← Beranda
Smart Farming Ubah Wajah Tambak Gresik, Petambak Rumput Laut Kini Belajar Digitalisasi hingga Kelola Keuangan Modern
ARMSabtu, 6 Juni 2026 | 00.20 WIB
Petambak rumput laut di Ujungpangkah, Gresik, mengikuti pelatihan digitalisasi usaha, pengelolaan keuangan, dan smart farming dalam program PKM Universitas Muhammadiyah Gresik, Minggu (31/5/2026). (Dok. Universitas Muhammadiyah Gresik)

JawaPos.com — Petambak rumput laut di Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, mulai menerapkan digitalisasi usaha dan smart farming melalui program pendampingan Universitas Muhammadiyah Gresik yang berlangsung selama Januari–Agustus 2026. Program ini menyasar peningkatan produktivitas, tata kelola keuangan, kualitas budidaya, serta daya saing petambak melalui pemanfaatan teknologi digital dan penguatan koperasi. 

Transformasi tersebut hadir melalui program “Digitalisasi Budidaya Rumput Laut Gracilaria untuk Peningkatan Pemasaran Hasil Panen dan Pengelolaan Keuangan melalui Smart Farming di Ujungpangkah, Gresik”.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) itu didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia Tahun 2026. 

Kegiatan utama program digelar di Kantor Koperasi Kelompok Tani Rumput Laut Desa Pangkahkulon pada 31 Mei 2026.

Baca Juga: 10 Prodi Paling Banyak Diminati di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Beserta Kisaran Biayanya

Sebanyak 34 peserta yang terdiri atas pengurus koperasi, anggota Kelompok Tani Pemuda Muhammadiyah Kecamatan Ujungpangkah, perangkat desa, dan mahasiswa mengikuti pelatihan tersebut. 

Bagaimana Digitalisasi Membantu Petambak Rumput Laut?

Digitalisasi menjadi solusi atas berbagai persoalan yang selama ini dihadapi petambak, mulai dari pencatatan usaha yang masih manual hingga pengelolaan keuangan yang belum tertata dengan baik.

Sistem digital juga diharapkan mampu membantu petambak mengambil keputusan usaha secara lebih cepat dan akurat.

Penyampaian materi digitalisasi oleh  Umi Chotijah, S.Kom., M.Kom dengan aplikasi berbasis Android dan website smart farming, Minggu (31/5/2026). (Dok. Universitas Muhammadiyah Gresik)
Penyampaian materi digitalisasi oleh  Umi Chotijah, S.Kom., M.Kom dengan aplikasi berbasis Android dan website smart farming, Minggu (31/5/2026). (Dok. Universitas Muhammadiyah Gresik)

Materi digitalisasi disampaikan oleh Umi Chotijah, S.Kom., M.Kom. Ia memperkenalkan aplikasi berbasis Android dan website smart farming yang dirancang untuk mencatat hasil panen, transaksi penjualan, stok produksi, data anggota, hingga laporan keuangan koperasi secara terpadu. 

Menurut Umi, selama ini data usaha petambak masih tersebar di berbagai media seperti buku tulis, pesan WhatsApp, hingga spreadsheet sederhana.

Kondisi tersebut membuat proses rekapitulasi data dan pengambilan keputusan menjadi kurang efektif. 

“Digitalisasi bukan untuk mempersulit petani, tetapi untuk membuat data panen dan penjualan lebih tertib, cepat, dan mudah digunakan saat koperasi mengambil keputusan,” kata Umi Chotijah. 

Ia menambahkan, sistem yang terintegrasi membuat koperasi dapat memantau perkembangan usaha anggota secara lebih transparan.

“Dengan satu sistem data, koperasi bisa bekerja lebih efektif, petani lebih mudah melihat perkembangan usahanya, dan layanan info bisa diberikan secara responsif juga lewat chatbot,” imbuhnya. 

Pendampingan penggunaan aplikasi dilakukan bersama Muhammad As’ad M.A., mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Gresik.

Peserta dibimbing mulai dari pendaftaran pengguna, input data panen, pencatatan transaksi keuangan, hingga pengelolaan sistem sebagai administrator. 

Mengapa Tata Kelola Keuangan Jadi Fokus Utama?

Selain digitalisasi, penguatan tata kelola keuangan menjadi bagian penting dalam program ini.

Pelatihan pengelolaan administrasi keuangan usaha budidaya rumput laut oleh Nur Cahyadi, S.ST., M.M. , Minggu (31/5/2026). (Dok. Universitas Muhammadiyah Gresik)
Pelatihan pengelolaan administrasi keuangan usaha budidaya rumput laut oleh Nur Cahyadi, S.ST., M.M. , Minggu (31/5/2026). (Dok. Universitas Muhammadiyah Gresik)

Materi tersebut disampaikan oleh Nur Cahyadi, S.ST., M.M., yang mengajak peserta memahami pentingnya administrasi keuangan bagi keberlanjutan usaha budidaya rumput laut. 

Peserta memperoleh pemahaman mengenai pembukuan sederhana, pencatatan arus kas, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, hingga penyusunan laporan keuangan koperasi.

Pengetahuan tersebut dinilai penting agar kelompok tani mampu mengukur kondisi usaha secara lebih akurat. 

“Bertani rumput laut tidak cukup hanya memproduksi panen. Kelompok tani juga harus bisa mencatat biaya, pemasukan, laba, dan dana cadangan agar usahanya sehat dan bisa tahan lama,” ujar Nur Cahyadi. 

Ia menilai banyak usaha potensial sulit berkembang karena lemahnya administrasi keuangan. Padahal, pencatatan yang baik dapat menjadi dasar dalam menyusun rencana pengembangan usaha ke depan. 

“Kalau keuangan tertib maka akan ada kepercayaan. Saat anggota sudah percaya pada koperasi maka sinergi bekerja bersama akan semakin erat dan kesejahteraan anggota pun menjadi mudah,” ujarnya. 

Nur juga mengingatkan pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam mengelola koperasi.

Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh sistem, tetapi juga oleh kemampuan pengurus dan anggota menjalankan tugas secara transparan dan akuntabel. 

Apa Rahasia Budidaya Rumput Laut yang Lebih Produktif?

Penguatan kapasitas petambak tidak berhenti pada aspek digital dan keuangan. Program ini juga memberikan pelatihan teknik budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa yang tepat dan berkelanjutan. 

Materi tersebut disampaikan oleh Dr. Andi Rahmad Rahim, S.Pi., M.Si., yang menjelaskan keberhasilan budidaya tidak hanya bergantung pada luas tambak.

Faktor lain seperti kualitas bibit, pengelolaan lingkungan, pemeliharaan, panen, dan pascapanen juga memiliki peran besar terhadap hasil produksi. 

“Petambak modern itu adalah petambak yang rajin, disiplin, dan menguasai teknik budidaya. Rumput laut harus dirawat dengan benar sejak pemilihan bibit hingga pengeringan,” kata Dr. Andi. 

Ia juga mengingatkan pentingnya penggunaan bibit sehat, pengendalian penyakit ice-ice, serta menjaga kualitas air laut. Langkah-langkah tersebut diperlukan agar produktivitas tambak tetap optimal sepanjang musim budidaya. 

“Value dari rumput laut itu sangat tergantung dari kualitasnya. Kalau kurang kering, banyak debu, atau bercampur bahan lain bisa-bisa hasil panen kita tidak laku di pasaran. Jadi, pascapanen harus kita kelola sebaik saat kita membudidayakannya,” tegasnya. 

Dalam sesi praktik dan diskusi lapangan, Dr. Andi didampingi tiga mahasiswa Program Studi Budidaya Perikanan Universitas Muhammadiyah Gresik, yakni Muhammad Rifqihidayat Septyan, Trisna Rama Dani, dan Achmad Dannys.

Muhammad Rifqihidayat Septyan dan Trisna Rama Dani membantu peserta memahami teknik budidaya Gracilaria verrucosa yang benar, termasuk mengidentifikasi penyebab serta solusi terhadap kasus lumut benang yang menjadi salah satu tantangan utama dalam budidaya rumput laut tambak.

Peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai berbagai langkah pengendalian dan pencegahan lumut benang agar produktivitas budidaya tetap terjaga.

Sementara itu, Achmad Dannys memberikan pendampingan mengenai tahapan budidaya yang benar mulai dari persiapan tambak, pemilihan bibit unggul, teknik penebaran, pemeliharaan, hingga panen dan pascapanen.

Bisakah Program Ini Menjadi Model Nasional?

Program yang berlangsung selama delapan bulan ini mendapat apresiasi dari kelompok tani dan pemerintah desa.

Ketua Kelompok Tani Pemuda Muhammadiyah Kecamatan Ujungpangkah, Ahmad Roziq, menilai program tersebut membuka wawasan baru terkait pentingnya data, teknologi, dan manajemen usaha. 

“Banyak sekali ilmu baru yang bermanfaat bagi kami. Selama ini kami lebih fokus ke produksi tapi dengan adanya program ini kami belajar bahwa keberhasilan usaha kami juga ditentukan oleh kemampuan kami dalam mengelola data, keuangan, dan teknologi,” ujar Ahmad Roziq. 

Kepala Desa Pangkahkulon Ahmad Fauron juga berharap teknologi yang diperkenalkan dapat digunakan secara berkelanjutan.

Ia meyakini kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, koperasi, dan masyarakat mampu mendorong sektor budidaya perikanan menjadi lebih maju dan kompetitif. 

Melalui monitoring dan evaluasi hingga Agustus 2026, Universitas Muhammadiyah Gresik menargetkan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu mengoperasikan aplikasi, mengelola website koperasi, dan menerapkan teknik budidaya secara mandiri.

Model smart farming berbasis koperasi ini diharapkan menjadi contoh pemberdayaan masyarakat pesisir yang mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, dan kesejahteraan petambak secara berkelanjutan. 

EDITOR: Mohamad Nur Asikin