 03.38 WIB
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sekaligus Dokter Internship di Rumah Sakit Sukadana, Lampung Timur, ditemukan meninggal dunia pada Selasa (21/7) (Instagram medicine UI)

 

 

 

JawaPos.com - Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sekaligus Dokter Internship (magang) di Rumah Sakit Sukadana, Lampung Timur, ditemukan meninggal dunia pada Selasa (21/7). Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K) mengingatkan pentingnya pembagian beban kerja yang wajar.

Anna menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya dr. Zulfikar yang merupakan alumni FKUI angkatan 2018. Ia menyebut kepergian dokter muda sebagai kehilangan besar yang mengingatkan tenaga kesehatan memiliki batas kemampuan.

"Kepergian seorang dokter muda adalah kehilangan yang sangat berarti. Ia mengingatkan kita bahwa di balik tugas, tanggung jawab, dan tuntutan pelayanan, setiap dokter tetaplah manusia yang memiliki batas, membutuhkan dukungan, dan berhak berada dalam lingkungan kerja yang aman, sehat, serta bermartabat," ujar Anna dikutip dari laman Instagram resmi FKUI, Rabu (21/7).

Ia menjelaskan bahwa program internship berada di luar tata kelola langsung universitas. Meski demikian, sebagai almamater, FKUI merasa bertanggung jawab untuk terus mengingatkan seluruh pemangku kepentingan tentang pentingnya sistem kerja yang lebih manusiawi.

"Tidak seharusnya kelelahan, tekanan, atau rasa sendiri dipandang sebagai hal biasa dalam perjalanan menjadi dokter," tegasnya.

Anna menekankan perlunya komunikasi terbuka dan pendampingan nyata bagi tenaga kesehatan. Ia juga mengingatkan pentingnya pembagian beban kerja yang wajar serta budaya kerja yang saling menghormati antar tenaga kesehatan.

Profesionalisme, katanya, tidak dibangun dengan mengabaikan sisi kemanusiaan. Sebaliknya, profesionalisme tercipta melalui sistem yang mampu mendengar, melindungi, dan hadir saat tenaga kesehatan membutuhkan bantuan.

Dalam kesempatan itu, Anna mengajak semua pihak menghormati proses yang sedang berjalan terkait meninggalnya dr. Zulfikar. Ia meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi ataupun memberikan penilaian tanpa dasar yang jelas.

Di sisi lain, ia menilai setiap suara, pengalaman, dan keluhan dokter muda perlu diterima. Hal ini penting sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan di Indonesia.

Baca Juga: Dokter PPDS Unri Ditemukan Meninggal Dekat RSUD Tengku Rafian Siak usai Hilang 16 Jam

"Semoga kepergian almarhum menjadi pengingat bagi kita semua: tidak ada pelayanan yang bermutu tanpa tenaga kesehatan yang dijaga, dan tidak ada pendidikan kedokteran yang unggul tanpa nilai kemanusiaan," tutup Anna. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan