JawaPos.com - Aktivis kemanusiaan asal Indonesia, Andi Angga Prasadewa, dilaporkan hilang kontak setelah kapal yang ditumpanginya dicegat oleh militer Israel (IDF) di perairan Siprus, Mediterania Timur. Angga merupakan salah satu relawan yang tergabung dalam misi kemanusiaan global, Global Sumud Flotilla (GSF) 2026.
Sebelum ditangkap oleh militer zionis, Angga sempat melaporkan situasi mencekam saat Kapal Josef yang ia tumpangi mulai dikepung oleh pesawat tanpa awak atau drone pengintai Israel.
Profil dan Rekam Jejak Andi Angga
Terpilihnya Andi Angga Prasadewa dalam misi berisiko tinggi ini bukan tanpa alasan. Angga adalah sosok senior di Rumah Zakat Action yang memiliki jam terbang tinggi. Ia dikenal sebagai relawan yang tangguh dan memiliki komitmen luar biasa di berbagai wilayah bencana maupun area konflik.
CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha, membeberkan karakter asli Angga yang dikenal disiplin namun tetap humoris di lapangan.
"Ya, jadi ini luar biasa, memang orangnya humoris gitu ya, tapi juga disiplin ya, dan memang memulai aktivitas dari ikut kerelawanan dari mulai dari dasar gitu ya sampai sekarang.Kurang lebih ada 12 tahun terlibat dalam kegiatan-kegiatan kerelawanan di Rumah Zakat," ujar Irvan kepada JawaPos.com, Selasa (19/5).
Sebelum bertolak dari Turki menggunakan Kapal Josef pada Kamis (14/5) lalu, Angga tercatat sangat aktif memimpin pergerakan relawan di Papua. Tidak hanya itu, ia juga terjun langsung menangani respons darurat di berbagai wilayah Indonesia, seperti Aceh dan Sumatera Barat.
Detik-Detik Mencekam Dikepung Drone Israel
Misi kemanusiaan yang membawa nama Indonesia ini sebenarnya dipantau ketat secara real-time melalui fasilitas CCTV yang terhubung ke command center di Istanbul dan Kuala Lumpur. Namun, situasi mulai memanas saat kapal mendekati wilayah konflik.
Melalui komunikasi terakhirnya, Angga melaporkan bahwa sejumlah drone militer Israel terbang rendah mengitari armada mereka.
"Nah, memang pada saat sudah melalui mendekati dari perairan Siprus, di antara Siprus dan Gaza tuh sudah mulai tuh, ya misalnya ada drone dan satu macam, gitu ya, berkabar. Jadi seperti itu update kondisinya," ungkap Irvan.
Ia menambahkan bahwa laporan mengenai kemunculan armada pengintai itu datang sesaat sebelum sistem darurat aktif.
"Ya, sempat ngasih kabar gitu ya, udah mulai dikelilingi (drone), kayak gitu ya. Dan segala macam, begitu. Jadi kan memang di setiap kapal ada kita pasang, gitu ya, apa namanya, CCTV. Ya, jadi itu command center bisa mengetahui gitu ya, perkembangan kapal di mana posisinya, terus kondisinya bagaimana di kapal itu. Itu bisa terlihat dari CCTV yang dipasang, kan gitu," lanjutnya.
Alarm SOS Berbunyi dan Kehilangan Kontak
Kekhawatiran tim di command center menjadi kenyataan pada sore hari. Alat pelacak menunjukkan bahwa Kapal Josef dihentikan paksa (intercept) oleh militer Israel. Sinyal darurat pun sempat menyala sebelum akhirnya komunikasi dengan Angga terputus total.
"Sampai kemarin sore, ya kemarin itu berarti jam 3 sore ya, mendapatkan kabar ada SOS alert ya. Dan akhirnya setelah itu udah hilang," katanya.
"Sebelumnya masih bisa ngasih kabar posisi kita selalu tanya kabarnya bagaimana, masih berhubungan, ya. Lihat itu, ya," sambung Irvan.
Pemerintah RI Kecam Penahanan 5 WNI oleh IDF
Aksi sepihak militer Israel langsung memicu reaksi keras dari Pemerintah Republik Indonesia. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) secara resmi mengecam penyanderaan para relawan dan mendesak pembebasan segera.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, mengonfirmasi bahwa ada lima Warga Negara Indonesia (WNI) dari total sembilan anggota Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang kini resmi ditahan oleh IDF.
Selain Andi Angga Prasadewa, terdapat empat WNI lain yang ikut menjadi korban intersepsi di kapal berbeda, yaitu Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, Thoudy Badai, dan Bambang Noroyono alias Abeng.
Baca Juga: RI hingga Spanyol Kecam Keras Serangan Israel Terhadap Aktivis Global Sumud Flotilla
"Kementerian Luar Negeri mengutuk keras tindakan militer Israel yang mencegat sejumlah kapal dan menangkap relawan WNI yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Summit Flotilla atau GSF 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur," tegas Yvonne Mewengkang.
Saat ini, pihak Kemlu bersama jaringan KBRI di berbagai negara terkait terus bersiaga untuk mengambil langkah hukum, menyiapkan dokumen perjalanan darurat, serta menggalang dukungan internasional untuk menekan Israel.