← Beranda
BMKG Ungkap Faktor Gempa Bumi yang Terjadi di Banten, Dirasakan Warga Kota dan Kabupaten Sukabumi
Rofia Ismania SartiRabu, 3 Januari 2024 | 20.26 WIB
Ilustrasi gempa bumi./ANTARA

JawaPos.com- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis informasi gempa berkekuatan 5,9 di Jawa Barat. Gempa tersebut berpusat di Kabupaten Bayan, Banten, pada Rabu (3/1) pukul 07.53 WIB.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengungkapkan  bahwa gempa berkekuatan magnitudo 5,9 yang terjadi di selatan Jawa Barat disebabkan adanya deformasi batuan dalam Lempeng dari Indo-Australia.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposentrumnya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi kedalaman menengah akibat adanya deformasi batuan dalam Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi ke bawah Lempeng Eurasia," kata dia.

Baca Juga: BMKG Pastikan Gempa Bumi Magnitudo 5,9 di Bayah Banten Tak Berpotensi Tsunami

Daryono menambahkan bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser-naik atau oblique thrust.

Episenter gempa berpusat pada koordinat 7,57 lintang selatan dan 106,17 bujur timur, tepatnya berlokasi di laut dengan jarak 77 Km arah barat daya Sukabumi, Jawa Barat. Gempa terjadi di kedalaman 63 km.

Sehingga gempa bumi itu berdampak dan dirasakan di daerah Surade, Sukabumi dengan skala intensitas IV MMI (modified mercalli intensity). Artinya gempa dapat dirasakan oleh seseorang yang berada di dalam rumah, pada siang hari.

Baca Juga: Update Terbaru! Korban Meninggal Akibat Gempa Jepang Mencapai 62 Orang, 114 WNI Kini di Shelter Pengungsian

Gempa juga dirasakan di daerah Pelabuhan Ratu, Cianjur, Panggarangan, Lebak, Garut, dengan skala intensitas III MMI. Artinya bahwa getaran gempa yang dirasakan nyata di dalam rumah. Dan siapapun yang berkendara akan merasakan getarannya.

Kemudian, daerah Lembang, Bandung Barat, Cimahi dengan skala intensitas II-III MMI sama dengan intensitas III MMI. Getaran juga dirasakan di Tangerang Selatan dengan skala intensitas II MMI, yang artinya getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," katanya.

Baca Juga: 48 Orang Dikonfirmasi Tewas dalam Gempa Bumi yang Mengguncang Jepang

Ia mengimbau kepada masyarakat agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

"Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa  ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah," tuturnya

Ia juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

DisisI lain, pihak BMKG Sukabumi juga telah melakukan upaya pemantauan pasca gempa. Hal ini dilakukan untuk mengetahui dampak yang terjadi terhadap kerusakan.

"Kami masih memantau kondisi pasca-gempa apakah ada kerusakan atau tidak," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi Novian Rahmat.

EDITOR: Nicolaus