POV Warga Soal Teror Pocong: Takut Keluar Malam, Kehilangan Penghasilan sampai Cuma Anak Iseng Buat Konten Viral
JawaPos.com - Kabar mengenai teror pocong yang melanda kawasan Jalan Al Ikhlas, Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, Kota Depok, ternyata bukan sekadar isapan jempol atau cerita mistis biasa. Isu yang sempat viral di media sosial ini belakangan memicu keresahan bagi warga sekitar.
Bukan karena takut pada makhluk halus, warga justru dibuat waswas karena sosok di balik kain putih tersebut adalah manusia hidup. Lebih ngeri lagi, oknum berkostum pocong tersebut diduga kuat membawa senjata tajam saat melancarkan aksinya di tengah malam.
Aksi pelaku yang berkeliaran selama dua malam berturut-turut sukses membuat lingkungan sekitar mencekam. Keresahan ini pun berdampak langsung pada aktivitas harian masyarakat, terutama kaum perempuan dan lansia.
Ketakutan Keluar Malam, Tukang Pijat Kehilangan Penghasilan
Baca Juga: Liburan ke Praha Kini Lebih Mudah, Ada Rute Baru via Hanoi Mulai Oktober 2026
Dampak dari teror pocong di Depok ini sangat dirasakan oleh Kartuni, 70, seorang lansia yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat keliling. Karena hidup sendiri dan situasi kampung yang mendadak mencekam, ia kini tidak berani lagi keluar rumah pada malam hari untuk mencari nafkah.
"Keluar takut, mau ngurut juga takut," ujar Kartuni dengan nada cemas saat ditemui JawaPos.com belum lama ini.
Lansia yang mengandalkan panggilan mengurut ini mengaku kini hanya bisa pasrah berdiam diri di rumah.
"Takut, jadi enggak keluar ke mana-mana, di rumah aja. Jadi enggak ada penghasilan, biar sedikit kan suka ngurut, ya. Ini jalan malam," tambahnya.
Warga Waspada Terima Tamu dan Berharap Pelaku Segera Ditangkap
Senada dengan Kartuni, Lia, 43, warga sekitar lokasi kejadian, juga merasakan atmosfer mencekam sejak isu ini berkembang. Kehadiran pocong gadungan tersebut dinilai sudah sangat mengganggu ketenteraman warga.
"Warga sendiri ya mungkin merasa resah ya. Pasti ada rasa ketakutan sih ya, merasa terganggu. Takutlah," ungkap Lia.
Ketakutan ini membuat Lia kini lebih protektif. Ia mengaku tidak berani sembarangan membuka pintu rumah jika ada yang mengetuk di malam hari.
"Iya, ya jelas. Pasti ada, takut ada. Apalagi anak pada ketakutan. Takutnya ada yang mengetok-ngetok siapa gitu, enggak tahunya saudara. Takutnya pocong," jelasnya lagi.
Lia menegaskan, warga sangat berharap pihak kepolisian bisa segera mengusut tuntas kasus ini. Sehingga tidak lagi menimbulkan keresahan masyarakat.
Baca Juga: Campus League 2026 Regional Jakarta: UPH dan Binus Lolos ke Final Putra-Putri
"Ya agar segera ditangkaplah gitu. Kalau bisa mah segera, segera gitu. Jangan sampai terulang lagi ada teror pocong kayak gini," tegasnya.
Pemilik Warung Pilih Tutup Lebih Cepat
Keresahan juga melanda Etik Kushartini, 55, seorang pemilik warung yang sudah tinggal di lingkungan tersebut selama 26 tahun. Meskipun kawasan Jatijajar kini sudah padat oleh rumah kontrakan, isu teror pocong bersenjata tajam ini membuatnya meningkatkan kewaspadaan demi keselamatan keluarga.
"Ya waspada lah. Namanya takutnya kan orang bukan setan, manusia dia," ujarnya.
Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Eti kini memilih untuk mengunci rapat warung dan rumahnya begitu malam tiba. Terlebih, jam operasional pelaku teror biasanya terjadi saat warga sudah terlelap.
Ia pun berharap agar kondisi lingkungannya bisa kembali kondusif seperti sedia kala tanpa ada bayang-bayang ketakutan.
Bukan Lelucon Internet
Bagi sebagian warga, narasi teror pocong tidak lagi dipandang sebagai lelucon internet. Kemunculan sosok putih yang disebut berkeliaran malam hari sambil membawa senjata tajam memicu rasa takut kolektif.
Dampaknya mulai terasa di lingkungan permukiman. Anak-anak dilarang keluar malam, lampu rumah dipadamkan lebih cepat, hingga gang-gang perkampungan yang mendadak lebih sepi dibanding malam biasanya.
Keresahan ini diamini Kus Diyarini, warga Desa Kandat, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Perempuan 49 tahun itu mengaku tak bisa tidur nyenyak sejak adanya teror pocong di kampungnya.
"Awalnya saya kira cuma kabar burung, hoax, jadi ya nggak percaya. Tetapi kok rame, bahkan terjadi di desa saya sendiri. Rame banget saat itu, warga desa pada takut keluar malam," ujarnya kepada JawaPos.com, Jumat (29/5).
Sebagai informasi, Polres Kediri mengamankan dua anak di bawah umur berinisial ASDP (15) dan PGDJ (14). Keduanya nekat mengenakan kostum menyerupai pocong di Jalan Watugede, Desa Kandat.
Aksi bahkan sengaja direkam hingga viral di media sosial. Saat diamankan, keduanya mengaku hanya iseng dan bercanda pada malam takbir Iduladha, bukan bermaksud untuk meneror warga setempat.
"Pas ramai teror pocong ini, Pak RT juga memberikan imbauan untuk waspada. Saya yang tadinya nggak percaya, dengar kabar itu jadi ada rasa was-was dan takut," ucap ibu satu anak itu.
“Meskipun (pelaku) sudah ketangkap, resah juga sih, kok ada ya kelakuan orang sekarang seperti itu. Semoga kejadian seperti ini jadi perhatian bersama agar warga lebih berhati-hati dan saling menjaga satu sama lain," lanjutnya.
Keresahan serupa juga dialami keluarga Muhammad Firmansyah, pemuda 22 tahun asal Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan. Terlebih sang ibunda yang kini tak berani keluar malam sendirian.
"Kalau di sini, teror pocong itu terjadi di tetangga desa, di Tumenggungan (Kecamatan Lamongan). Infonya sudah ketangkap, ternyata anak iseng buat konten, terus viral," tutur Firman ketika dihubungi JawaPos.com, Jumat (29/5).
Isu teror pocong juga sempat santer dibicarakan terjadi di daerah Mantup, Lamongan. Namun, konten video demit jadi-jadian di Desa Tumenggungan lebih dulu viral di media sosial dan ramai dibicarakan.
"Yang saya tau sempet ada isu di daerah Mantup juga ada (teror pocong), tetapi karena banyak pesan broadcast di Tumenggungan, yang ramai ya itu. Dan sesuai dugaan orang-orang, itu ulah anak-anak iseng saja," imbuhnya.
Untuk diketahui, Polres Lamongan mengamankan dua pelajar laki-laki berinisial MAB dan MMA. Keduanya kompak berdalih membuat video pocong hanya untuk becanda dan menakut-nakuti temannya.
MAB berperan sebagai perekam sekaligus pembuat video, sementara MMA sebagai pemeran pocong dalam video tersebut. Pelaku cukup kreatif, memanfaatkan dua sarung putih untuk membentuk sosok menyerupai pocong.
"Sejujurnya kalau dari saya sendiri, santai. Nggak yang takut berlebih. Malah remaja di sini sengaja pengin cari pocongnya. Lucu soalnya, hidup lagi susah begini, malah ada saja ulah iseng orang-orang," kelakar Firman.
Berbeda dengan anak muda, reaksi dari kalangan dewasa dan lansia justru bertolak belakang. Firman menyebut ketakutan lebih ke orang tua, seperti ibundanya yang belakangan ini tak berani keluar malam.
Bukan tanpa alasan, Firman menyebut ibunya takut karena fenomena teror pocong mengingatkannya pada kengerian di masa lalu. Ia menyebut secara spesifik teror ninja di era 1990-an.
"Kalau reaksi dari yang sepuh, seperti ibu saya itu lebih ke arah parno. Mereka takut teror ninja waktu lagi krismon (krisis moneter) keulang. Apalagi kan sekarang ini seliweran informasi kalau pocongnya bawa sajam," ucapnya.