← Beranda
BGN Siapkan Bank Menu untuk Program MBG, Pengawas Gizi Tak Lagi Pusing Susun Menu
Edy PramanaMinggu, 24 Mei 2026 | 23.53 WIB
BGN akan menyusun Bank Menu untuk Program MBG di seluruh Indonesia. (Istimewa)

JawaPos.com - Badan Gizi Nasional akan segera menyusun Bank Menu nasional yang nantinya diterapkan di seluruh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia sebagai bagian dari penguatan kualitas Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan Bank Menu tersebut disiapkan agar pengelola dapur tidak lagi kesulitan menyusun menu harian sesuai anggaran.

“Jadi menu itu sudah kita tentukan, satu bulan itu, ini… Seluruh Indonesia nanti mengambil saja dari situ,” kata Nanik dalam acara Sosialisasi Keamanan Pangan untuk Pengawas Gizi dan Jurutama Masak SPPG se-Provinsi DKI Jakarta di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Pernyataan tersebut langsung disambut antusias para Pengawas Gizi dan Jurutama Masak yang hadir dalam kegiatan sosialisasi.

Nanik mengaku memahami tekanan yang dihadapi para Pengawas Gizi dalam menyusun menu makanan bergizi dengan anggaran Rp10 ribu per porsi.

Baca Juga: Diterpa Dugaan Penyimpangan Pengadaan Barang, Ini Kata BGN

“Saya tahu, kalian pusing setiap hari, Rp10 ribu dijembreng ke sana dijembreng sini,” ujarnya.

Ia juga menyoroti praktik sejumlah mitra SPPG yang disebut sering tidak memenuhi permintaan bahan baku sesuai menu yang telah disusun.

“Mintanya ini, kamu dikasihnya yang itu,” kata mantan jurnalis senior tersebut.

Menurut Nanik, BGN kini mulai memperketat pengawasan terhadap mitra yang tidak mematuhi standar operasional. Mitra yang terbukti melanggar atau mengganggu kualitas makanan dapat dikenakan suspend tanpa insentif.

“Karena ini termasuk melakukan, dalam tanda kutip, korupsi. Kita tidak ampuni kalau yang seperti ini,” tegasnya.

Minimal 15 Supplier untuk Setiap SPPG

Nanik juga kembali mengingatkan ketentuan dalam petunjuk teknis bahwa setiap SPPG wajib memiliki minimal 15 supplier bahan pangan.

Ketentuan tersebut dibuat untuk mencegah dominasi pemasok tertentu yang berpotensi mengganggu kualitas dan distribusi bahan baku.

“Saya kemarin menemukan di Jakarta Timur masih ada yang hanya punya tiga sampai empat supplier. Itu disuspend. Minimal harus ada 15 supplier,” ujarnya.

Baca Juga: Fokus Benahi Kualitas Program MBG, 'Nyawa' Dapur SPPG di Tangan Pengawas Gizi dan Jurutama Masak

Selain itu, Pengawas Gizi diwajibkan hadir saat proses dropping bahan baku bersama Pengawas Keuangan untuk memastikan kualitas bahan yang diterima.

Menurut Nanik, proses penerimaan bahan pangan menjadi titik paling krusial dalam keamanan pangan Program MBG.

“Kalau anda melihat ayam yang datang sudah mulai kebiru-biruan, dan di dalam hati saja anda sudah ragu, langsung drop saja,” katanya.

Standar Baru Peralatan dan Tata Kelola Dapur

BGN juga tengah menyusun petunjuk teknis baru terkait standar peralatan dapur SPPG. Dalam aturan tersebut, gudang basah diwajibkan memiliki pendingin ruangan, freezer, chiller, dan showcase untuk menjaga kualitas bahan pangan. Selain itu, setiap SPPG nantinya diwajibkan memiliki mesin pemotong sayur, blender besar, mesin pengupas telur, oven besar, hingga vacuum sealer untuk menjaga higienitas makanan.

Nanik menyebut ke depan proses memasak juga diarahkan menggunakan deep frying dan tidak lagi memakai wajan konvensional.

Tak hanya itu, kendaraan distribusi MBG nantinya diwajibkan menggunakan pendingin udara agar makanan tetap berada dalam rantai dingin selama pengiriman.

Langkah tersebut dilakukan untuk menekan potensi insiden keamanan pangan sekaligus meningkatkan standar kualitas Program MBG di seluruh Indonesia.

EDITOR: Edy Pramana