← Beranda
Viral Pernyataan Potongan Video JK soal Syahid saat Ceramah di UGM, Jubir Beri Penjelasan
Muhammad RidwanSenin, 13 April 2026 | 08.40 WIB
Wapres ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) saat memberi ceramah tarawih Ramadhan 1444 Hijriah di Masjid Kampus UGM, Jogjakarta, pada Kamis (5/3). (Dok/UGM)

 

 

JawaPos.com - Pernyataan Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) soal penjelasan syahid antara agama Islam dan Kristen viral di media sosial. Pernyataan itu diduga disampaikan Jusuf Kalla saat mengisi ceramah tarawih Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Kampus UGM, Jogjakarta, pada Kamis (5/3).

"Islam dan Kristen berpendapat, mati atau menewaskan orang, mati atau mematikan itu syahid. Semua pihak, Kristen juga berpikir begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid, kalau saya mati pun saya syahid," kata JK sebagaimana pernyataan viral di media sosial, dikutip Minggu (12/4).

Sementara, juru bicara JK, Husain Abdullah, menegaskan bahwa potongan video yang beredar tidak menggambarkan keseluruhan isi ceramah yang disampaikan. Menurutnya, terdapat potongan konteks pernyataan yang tidak utuh tersebar di media sosial.

Husain memastikan, JK tidak sedang memberikan khotbah soal ajaran teologi Kristen maupun Islam. Menurutnya, JK hanya menjrlaskan realitas sosiologis yang terjadi saat konflik bernuansa SARA di Poso dan Ambon pada awal masa reformasi.

"Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat konflik pecah. Pada masa itu, benar terjadi bahwa baik kelompok Islam maupun Kristen sama-sama menyerukan 'perang suci' dan mengklaim bahwa membunuh pihak lawan atau mati dalam pertempuran adalah syahid. Itu fakta sejarah, bukan pendapat pribadi Pak JK," tegas Husain.

Menurutnya, fakta tersebut dapat dikonfirmasi kepada para tokoh yang terlibat dalam proses perundingan damai konflik Poso dan Ambon.

Ia menegaskan, tujuan ceramah JK untuk mengkritik dan meluruskan pemahaman keliru di tengah konflik saat itu.

Ia menekankan, JK berupaya menjelaskan kepada kedua pihak bahwa kekerasan yang terjadi tidak dapat dibenarkan sebagai perang suci.

“Dalam banyak kesempatan, Pak JK menjelaskan bagaimana mengubah pemahaman kedua pihak bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah perang suci dan tidak akan membawa mereka ke surga, melainkan sebaliknya. Kekerasan yang terjadi sudah melampaui batas kemanusiaan karena menelan korban anak-anak, perempuan, dan orang tua,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, konflik Poso dan Ambon terjadi sekitar 27 tahun lalu atau tepatnya pada 1998-2001, yang dikenal sebagai konflik bernuansa SARA dengan menelan banyak korban jiwa. Dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, sekitar 2.000 orang tewas dalam konflik Poso dan sekitar 5.000 orang meninggal dalam konflik Ambon.

Baca Juga: Waketum PAN Minta JK Sampaikan Kritik Langsung kepada Presiden Prabowo

Upaya perdamaian kemudian dilakukan melalui perundingan yang dimediasi oleh JK. Kesepakatan damai dicapai melalui Perundingan Malino I untuk konflik Poso pada 2001 dan Perundingan Malino II untuk konflik Ambon pada 2002. Kedua perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan damai yang dikenal sebagai Deklarasi Malino. (*)

 

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan