← Beranda
8 Aspirasi Disampaikan Tokoh Agama saat Bertatap Muka dengan Presiden Prabowo
Hilmi SetiawanKamis, 4 September 2025 | 18.13 WIB
Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh agama di Jakarta pada Senin (1/9) malam. (Dok/MUI)

 

JawaPos.com-Usai demonstrasi akbar di Jakarta dan sejumlah daerah pekan lalu, Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan pemuka agama pada Senin (1/9) malam.

Di antara yang ikut dalam pertemuan itu adalah Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Iskandar.

Dia mengatakan ada delapan aspirasi atau masukan yang mereka sampaikan kepada Prabowo. "Perlu saya tegaskan di sini, pertemuan ini menjadi ruang penting bagi kami para ulama untuk menyampaikan pandangan secara langsung, jujur, dan terbuka," terangnya pada Selasa malam (3/9).

Lewat pertemuan itu, tokoh agama bukan sekadar mendengar, tetapi juga menyuarakan.Menurut dia, kehadirannya beserta tokoh agama lain bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga membawa amanat umat dengan sikap yang bertanggung jawab. "Kami sampaikan hal-hal yang menjadi kegelisahan dan harapan masyarakat secara lugas, langsung di hadapan para pemangku kebijakan," katanya.

Berikut ini adalah 8 aspirasi yang disampaikan para pemuka agama kepada Prabowo:

1. Kebebasan berbicara dan batasannya

Para pemuka agama menyampaikan bahwa kebebasan berbicara adalah hak asasi setiap warga negara yang sah dan dilindungi oleh konstitusi kita, UUD 1945.

Namun, perlu diingat, kebebasan ini bukanlah kebebasan yang tanpa batas. "Harus dilakukan dengan etika yang baik, sesuai aturan, dan tidak menimbulkan kerusakan," jelasnya.

 

2. Menolak kriminalitas dan vandalisme

Mereka juga menegaskan bahwa perbuatan anarkis seperti pengrusakan, penjarahan,dan vandalisme adalah tindakan kriminal yang tidak dibenarkan oleh agama maupun undang-undang.

Perbuatan semacam ini justru merusak tatanan sosial dan mengganggu ketertiban umum.

 

3. Dukungan untuk penegakan hukum yang profesional.

Anwar mengatakan MUI mendukung penuh kebijakan pemerintah untuk memulihkan keadaan dan menegakkan hukum. "Kami menekankan agar tindakan yang diambil haruslah profesional dan tidak represif. Hati-hati dalam bertindak, jangan sampai memicu masalah baru di tengah masyarakat," jelasnya.

 

4. Pejabat harus berhati-hati dalam ucapan dan perilaku

Mereka mengingatkan kepada seluruh pejabat negara, dari yang tertinggi hingga yang terendah, untuk menjaga ucapan, sikap, dan perilaku. Jangan sampai ada kata-kata atau tindakan yang bisa menyakiti hati rakyat.

Anwar menegaskan pejabat itu pelayan, bukan penguasa. Baginya, sikap empati dan mendengarkan keluhan rakyat adalah kunci dalam memimpin.

 

5. Mendesak pemerintah dan DPR agar tidak menyusahkan rakyat

Secara khusus, mereka mendesak pemerintah dan DPR agar tidak membuat aturan atau kebijakan yang hanya akan menyusahkan rakyat.

Setiap kebijakan harus dipertimbangkan matang-matang, apakah ia benar-benar bermanfaat bagi masyarakat atau justru menambah beban mereka. "Jangan sampai ada kebijakan yang justru terasa sebagai kebijakan zalim," jelasnya.

 

6. Komitmen serius untuk memberantas korupsi

MUI bersama majelis agama-agama lain mendesak pemerintah untuk bersungguh-sungguh dalam memberantas korupsi. Kemudian, kepada DPR, mereka mendesak untuk segera mengesahkan Undang-Undang Perampasan Aset Koruptor.

Bagi dia, upaya itu adalah langkah yang sangat penting untuk memberikan efek jera dan mengembalikan hak-hak rakyat yang dirampas oleh para koruptor.

 

7. Ajakan untuk persatuan dan introspeksi

Mereka mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersatu padu, menahan diri, dan melakukan muhasabah atau introspeksi masing-masing.

"Mari kita sama-sama memanjatkan doa agar bangsa ini selalu dalam lindungan-Nya," jelasnya.

 

8. Tradisi dialog yang positif

Anwar bersyukur respons dari Presiden sangat terbuka. Prabowo siap membuka dialog dengan para tokoh agama, bahkan berkeinginan untuk bertemu sebulan sekali.

Suasana pertemuan itu juga sangat terbuka, serta tidak ada yang ditutup-tutupi. "Kami bisa menyampaikan segala uneg-uneg dengan leluasa. Ini adalah bukti bahwa para pemimpin kita bersedia mendengarkan," tandasnya. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan