JawaPos.com — Program Layanan Banyuwangi Hijau (BWH) hingga 30 April 2026 telah menjangkau 73 desa di Kabupaten Banyuwangi dan memberi manfaat kepada sekitar 500 ribu warga.
Perluasan layanan pengelolaan sampah terpadu tersebut berdampak langsung pada peningkatan kebersihan lingkungan, termasuk mengubah kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi pembuangan sampah menjadi lebih tertata dan bersih.
Bagaimana Capaian Program Banyuwangi Hijau Saat Ini?
Program Banyuwangi Hijau terus berkembang sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Hingga akhir April 2026, layanan tersebut telah hadir di 73 desa dengan cakupan manfaat mencapai sekitar 500 ribu penduduk.
Perluasan layanan itu menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk mengurangi persoalan sampah secara menyeluruh.
Baca Juga: 14 Kali Berturut-turut Raih WTP, Bukti Banyuwangi Makin Solid Kelola Keuangan Daerah
Tidak hanya mengandalkan pengangkutan, program ini juga menekankan pengelolaan sampah yang terintegrasi mulai dari tingkat rumah tangga hingga tempat pengolahan akhir.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi Dwi Handajani menjelaskan, program tersebut dirancang untuk membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik di tengah masyarakat.
Pendekatan itu dinilai mampu menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan.
“Banyuwangi Hijau bukan hanya soal pengangkutan sampah, tetapi membangun sistem pengelolaan dari hulu ke hilir. Dengan bertambahnya desa terlayani, kami melihat peningkatan kesadaran masyarakat dalam memisah dan mengelola sampah secara mandiri,” ujarnya.
Perubahan Nyata Terlihat di Bantaran Sungai Binaung
Salah satu contoh dampak nyata program Banyuwangi Hijau terlihat di bantaran Sungai Binaung, Dusun Krajan, Desa Songgon, Kecamatan Songgon.
Kawasan tersebut sebelumnya dikenal sebagai titik pembuangan sampah yang mengganggu kebersihan lingkungan sekitar.
Setelah layanan Banyuwangi Hijau melalui TPS3R Balak Songgon berjalan, kondisi kawasan mulai berubah. Lingkungan yang sebelumnya dipenuhi timbunan sampah kini menjadi lebih bersih dan tertata.
Perubahan itu menunjukkan pentingnya kehadiran sistem pengelolaan sampah yang terorganisasi.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, keberadaan TPS3R juga membantu mengurangi potensi pencemaran sungai yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.
Keberhasilan di Desa Songgon menjadi gambaran bagaimana pengelolaan sampah yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan manfaat langsung bagi warga.
Kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah juga ikut tumbuh seiring tersedianya fasilitas pendukung yang memadai.
TPS3R Balak Songgon Olah Lebih dari 15 Ribu Ton Sampah
Peran TPS3R Balak Songgon menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program Banyuwangi Hijau di wilayah tersebut.
Fasilitas ini menjadi pusat pengolahan sampah yang melayani masyarakat sekitar dengan pendekatan reduce, reuse, dan recycle.
Data menunjukkan TPS3R Balak Songgon telah mengolah sebanyak 15.304 ton sampah sejak mulai beroperasi.
Angka tersebut mencerminkan besarnya volume sampah yang berhasil ditangani sehingga tidak berakhir di lingkungan terbuka atau badan sungai.
Pengolahan sampah melalui TPS3R juga memberikan nilai tambah karena sebagian material dapat dimanfaatkan kembali. Dengan cara itu, jumlah sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan.
Keberadaan fasilitas pengolahan sampah di tingkat lokal menjadi solusi yang efektif untuk mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan.
Model ini memungkinkan penanganan dilakukan lebih dekat dengan sumber sampah sehingga lebih efisien dan mudah diawasi.
Dukungan Internasional Perkuat Pengelolaan Sampah Banyuwangi
Inovasi pengelolaan sampah yang dijalankan Banyuwangi turut menarik perhatian lembaga internasional.
Program tersebut mendapat dukungan dari Clean Rivers, lembaga asal Uni Emirat Arab yang bergerak dalam isu kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah.
Dukungan itu diwujudkan melalui bantuan dua unit TPS3R untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah di Banyuwangi.
Kehadiran fasilitas tambahan tersebut diharapkan mampu memperluas cakupan layanan dan meningkatkan kapasitas pengolahan sampah di berbagai wilayah.
Kolaborasi dengan lembaga internasional menjadi sinyal positif terhadap pengembangan program lingkungan di daerah.
Selain memperkuat infrastruktur, kerja sama tersebut juga menunjukkan upaya Banyuwangi dalam membangun sistem pengelolaan sampah terpadu mendapat pengakuan yang lebih luas.
Dengan jangkauan yang kini mencapai 73 desa dan melayani sekitar 500 ribu warga, Banyuwangi Hijau menjadi salah satu program lingkungan yang terus menunjukkan perkembangan.
Perubahan kondisi lingkungan di sejumlah kawasan serta meningkatnya kapasitas pengolahan sampah menjadi indikator pembangunan sistem pengelolaan sampah terpadu mulai memberikan hasil nyata bagi masyarakat.