JawaPos.com - Dua jurnalis Republika, Thoudy Badai Rifan Billah dan Bambang Noroyono alias Abeng, akhirnya kembali ke Indonesia bersama tujuh warga negara Indonesia (WNI) lainnya setelah sempat ditahan oleh tentara Israel. Sebanyak sembilan WNI sebelumnya berada dalam aksi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang diintersep Israel di Perairan Siprus, pada Senin (18/5).
Selain Thoudy Badai dan Abeng, tujuh WNI lainnya yang juga tiba di Tanah Air yakni, Andre Prasetyo Nugrono (Jurnalis TV Tempo), Rahendro Herubowo (mantan jurnalis Inews), serta lima aktivis kemanusiaan Andi Angga, Herman Budiyanto Sudarsono, Ronggo Wirasono, Asad Aras Muhammad, dan Hendro Prasetyo.
Mereka tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Minggu (24/5). Kedatangan mereka ke Tanah Air disambut langsung oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfatah A.K. Alsattari.
Bersyukur pulang ke Tanah Air
Dalam kesempatan itu, jurnalis Republika, Thoudy Badai, mengungkapkan rasa syukurnya karena telah kembali ke Jakarta dengan selamat.
Baca Juga: Tradisi Patah Panah Akhiri Konflik Antara Suku Lanny dengan Suku Yali di Papua Pegunungan
"Alhamdulillah senang, intinya kami dan sembilan warga negara Indonesia sudah kembali ke Jakarta," kata Thoudy yang mendapat sambutan hangat oleh keluarga dan para kerabatnya.
Selama menjalani masa penahanan, Thoudy mengaku mengalami berbagai tindakan kekerasan. Namun, ia menegaskan pengalaman tersebut bukanlah hal utama yang ingin ia soroti. Menurutnya, kondisi para tahanan Palestina jauh lebih memprihatinkan dan penuh penderitaan.
Ia mengungkapkan, perlakuan seperti pemukulan, penendangan, hingga penyetruman yang dialami relawan kemanusiaan masih tidak sebanding dengan kekerasan yang diterima ribuan warga Palestina di pusat-pusat penahanan Israel. Bahkan, mayoritas tahanan Palestina merupakan perempuan dan anak-anak, termasuk ibu hamil.
"Apa yang saya alami itu, dan teman-teman alami kekerasan yang dilakukan oleh zionis Israel itu tidak sebanding dengan apa yang dialami oleh 9.000 tahanan Palestina yang kebanyakan itu anak-anak, ibu-ibu, ibu hamil dan bisa mendapatkan kekejaman yang lebih parah daripada apa yang kita alami," ungkapnya.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat pandangan Thoudy mengenai pentingnya menjaga solidaritas internasional terhadap perjuangan rakyat Palestina. Ia berharap, masyarakat dunia terus memberikan dukungan dan menjaga perhatian terhadap isu kemanusiaan di wilayah tersebut.
"Jadi kita harap semua masyarakat di dunia tetap dukung, tetap suarakan isu-isu Palestina karena dengan begitu bisa mendorong Palestina untuk merdeka," harap Thoudy.
Meski baru saja melewati situasi yang membahayakan keselamatannya, Thoudy menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan isu kemanusiaan di Palestina tidak akan berubah.
"Ya kita lihat nanti karena tetap, rencananya ya isu Palestina harus tetap disuarakan," imbuhnya.
Komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina
Senada dengan itu, Bambang Noroyono alias Abeng turut menyampaikan rasa syukurnya, karena akhirnya dapat kembali ke Indonesia dan berkumpul bersama keluarga. Pria yang sehari-hari bertugas meliput desk hukum tersebut menegaskan bahwa perjuangan untuk membela hak-hak masyarakat Palestina dan warga Gaza akan terus berlanjut.
Baca Juga: Teknologi REEV Jadi Solusi Baru Mobil Listrik di Indonesia, Ini Bedanya dengan Hybrid dan BEV
“Syukur alhamdulillah bisa ketemu keluarga, karena ini tetap lanjut perjuangan bersama tentang memperjuangkan hak-hak masyarakat Palestina, hak-hak warga Gaza,” ujar Abeng.
Abeng juga mengaku masih merasakan dampak fisik akibat kekerasan yang dialaminya selama masa penahanan. Ia menyebut kondisi kesehatannya mulai membaik, meski sejumlah luka dan bekas benturan masih terasa. Selain itu, beberapa relawan lain disebut mengalami cedera yang lebih serius.
“Kondisi saya sudah enggak terlalu khawatir lagi. Masih ada bekas benturan yang masih kerasa, tapi lambat laun akan menghilang. Luka juga masih ada. Ada beberapa teman yang harus diperhatikan, mengalami retak di bagian dalam tulang,” pungkasnya.