← Beranda
Deforestasi dan Bencana Banjir Bandang di Sumatera
Nanda PrayogaJumat, 9 Januari 2026 | 14.00 WIB
ILUSTRASI PERKEBUNAN SAWIT. (DIMAS PRADIPTA/JAWAPOS.COM)

JawaPos.com - Bencana banjir bandang di tiga provinsi di Sumatera, yakni di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) kerap disebut sebagai bencana ekologis. Bencana itu dihubung-hubungkan dengan deforestasi yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Terutama deforestasi di daerah hulu sungai (DAS). 

Deforestasi ini juga dihubungkan dengan ada alih fungsi hutan dan lahan dengan jumlah cukup masif dan berlangsung selama bertahun-tahun. Perkebunan kelapa sawit dituding sebagai salah satu kontributor rusaknya lingkungan di hulu.

Di sisi lain, selama ini perkebunan kelapa sawit beserta industri turunannya menyumbang cukup besar terhadap devisa negara. Bahkan disebut sebagai penopang ekonomi di luar sektor non minyak dan gas (migas).

Baca Juga: Hitungan Jerome Polin Tunjukkan Deforestasi di Indonesia Sangat Mengerikan, Bisa Buat Bangun Jalan ke Bulan

INFOGRAFIS DEFORESTASI. (DIMAS PRADIPTA/JAWAPOS.COM)
INFOGRAFIS DEFORESTASI. (DIMAS PRADIPTA/JAWAPOS.COM)

Tingginya kontribusi sawit terhadap devisa bukan berarti pebisnis sawit serta merta tidak luput dari kealpaan dalam menjalankan bisnisnya dari hulu hingga hilir. Bisa saja ada kealpaan dari industri sehingga menggangu ekosistem lingkungan.  

Tim JawaPos.com mendalami pemicu yang terjadi di balik bencana alam yang mengakibatkan 1.178 orang meninggal dunia itu (sebagaimana data Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional/BNPB) pada 6 Januari 2026).

Infografis. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)
Infografis. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)

Baca Juga: Deforestasi di Sumatera Memakan Korban, Komeng Sempat Ingatkan Menhut Raja Juli Antoni untuk Jaga Hutan

Benarkah bencana banjir bandang di Sumatera akibat deforestasi terhadap sawit atau deforestasi lain, seperti tambang dan pembalakan liar? Semua akan dilihat dari berbagai perspektif. (*)

EDITOR: Ilham Safutra