← Beranda
Pemerintah Petakan Kebutuhan Suplai Oksigen di Daerah
Ilham Safutra• Minggu, 25 Juli 2021 | 19.04 WIB
BANTUAN DARI SEBERANG: Kapal AL India Airavat yang membawa bantuan medis tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (24/7). India mengirim 300 konsentrator oksigen dan 100 metrik oksigen medis cair untuk Indonesia. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)
JawaPos.com - Pemerintah merespons kelangkaan oksigen di Bali. Tambahan suplai oksigen dikirim dari Jakarta dan Surabaya.

Jubir Kemenko Maritim dan Investasi Jodi Mahardi menyatakan, kelangkaan oksigen di Bali telah dimintakan atensi ke berbagai pihak yang berwenang.

Sebanyak 50 unit tambahan konsentrator oksigen yang berkapasitas 10 liter per menit (LPM) berangkat pada 23 Juli malam hari dari Jakarta ke Bali.

"Kemudian, tanggal 25 Juli, akan dikirim dari Tanjung Perak dua isotank," jelas Jodi kemarin (24/7). Dua isotank itu berisi oksigen cair dengan kapasitas 40 ton.

Jumat (23/7), Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dalam rapat koordinasi bersama Menko Kemaritiman dan Investasi mengungkapkan kendala penanganan Covid-19 di Bali. Salah satunya, ketersediaan oksigen yang kian menipis.

Dilansir Radar Bali, Direktur RSUP Sanglah dr I Wayan Sudana menjelaskan, kasus positif di Bali yang belum menunjukkan penurunan berdampak pada kebutuhan oksigen. RSUP Sanglah setiap hari membutuhkan 8 ton oksigen. Selain itu, tempat tidur pasien Covid-19 di RS tersebut hampir penuh. Tingkat keterisiannya 79,4 persen.

Terkait kelangkaan oksigen di beberapa daerah, khususnya Bali, Direktur Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Fridy Juwono menduga hal itu dipicu keterlambatan distribusi. "Kalau tidak salah, di Bali memang tidak ada pabriknya (gas oksigen, Red). Selama ini kirim dari Surabaya, Jawa Timur," ujarnya kepada Jawa Pos kemarin.

Fridy melanjutkan, permintaan gas oksigen di masa pandemi sangat dinamis. Dalam kondisi pertambahan kasus yang masih masif, permintaan gas oksigen ikut melesat. Karena itu, meski Kemenperin menyampaikan bahwa produksi oksigen telah ditambah 922,9 ton per hari sejak 7 Juli 2021, demand di lapangan tetap berpotensi naik.

Baca juga: RS Kewalahan Tangani Covid-19, Layanan IGD Dihentikan Sementara

"Memang, antara supply dan demand sedang mepet. Kami masih punya stok, tapi tidak menjamin bebas kendala. Bisa jadi pendistribusiannya nggak ngejar. Apalagi, untuk distribusi oksigen ini, truknya khusus," tegasnya.

Sebagai tindak lanjut dari laporan kelangkaan tersebut, pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk meng-update dan melakukan mapping kebutuhan suplai oksigen.
EDITOR: Ilham Safutra