JawaPos.com- Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf memastikan dirinya tidak akan maju dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. dalam hal ini Ketua Umum Tanfidziyah PBNU.
Pria yang juga Menteri Sosial itu bahkan berharap namanya tidak didorong ataupun dicalonkan dalam forum pemilihan nanti.
“Saya sudah nyatakan ya, terus terang saya tidak akan mencalonkan diri. Itu mohon dimaklumi dan dipahami, dan tidak usah mendorong-dorong saya untuk jadi ketua umum,” ujarnya saat ditemui di SRMA 10 Margaguna, Jakarta Selatan, dikutip Minggu (5/7).
Disinggung soal alasan tak mau mendaftar atau dicalonkan, pria yang akrab disapa Gus Ipul itu mengaku bahwa banyak kandidat lain yang lebih layak menjabat status tersebut.
Baca Juga: Menhaj Gus Irfan Tegaskan Presiden Prabowo Tak Akan Cawe-cawe di Muktamar NU 2026
“Ya banyak yang lebih pantas lah. Banyak yang lebih pantas. Itu saja udah,” sambungnya.
Muktamar ke-35 NU sendiri dijadwalkan berlangsung pada awal Agustus 2026. Namun, hingga awal bulan ini, panitia masih galau untuk memutuskan lokasi penyelenggaraan hajatan akbar PBNU tersebut.
Gus Ipul yang juga Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU itu menyebut bahwa persiapan terus dilakukan. Termasuk soal penentuan lokasi acara hingga materi yang akan dibahas nantinya.
Dia mengatakan, sudah dibentuk tim khusus untuk survei ke 5 wilayah calon tuan rumah muktamar. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sumatra Barat.
Setidaknya, ada 9 pondok pesantren di 5 daerah tersebut yang jadi pertimbangan khusus pihak panitia.
Baca Juga: Tokoh Muda Dorong Muktamar Ke-35 NU Lahirkan Sosok Pemersatu yang Akhiri Konflik PBNU
Di Jawa Timur, misalnya, Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri dan Tambakberas di Jombang tengah disurvei sebagai calon lokasi pembukaan Muktamar.
Kemudian, ada Pondok Pesantren Al-Hamid dan Daarurrahman di Jakarta; Pondok Pesantren Buntet, Babakan Ciwaringin, dan Kempek di Cirebon, Jawa Barat; Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu di Lombok; dan Pondok Pesantren Syekh Al-Falah di Padang, Sumatra Barat.
“Minggu depan insya Allah akan diadakan rapat untuk mendengarkan laporan-laporan tim survei dan kalau memungkinkan nanti akan diputuskan tempatnya di mana,” jelasnya.
Menurutnya, lima daerah tersebut dipilih dengan sejumlah pertimbangan. Mulai dari akses, pembiayaan, hingga sarana dan prasarana.
Poin-poin tersebut menjadi penting mengingat nantinya akan ada sekitar 3 ribu peserta yang hadir. Jumlah ini di luar peninjau dan pengunjung. “Dan ini diperkirakan bisa lebih dari 5 sampai 10 ribu ya,” jelasnya.
Baca Juga: Digelar 1 - 5 Agustus 2026, Lima Daerah Berebut Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU
Mengenai alotnya penentuan lokasi, Gus Ipul tak banyak menjelaskan. Dia hanya menyebut, jika ini hanya bagian dari dinamika yang ada.
Muncul Isu Ketum PBNU Dipilih Ahwa
Di tengah panasnya bursa Calon Ketum PBNU, muncul isu mengenai perubahan teknis pemilihan.
Pemilihan ketum disebut-sebut tak lagi menggunakan sistem voting langsung, melainkan melalui Ahwa (Ahlul Halli wal Aqdi).
Untuk diketahui, selama ini Ahwa hanya bertugas memilih Rais Aam PBNU. Ahwa sendiri dipilih langsung oleh para anggota muktamar. Sembilan orang teratas bakal dijadikan Ahwa.
Nantinya, setelah Rais Aam terpilih, maka dilanjutkan dengan pemilihan ketua umum tanfidziyah.
Baca Juga: Sempat Diisukan di Lirboyo, PBNU Tegaskan Lokasi Muktamar ke-35 NU Belum Diputuskan
Selama ini pemilihan ketua umum dilakukan melalui pemilihan langsung secara musyawarah mufakat dan voting. Namun tiba-tiba ada usulan agar ketum dipilih Ahwa.
Dikonfirmasi atas hal ini, Gus Ipul membenarkan adanya usulan tersebut. “Ini baru usulan, belum ketetapan,” akunya.
Menurut dia, hingga saat ini, aturan yang dipakai dalam pemilihan ketum masih seperti sebelumnya. Yakni, voting. Hal ini sesuai dengan hasil muktamar Lampung 2021 lalu.
Lima Sosok Masuk Bursa Kandidat Ketum
Dalam bursa pencalonan sendiri, sudah ada lima kandidat yang ramai diperbincangkan untuk menjadi ketua umum PBNU periode selanjutnya.
Mulai dari Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Zulfa Mustafa, Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Abdus Salam Shohib (Gus Salam), hingga Menag Nasaruddin Umar.
Baca Juga: Wasekjen PBNU Berharap Munas dan Konbes NU Hasilkan Keputusan-Keputusan Baik Jelang Muktamar
Terkait calon ketum PBNU, Gus Ipul mengakui bahwa biasanya yang terpilih adalah mereka yang sudah memiliki jabatan di PBNU.
Seperti sekjen, yang mengantarkan Idham Chalid akhirnya menjabat sebagai ketum selama hampir 30 tahun.
Lalu, mantan ketua PWNU Jawa Timur Hasyim Muzadi yang kemudian menjadi Ketua Umum PBNU dua periode.
Ada pula Gus Dur yang sebelumnya merupakan Katib Aam PBNU, sebelum akhirnya menjadi Ketum PBNU.
“Tapi nanti para pemilik suara itu yang menentukan. Jadi semua sudah berusaha bekerja dengan baik,” pungkasnya.
Baca Juga: NU Yogyakarta Blak-blakan Ungkap Keresahan, Soroti Konflik Internal PBNU Jelang Muktamar